Selasa, 20 Oktober 2015

CITRA

Nicko Pratama






Lampu kota sudah menyalah, mengiringi para pengguna jalan untuk menerangkan dari kegelapan dan menenangkan dari rasa takut akan perampokan di tengah jalan. Bau minyak wangi sudah habis juga, akibat asap pekat dari metro mini malam hari.



Aku mahasiswa tingkat akhir, menjalani perkuliahan seperti Mahasiswa lainnya di Jurusan Seni Rupa, di salah satu Institusi di Jakarta. Seperti biasa aku pulang pada larut malam, bukan lembur karena rapat untuk kepentingan organisasi. Aku seorang pekerja lepas untuk jasa transportasi darat yang saat ini sedang hangat diperbincangkan. Bermodalkan motor yang aku cicil beberapa bulan ─ dibantu orang tua. Pikirku, sudah tingkat akhir dan tinggal menjalani beberapa syarat untuk menuntaskan perkuliahan dan mendapat gelar sarjana, yang diinginkan orang tuaku. Selepas mengantar penumpang yang kebetulan satu arah menuju kampusku, aku bertanya ke salah seorang teman melalui media sosial, untuk tahu ada siapa saja yang masih setia menunggu pendopo. “Ke sini aje, masih rame kok di pendopo.” Ia membalasnya. Sembari menunggu kemacetan berakhir, berdiskusi atau membicarakan hal yang tidak penting dengan teman kampusku sering dilakukan. Membicarakan tentang dosen A atau B, bahkan bercerita tentang gadis yang sedang kita sukai. Segelas kopi, satu bungkus rokok selalu menjadi penghangat di malam hari.

Sudah jam 10 malam, berjalan seorang diri menuju lantai 4 parkiran. Ternyata masih ada kemacetan di jalan arah menuju rumah. Memutar balik arah ─ sedikit lebih jauh, namun tidak ada kemacetan. Di tengah perjalanan, aku melintasi sebuah tempat lokalisasi. Banyak sekali PSK(Pekerja Seks Komersial) yang berdiri di pinggir jalan, di depan pagar belakang taman. Aku penasaran, banyak sekali wanita. Dari muda, setengah tua(berkisar umur 35 tahun) bahkan ada yang sudah berumur 45 tahun. Dan yang lebih mengagetkanku, ada wanita yang sedang hamil, namun tetap melayani para tamu. Aku-pun semakin penasaran dengan wanita yang menjajakan tubuhnya dengan harga yang belum ku ketahui ini.

Di tempat lokalisasi, banyak pedagang yang berjualan di sekitaran berdirinya wanita. Dari tukang kopi, rokok, pelindung kepala, lampu motor untuk bergaya, gorengan, dan tukang kacang yang sudah langka ditemukan.

Motor aku pinggirkan dan membakar sebatang rokok, berniat ingin tahu harga yang mereka tawarkan. Belum ada yang menghampiriku selama aku menghisap sebatang rokok. Rokok sudah habis, tidak ada yang menghampiriku. Ketika berniat untuk pulang, seorang wanita datang dan menyapa. Tanpa banyak bicara aku langsung bertanya berapa harganya untuk satu malam.

“350 ribu sudah sama hotel Sayang.” Kata wanita itu.

“Apa tidak bisa kurang? 200 ribu saja bagaimana? Bisa?

“Bisa kok, tapi belum termasuk hotel, ya paling hotel hanya 50 ribu. Kalau mau, kita langsung berangkat. Hotelnya dekat kok, tidak jauh dari sini.”

Seperti barang yang diperjual belikan, bebas tawar menawar itu terjadi. Sebelum kita berangkat menuju hotel yang ia janjikan, aku membakar sebatang rokok. Aku tawari dia, dan meminjamkan pemantik api.

Di perjalanan menuju hotel aku merasa ada yang berbeda dari wanita yang aku ajak untuk bercumbu satu malam ini. Sesampainya di hotel, wanita itu langsung mengambil kunci kamar dari petugas hotel. Senyuman lirih petugas hotel seperti mengejekku. Tidak banyak para pemuda sepertiku yang ada di sana. Bahkan, kalau dilihat dari wajahnya ─ ada yang berumur sekitar 40 tahun. Aku masuk ke dalam kamar hotel. Menaruh tas di atas kasur dan membuka jaket. Sebelumnya ia meminta kartu identitas-ku untuk menyewa hotel yang akan menjadi tempat bercumbu. Ada uang tambahan, untuk membeli pengaman, dengan harga sepuluh ribu rupiah. Seusai itu, pintu dikunci rapat, agar tidak ada seorang-pun yang melihat dan masuk tanpa mengetuk. Wanita itu menyiapkan segalanya. Dari mulai menyalahkan televisi, pendingin ruangan, dan pengaman saat bercumbu nanti.

“Aku ingin cuci muka terlebih dahulu.” Kataku.

“Jangan terlalu lama, nanti aku menjadi bosan.”

“Kau sudah aku bayar, jadi apapun yang aku lakukan kau harus terima.”

Di dalam kamar mandi aku melihat sebuah cermin, menatap ke dalam mataku. Apa ada kotoran yang terselip. Selesai mencuci muka, aku hampiri wanita itu. Tanpa busana, tanpa sehelai benang yang ada di tubuhnya. Lekuk tubuhnya indah. Ada tattoo di punggung, lengan, dan kaki.

“Umar, siapa namamu?”

“Citra, yaudah langsung saja. Sudah cuci muka kan? Jangan terlalu lama.”

“Sebentar, aku membuka sepatuku terlebih dahulu.”

Citra memang sudah ahli, tanpa banyak bicara dia langsung memelukku dan ingin mencium bibirku. Aku melepaskannya dan ingin menghabiskan waktu lebih lama dengannya. Lagi, dia berusaha mendekatkan payudaranya ke arah wajahku. Aku menghindar, bukan berarti aku tidak suka dengan wanita dan juga bukan berarti aku seorang ahli agama yang seketika ingin mentaubatkan dia secara tiba-tiba.

“Kita tidak perlu berbuat seperti ini. Kenakan lagi pakaianmu.”

“Lho? Jadi untuk apa kamu membayar aku kalau bukan untuk bercumbu denganku? Apa kau tidak normal? Aku bisa panggilkan teman waria (Wanita Pria)-ku untuk menggantikan aku. Tenang, tidak perlu menambah biaya.”

Aku mengambil sebuah buku, dan sekali lagi aku memerintahkannya untuk mengenakan pakaiannya lagi. Setelah dia memakainya, aku lihat ada yang berbeda dari Citra.

“Coba kamu berdiri di samping ranjang tidur itu.”

“Untuk apa?” Jangan main-main.”

“Aku sudah membayarmu, jadi apapun yang aku mau kau harus ikuti perintahku.”

Setelah dia berdiri di samping ranjang tidur, aku mengambil sebuah pensil. Aku mengabadikannya dengan menggambarnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Semua bagian tubuhnya yang memakai busana. 1 Jam aku menggambarnya, dia terlihat lelah. Aku memerintahkannya untuk duduk. Terlihat sangat lelah, aku memanggil petugas hotel. Untuk membeli minuman untuknya.

Citra seolah tidak mengerti, mengapa aku tidak mau bercumbu dengannya. Tetapi hanya menggambar dia dan juga kenapa tidak difoto saja dengan gawai yang aku punya.

“Sudah selesai, kamu cantik sekali Cit.”

“Mengapa kau menggambarku? Apa aku kurang menarik, sehingga kamu tidak mau bercumbu denganku? Dan juga, kan kamu membawa handphone. Kenapa tidak difoto saja? Kenapa juga harus susah payah menggambar?”

“Kau sangat cantik, bukan berarti aku tidak mau berhubungan intim denganmu. Melainkan kecantikanmu sangat mahal bagiku, sehingga sebuah foto bisa saja terhapus oleh virus di handphone-ku.”

“Lho tapi kan kalau nanti kamu kehujanan bukumu basah, ya pasti gambarmu juga rusak, bahkan hancur.”

“Aku seorang Mahasiswa Seni Rupa. Jadi, wajar saja jika aku menggambarmu. Kau hanya sebatas objek saja. Untuk penambah koleksi gambarku.

“Terserah kamu aja ya Mar, kalau kita sudah selesai aku akan keluar dari kamar ini. Terima kasih atas lelucon ini. Udah bayar tapi malah ngegambar.”

Citra memang sosok PSK Hyper Sex, dengan kata lain haus akan melakukan cumbu. Buktinya saja, ketika baru masuk kamar. Dia langsung membuka bajunya dan tidak ingin lama-lama di kamar. Sebab ini hari kamis, banyak tamu biasanya yang datang menghampirinya.

Namun, tetap saja aku tidak ingin bercumbu dengannya. Sebab dia bukan pasangan halalku. Dan aku membayarnya bukan untuk bercumbu secara cepat, selepas itu pergi dan tidak ingat apa yang terjadi. Aku membayarnya, sama saja seperti model-model objek lukisku. Butuh tenaga untuk bergaya yang aku inginkan. Jadi, sangat tidak mungkin, jika aku tidak membayarnya.

Aku keluar dari kamar hotel, bertanya kepada petugas hotel berapa harga yang harus aku bayar untuk 2 jam. Petugas hotel itu memberi bukti pembayaran kamar hotel yang sudah lunas. Dan juga uangku yang tadinya kuberikan kepada Citra ─ dikembalikan setengahnya. Dengan sebuah catatan. “Terima kasih, ternyata kau orang baik, jaga baik-baik gambarku.” Sudah pukul 1 dini hari, aku lanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Sebelum berangkat, aku membakar sebatang rokok terakhirku untuk perjalanan pulang. Dan sebatang rokok yang aku nyalahkan ini, menjadi penghantar imaji akan Citra yang aku bayangkan di atap rumah.

Rabu, 24 Juni 2015

Hilang...



Sinar senja sore hari, sampai terang rembulan malam ini. Kau masih bersama-ku. Di sini, menemani akan bayang masa depan yang kau janjikan. Setiap pagi, kau berdiri tegak di depan pagar rumahku. Tak tahu, untuk apa kau berbuat hal seperti itu. Romantis memang, untuk setiap orang. Untuk setiap insan yang haus akan cinta dan rindu yang menggebu. Tidak bagiku, yang tlah hilang akan perasaan cinta dan rindu.

Jon, nama pria muda itu. Dengan kumis dan janggut yang menempel di wajahnya. Yang selalu hadir di setiap pagi itu, Jon. Ku-ulang nama itu, terus, terus, dan terus. Karena Jon, Jon, dan Jon. Pria yang selalu membawa surat berisikan nama-ku. Put. Tidak ada isi, tidak ada bentuk, tidak terstruktur juga. Berisikan nama-ku. “Put.” Dan tertulis juga namanya “Jon.”

Ajaib, karena tak ada pria seperti Jon. Terlalu menggandrungi, dan terlalu menggilai. Berbuat indah. Itulah hal yang kupahami setelah beberapa lama kupelajari akan maksud Jon berdiri tegak dan membawa surat berisikan nama-ku.

Pagi. Sebelum Jon berdiri tegak di depan pagar rumahku. Aku mendahuluinya, dengan cara menyelinap di semak dedaunan taman rumahku. Melihat jam di tangan kiri-ku, pukul 6 pagi hari─yang ku-ingat saat itu. Jon datang. Tapi tidak seperti hari-hari sebelumnya. Yang hanya membawa surat berisikan nama-ku. Kali ini ia membawa sebuah kotak, berbungkus rapih, tertata seperti hadiah di perayaan hari lahir lainnya. Berwarna hijau, bergariskan merah. Bergumam saat itu “dalam hal pemilihan warna saja dia tidak becus, bagaimana dalam hal lainnya.”

“Hei kau!” Keras ucapanku saat itu.

“Siapa? Aku?”

“Iya, mau apa datang setiap pagi dan membawa surat?”

“Aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh.”

“Tidak seperti ini caranya, berlebih. Kau pikir aku tersanjung? Dengan caramu menjadikan aku sebagai seorang yang kau puja bagai Dewa-Dewa di zaman dahulu kala. Tidak sama sekali.”

Percakapan berlangsung, hingga pagi itu yang semula aku hanya ingin menyapa dan bertanya “untuk apa?” berlanjut hingga malam. Ternyata Jon tidak seburuk dan berlebih seperti yang ku kira. Melantunkan ucapan-ucapan yang menggelikan, membuat aku tertawa di bawah rembulan berlatarkan taman asoka di pinggir kota.

Diakronis percakapan yang kubuat. Sehingga pada masa kita bertemu, berkenalan, hingga saat ini kau masih menganggapku hanya sebatas teman ku gabungkan dan ku tata di buku catatan kecilku. “aku ingin lebih dari ini, lebih dari sekadar pertemanan.” Tulisan yang kubuat di dinding kamarku.

Tidak banyak percakapan yang kita lakukan, tetapi ucapan-ucapanmu akan sebuah negeri yang indah, aman, dan nyaman itulah yang membuat ku selalu tertawa. Tertawa, karena kau selalu menceritakan negeri indahmu itu dengan sentilan-sentilan leluconmu. Kau bilang “kenapa burung garuda yang di jadikan simbol negeri ini? Kenapa tidak burung beo saja? Jadi, sama persis dengan insan di negeri ini. Selalu mengikuti ucapan-ucapan dari yang punyanya.”



****



Sinar senja saat itu, tak bisa menggantikan hangat pelukanmu. “ah, hiperbolis sekali kata-kata yang ku ucapkan tadi.” Gumamku.

“Put.” Jon yang datang menghampiriku di tengah keramaian taman asoka.

“Iya Jon? Ada apa? Apa lagi guyonan yang ingin kau ucapkan?”

“Tidak Put, tak mengapa.”

“Kau aneh sekali Jon. Sangat aneh!”

Lampu taman, bangku taman, hingga kaca-kaca besar yang membuat pergantian waktu dari sore hingga malam ini indah rupanya. Kau juga mengabadikan foto kita ber-dua. Meminta bantuan dari seorang tukang kopi yang tak tahu─untuk memfoto, harus menyentuh tombol yang mana? Aku tertawa saat itu, karena sudah beberapa kali Jon memberi tahu, tombol yang mana yang harus di tekan untuk memfoto. Tetapi tetap saja tukang kopi itu tidak mengerti.

“Wah Mas, kok mati-mati mulu ya handphone-nya?” dengan dialek Jawa.

Jon dengan sabar mengajarkan. Satu kali benar dia menyentuhnya, tetapi hasilnya sangat lucu. Blur di semua bagian, wajah Aku dan Jon tidak terlihat. Buram.

30 menit waktu untuk menghasilkan foto yang sempurna. 15 foto yang dihasilkan, hanya 5 foto yang sempurna. Jon hanya tertawa dan tersenyum sambil berkata. “Yasudah, tidak apa-apa. Kan masih ada waktu lain. Lagipula, kita kan sering bertemu.”

Pagi, dan Jon tidak datang, ku coba untuk menghubunginya. Tidak di angkat, mengirim pesan melalui sosial media. Tetapi tidak ada jawaban. Siang, sebenarnya ada sebuah acara. Dan Jon berjanji untuk datang dalam acara itu. Wisudaku. Jon tidak juga hadir, sampai acara selesai. Tidak juga ada kabar darinya, pesan-pesanku juga belum dibuka olehnya. “kemana dia? Apa dia sakit? Karena terlalu lelah mengerjakan tugas akhirnya?” gumamku di dalam mobil, menuju pulang ke rumah.

Malam, meminjam mobil Ayahku untuk datang ke rumah Jon yang jaraknya terlalu jauh untuk berjalan kaki. Di sepanjang jalan, hanya ada lagu-lagu sendu bercampur rindu yang terlantun dari sebuah radio. Kumatikan, dan fokus pada perjalanan menuju rumah Jon. 2 jam perjalanan. Gelap, seperti tidak berpenghuni rumah itu. Seperti rumah penyihir di buku-buku fiksi terbitan luar.

Ada papan, dan ada garis kuning yang diberi oleh para polisi. Papan bertuliskan “Rumah ini disita oleh bank, karena korupsi” jika memang rumah itu disita? Lalu kemana Jon pergi? Mengapa dia tak memberi kabar? “Atau mungkin dia sedang menenangkan diri, karena masalah ini.” Ucapku seorang diri.

Beberapa bulan, setelah kepergian misterius Jon, dia datang dengan cara misterius, dan pergi secara misterius. Apa harus ku hubungi seorang detektif seperti di buku-buku fiksi terbitan luar itu? Agar aku tahu kemana Jon pergi?

Malam, satu tahun kepergian Jon. Setelah pulang dari kerjaku, di pinggir jalan terlihat keramaian dari sebuah rumah makan. Rumah makan yang sangat ramai, strategis akan tempat, dekat sebuah stasiun dan dekat dari sebuah terminal. Ada hiburan di rumah makan itu. Seorang wanita, bernyanyi diiringi seorang pria yang memainkan gitar. Merdu, dan permainan gitarnya sangat harmonis. Apalagi saat mereka berdua berpelukan setelah memainkan sebuah lagu. Damai sekali suasana saat ini. Andai Jon berada di sini, pasti akan lebih romantis.

Setelah makanku selesai, sebelum ku pergi dari rumah makan. Aku ingin mengajak penghibur di rumah makan itu untuk bermain di tempat kerjaku. Teringat tempat kerjaku akan mengadakan sebuah acara. Dan aku ingin penghibur di rumah makan itu, ikut meramaikan acara.

“Selamat malam, apa kita bisa berbicara sebentar? Aku Put.”

“Oh iya, Ada apa ya? Aku Jim. Kenalkan ini Eca, istriku.” Kata lelaki itu.

“Put?” wanita itu memanggilku.

“Kau mengenalku? Dari mana kau tahu namaku?”

“Kau mengenalnya?” Kata lelaki itu.

Wanita itu menyentuh tanganku, hangat genggamannya. Tidak normal untuk seorang wanita yang menyentuh hangat wanita lainnya. “Aku Jon, Put. Kau ingat aku? Kemana saja kau? Aku mencarimu selama ini?”

“Jon? Kau gila! Kau ini wanita, sedangkan Jon pria, dasar wanita gila!”

Wanita itu mengajak-ku berbicara berdua, dia bercerita sepenuhnya. Ternyata benar dia Jon. Dia bercerita, saat itu, saat rumahnya disita oleh bank, dia malu, tidak berani untuk menunjukkan dirinya. Setiap kali ia pergi, ia dikucilkan oleh orang yang dikenalnya. Dia pergi ke luar negeri, untuk bekerja di sana. Uang yang terkumpul ia gunakan untuk operasi kelaminnya. Pikirnya, jika ia berganti jenis kelamin. Pasti ia tidak dikenali oleh semua orang.

Ah Jon, kau ini sangat misterius. Datang di saat pagi dan seolah menyembah-ku bagai Dewa. Menemaniku selama beberapa waktu. Hilang selama satu tahun. Dan kini kau sudah beda, berganti nama menjadi Eca, dan mengenalkanku dengan seorang pria.. Jon, andai kau tahu. Hanya kau yang ku ingin. Beberapa pria yang ku kenal, tak sehebat dirimu. Jon.









Aku Put, senang berjumpa denganmu Eca.





Nicko



2015

Jumpa



Malam, berjumpa denganmu

Sekian lama tak bertemu.

Rasamu, masih saja seperti dahulu yang selalu

Ku rindu di setiap penghantar tidurku.

Lama, tak berjumpa dan Tuhan masih

Memberiku waktu untuk menjumpaimu, sebelum ku tahu

Kau akan berpunyakan seseorang.

Ah. Hanya harum aroma tawamu, yang

Masih melekat hangat di telingaku.

Tuhan tahu apa yang kau mau, dan apa yang ku mau.

Bukan sekadar sajak yang ku tulis ini, melainkan

Hal lebih yang kau cari.

Andai, sebuah kisah dapat berbuah manis

Seperti sebuah kisah fiktif belaka. Indah nampaknya.

Jadi, apa yang kau tunggu? Sajakku yang mendayu-dayu

Bagai lagu melayu?







2015

Minggu, 17 Mei 2015

Negeri


N.P.S





Pagi itu, sebuah media masa memberitakan tentang sebuah peringatan penting. Tentang sebuah solidaritas antar dua benua. Sekitar 29 Negara yang mewakili setengah penduduk di dunia betujuan untuk mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan dua benua serta melawan kolonialisme atau neokolonialisme dan juga imperialisme atas negara-negara bagian Barat. Sejak pertama kali pada tahun 1955 di adakan di Negeri ini. Dan pada 2005 diadakan peringatan yang ke-2 kalinya. Kini pada tahun 2015 Negeri ini memperingati peringatan yang sudah terjalin selama 60 tahun. Tertulis pada kabar berita: Semua masyarakat dihimbau memulai aktivitas lebih pagi. Berangkat kerja, dan aktivitas lainnya. Dan pulang lebih malam, dikarenakan acara peringatan itu akan membuat macet kota ini. Banyak jalan-jalan yang ditutup dan dialihkan.

“Hey pak tua sedang apa berdiri menatap gedung itu?” Ucap salah satu petugas keamanan dengan senjata beratnya.

“Tidak pak. Aku hanya ingin tahu saja bagaimana pelaksaan peringatan tahun ini.” Dengan gemetar dan gagap Pak tua itu menjawab.

“Mau tahu apa? Kau ini sudah tua, untuk apa tahu tentang hal ini! Lebih baik kau pulang saja, berdoa kepada Tuhan. Kelak kau akan dipanggil, sudah siap dengan semua pertanyaan-pertanyaan.”

“Megah sekali perayaannya. Sampai-sampai semua seniman di Negeri ini diikut sertakan dalam memeriahkan acara peringatan ini. Andai saja aku masih semuda dulu, pasti Aku akan ikut serta dalam perayaan ini.” Bergumam dalam hati Pak tua itu.

Sesekali menengok ke gedung tersebut, dan sesekali juga Pak tua itu ditegur oleh petugas keamanan. Sambil menyalakan sebatang rokok Pak tua itu tetap saja berdiri tegak melihat gedung itu. Disampingnya ada dua Mahasiswi cantik─putih, tak memakai dalaman nampaknya. Berpoto-poto ria, mewancarai petugas keamanan di sekitaran gedung. Bertanya-tanya pada petugas keamanan. Dan mereka menjawab semua pertanyaan dengan senang hati. Tak ada teguran seperti yang diberikan kepada Pak tua itu.

“Ada apa Pak tua?! Masih saja Kau berdiam diri seperti patung di sana. Pulang sana, cucumu mungkin sudah menunggu.

Dua mahasiswi itu merasa miris dengan perlakuan petugas keamanan terhadap Pak tua. Lusuh penampilannya, tak menarik pula. Sandal jepit butut alas kakinya, memakai topi kodok seperti seorang seniman, memakai celana bahan hitam agak lebar di bagian bawah. Dan memakai batik, indah. Cokelat bergaris hitam.

Langit mulai berdarah. Menurunkan hujan. Bau amis di depan rumah Pak tua itu juga tercium sampai beberapa rumah lainnya. Ah tidak, ternyata itu hanya bau terasi yang dimasak istrinya.

“Kau melamun Pak?”

“Tidak.”

“Kalau kau punya masalah, ceritakanlah padaku. Jangan seperti ini! Diam merenung tidak jelas,”

“Sudah Aku bilang, Aku tidak apa-apa!”

“Boleh aku ikut memikirkan apa yang sedang kau pikirkan?”

“Tidak, aku tidak apa-apa. Aku sudah sangat senang dengan hidupku sekarang ini. Anak-anakku sudah mempunyai pendamping hidupnya, serta mempunyai pekerjaan dan tempat tinggal yang nyaman. Cucu-cucuku juga sangat sayang kepadaku. Untuk apa aku memikirkan sesuatu lagi. Sudahlah! Kau ini banyak bertanya! Tidak usah memperdulikanku!”

“Tidak usah membentakku. Aku ini istrimu, kenapa kau mengucapkan kata-kata dengan nada yang tinggi?”

“Sudah! Tugasmu hanya didapur. Cepat buatkan aku segelas kopi dan pisang goreng.”

“Yasudah. Maafkan.”

Bus yang ditunggunya tiba, membeli tiket kepada tukang catut. Berdesakkan, karena hari peringatan itu semua orang menjadi kacau. Menjadi binatang. “Hei Pak tua, kenapa kau mendorongku? Mau mencopet kau?!”

“Tidak, aku tidak mendorongmu.” Dengan gemetar ia berucap.

“Alah! Banyak bicara kau!”

Ditinju Pak tua itu dengan tangan besarnya, semua orang menjadi kacau. Berlarian tidak jelas, ada juga yang memaanfaatkan dengan mencopet dan menodong. Ada juga yang ikut serta menghakimi Pak tua itu. Doa, dan mengucap nama Tuhannya-lah yang bisa di ucapkan Pak tua saat itu. Seorang tentara datang untuk melihat ada kejadian apa di terminal yang di awasinya. Para tentara itu datang dengan senjata berat di pundak kirinya. Beriringan, kakinya-pun seperti sudah terlatih.

“Ada apa ini? Kalian tidak tahu, para utusan dari Negara lain sebentar lagi akan datang!”

Semua orang seperti menghiraukan ucapan para tentara itu. Terus saja menghantamkan bogem mentah kepada Pak tua. Meski Pak tua sudah meringis kesakitan dan meminta ampun dan bersumpah tidak ada niat untuk mencopet─tetap saja mereka tidak mempedulikannya.
Sebuah tembakan peringatan di tembakan seorang tentara ke udara.”

“Berhenti!”

Semua orang langsung merunduk, melepaskan Pak tua itu. Dibawa Pak tua itu ke pos keamanan untuk menanyakan sebenarnya apa niat Pak tua itu. Dengan tangan yang sudah berdarah tetap saja para tentara itu memborgolnya. Seakan-akan Pak tua itu memang sudah dinyatakan bersalah.

“Sebenarnya apa niatmu Pak tua!”

“Aku hanya ingin pulang.”

“Bohong! Jawab yang sesungguhnya! Kalau tidak akan aku penjarakan kau.”

Pak tua itu berdiam diri. Menatap lurus ke hadapan gedung yang akan dijadikan tempat peringatan 60 tahun itu berlangsung. Dan seketika Pak tua itu berucap dengan tertawa lirih di hadapan para tentara yang menanyakannya.

“Aku hanya bingung. Aku. Aku yang hidup lebih dahulu dibandingkan kalian yang hanya tinggal menikmati indahnya Negeri ini. Kalian yang tidak tahu arti dari hari peringatan yang kalian jaga saat ini. Kalian seperti wayang yang hanya dimainkan oleh dalang. Nurut saja, apa yang dikatakan para petinggi kalian. Kalian yang mengawasi bangsa kalian sendiri dengan senjata berat kalian dan mobil-mobil tempur dengan lapisan baja. Mempunyai rasa takut. Rasa takut akan bangsa sendiri yang mengancam keselamatan para utusan yang datang ke Negeri ini. Sedangkan kalian rela mati-matian. Mengorbankan nyawa kalian demi bangsa lain, yang hanya menetap tiga hari di Negeri ini. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran kalian. Hanya imbalan dan pangkat sajakah?”

“Kau ini bicara apa? Penjarakan dia! Sudah gila! Pasti dia teroris! Dia mengancam! Penjarakan dia!”



Wangi Mahasiswi cantik yang melintas di depan Pak tua itu menyadarkannya dari lamunan. Dan beberapa jam lagi acara peringatan itu dimulai. Pak tua itu melangkah pulang dan membaca surat kabar jika seorang lelaki tua dihakimi masa karena dituduh mencopet dan dipenjarakan karena dituduh mengancam bangsanya.

Biru Bukan Merah






N



Ada lagi yang mati, tak bisa terhitung berapa jumlahnya

Ada lagi yang mati, bukan Dia. Tetapi dia, dia, dia, dan dia

Siang itu di depan istana garuda, terpanggang matahari nampaknya

Tapi tidak kekuningan seperti sebuah partai negeri ini

Tidak. Tidak kehijauan seperti pepohonan yang ditebang hingga tinggal

Kecokelatan. Di antara barisan serdadu, Dia tampak gagah berwarnakan biru.

Di antara barisan serdadu, dia merasa gagah dengan ikat

Putih di kepalanya. Dan di antara para jenderal yang

Duduk mengangkang dengan senapan bulat berisikan

Rupiah, rupiah, dan rupiah. Dia tampak gagah berorasi

Di depan istana garuda.



Siang itu, ada lagi yang mati, tak terhitung berapa jumlahnya

Hanya isak tangis yang terdengar dari suara ambulance

Yang berjalan beriringan, mengantar dia, dia, dia, dan dia.

Bukan merah yang kuingat saat itu. Biru, yang berbaris

Seperti para serdadu untuk menjaga dia, dia,dia dan dia

Ke tempat peristirahatan.












Jakarta,

2015

Senin, 16 Maret 2015

2000:2230


N.





“Harum tubuhmu masih melekat di tubuhku Rob.”

“Oh ya? Mungkin itu perasaan-mu saja Sih.”

“Tidak Rob, aku selalu ingat saat kau memeluk indah tubuh hinaku ini.”

Sih, indah parasmu tak terganti oleh bias bulan di malam itu. Kau melantunkan nama hinaku. Kau bilang lekuk tubuhhmu hina. Tidak bagiku. Anugerah sekali rasanya tuhan menciptakan kau dengan lekuk indah seperti Sinta dalam Ramayana. Memang, aku belum pernah bertemu akan sosok Sinta di kehidupan sebenarnya. Tapi, dari bualan-bualan yang dilantunkan oleh para terdahulu. Makin kagumlah aku akan sosok Sinta.

Aku memanggilmu Sih. Terlalu panjang rasanya jika ku panggil kau dengan Sukaesih. Tak indah juga jika ku panggil kau dengan Su. Atau Esih. Sih, lebih cocok untukmu. Dan aku Rob, lelaki Batavia yang tinggal di samping lorong dekat tempat ibadah warga tionghoa. Kita pernah satu sekolah semasa SMA dulu. Kau mungkin tak ingat akan rupaku. Terlalu sibuk mungkin kau akan lelakimu saat di SMA dulu. Indah benar matamu, hingga tak kuasa selalu ku lantunkan nama indahmu di dalam doaku. Sudah terpatri mungkin.

“Ada apa melihatku seperti itu? Dasar lelaki kurang ajar!”

Tamparan Sih kala itu, membuatku terbangun dari mimpi dan delusi minggu pagi ini. Saat itu, padahal aku hanya melihat tali sepatu Sih terlepas dan ingin berkata demikian. Tapi getaran dengkulku tak kuasa, sehingga tamparan itulah yang ku dapat darinya. Untung saja saat itu tak dapat hantaman dari lelakinya, jadi hanya merah saja pipi bulatku ini.

“Tulisan siapa ini? Kenapa indah sekali. Dan di tunjukkan kepadaku” Ucap Sih.

“Mungkin salah satu guru di sini Sih.” Ucap temannya yang takkan ku sebut namanya. Sebab ini cerita akan aku dan Sih.

“Tak mungkin. Untuk apa salah satu dari guru di sini membuat tulisan indah ini. Dan tulisan ini di tunjukkan kepadaku dan tidak mungkin juga bisa menulis seindah ini.”

“Jadi, kau berpikir salah satu dari murid SMA ini pandai memainkan kata?”

“Mungkin saja, kenapa tidak?”

“Tidak mungkin Sih. Jangan buat guyonan yang membuat-ku tertawa seperti ini. Para wanita? Haha, aneh kau ini Sih. Mereka hanya mementingkan kemolekkan tubuh mereka dan wajah mereka saja. Akan jerawat satu di wajah saja mereka memutar otak untuk menghilangkannya. Untuk menulis seindah ini? Rasanya tidak Sih.”

“Kalau begitu mungkin para lelaki di SMA ini.”

“Haha, Sih. Sudahlah, kau tahu kan? Para lelaki di sini hanya bisa membuat keributan saja. Mana mungkin Sih. Tapi, ada satu dari ratusan murid lelaki di sini yang aneh dan tak ku kenal namanya.”

“Oh iya? Siapa dia?”

“Lelaki itu” Sambil menunjukku di tengah keramaian warung makan belakang sekolah.

“Dia? Dia siapa? Apa dia murid di sini? Satu angkatan dengan kita?”

“Iya, Sih. Aku tak tahu siapa namanya. Dan tak penting juga untuk aku ketahui namanya. Dia satu angkatan dengan kita. Tapi, teman satu kelasnya pun tak mau menemaninya. Dia terlalu berdiam diri, setiap hari hanya berada di pojok ruangan kelas sambil membaca buku-buku di luar pelajaran kita. Novel, kumpulan puisi, antologi puisi, antologi cerpen, kumpulan cerpen, hikayat dan lain-lain. Bisa jadi dialah yang membuat tulisan indah ini.”

Lupakan akan percakapan antar kaum hawa di atas. Tak penting juga untuk dibaca, hanya penjelas cerita ini saja. Iya, memang aku yang membuat tulisan itu. Aku membuat satu buah puisi dan satu buah cerpen yang kutunjukkan untuk Sih. Wanita idamanku. Dan nama pengarangnya ku samarkan menjadi N.N(no name). Ku tempelkan di mading lantai 2 sekolahku. Aku bukan anggota mading di kegiatan sekolahku. Jadi tak mungkin aku menempel tulisan ini di siang hari saat pelajaran berlangsung. Waktu istirahat juga tak mungkin rasanya. Sebab lebih nyaman di pojok ruangan ini dan membaca tulisan-tulisan yang aku pinjam di perpustakaan sekolahku. Saat di kantin, mungkin hanya 5 menit saja aku berada di sana. Karena tak nyaman dengan suasana keramaian.

Lupakan lagi tentang masa-masa di SMA dulu. Harum kelulusan sudah ku rasakan. Wanginya ijazah sudah tercium juga. Sudah 7 tahun aku meninggalkan SMA-ku. Ku lompati masa-masa kuliah. Karena ini cerita tentang pertemuan-ku akan Sih di saat pertemuan SMA-ku. Undangan sudah ku terima dari satu minggu yang lalu. Tak sabar juga raga ini untuk melangkahkan kaki ke pertemuan itu. “Bagaimana Sih saat ini? Apa ia masih bersama lelakinya? Bagaimana juga kabar rupa dan indah lekuk tubuhnya? Berubahkah?” Ucapku dengan terus melantunkan doa-doa kecil penghantar sebelum terlelap.

Sabtu, 14 Maret 2020. Pukul 8 malam aku berangkat dari kediamanku. Berkendara seorang diri sudah biasa ku lakukan setiap hari. Jarak dari kediamanku ke tempat pertemuan tak jauh juga, dan Tuhan mungkin merestui perjalananku kali ini. Tidak ada macet sama sekali di Batavia malam ini. “Ah, syukurlah! Terima kasih Tuhan.” Gumamku.

Pukul 8 lewat 30 menit aku sampai di acara pertemuanku. Sih, dialah orang yang pertama harus ku cari. Dan malam ini, akan ku ajak ia berbicara. Persetan dengan rasa malu-ku ini. Sudah 7 tahun Sih tidak mengenalku mungkin. Itu dia Sih! Berbeda sekali ia. Dan sekarang dia indah sekali, gaun hitam yang menutupi lekuk tubuhnya, rambut yang berlagak seperti Madona, dan hitam warnanya. Ah, sempurna sekali. Sutra ku rasa bahan yang ia pakai. Lembut sekali kelihatannya dari kejauhan.

“Hai, kau Sih?” Ucapku dengan gemetar.

“Iya betul.”

“Aku Rob, kita satu sekolah saat di SMA dulu.” Ah bodohnya! Jelas saja, ini kan pertemuan SMA kita dulu. Pernyataan yang bodoh.

“Haha”

“Lho? Mengapa kau tertawa?”

Ya tuhan, senyum Sih mengingatkanku akan keindahan sebuah aurora di ketinggian sana.

“Rob. Kau Robert Dwi Putra. Kau berada di kelas samping kelas-ku. Kau orang yang pendiam, sulit bergaul, tidak pernah berkomunikasi, kau hanya membaca buku setiap harinya. Lulus dari SMA kau masuk perguruan tinggi negeri, mengambil ilmu sastra murni, menjadi seorang penulis, sastrawan mungkin, penyair mungkin, dan satu hal yang sampai saat ini yang tak pernah aku lupa. Kau Rob. Kau yang membuat tulisan indah saat itu di mading sekolah. Dan tulisan itu kau tunjukkan kepadaku. Aku sudah tahu sejak aku melihatmu di malam hari menyelinap ke gedung sekolah. Awalnya aku berpikir mungkin ada bukumu yang tertinggal. Tetapi esok harinya, tulisan indah itu muncul di mading sekolah. Mengapa Rob? Mengapa tak kau akui saja kepengaranganmu itu?”

Asu! Ternyata ia tahu tentangku belakangan ini. “Iya Sih, aku yang menulis. Lalu? Kau marah?”

“Dasar bodoh. Tentu saja tidak. Aku senang.”

Menunjukkan pukul 10 lewat 30 menit larut malam, Sih memintaku untuk mengantarkannya pulang. Tentu saja senang dan sangat bersedia untuk mengantarkannya. Sepanjang perjalanan aku memutar lagu yang Sih suka saat berada di SMA. Berlagak kebaratan memang, Just the way you are. Lagu yang terus ku putar ulang saat perjalanan pulang. “Sudah sampai Sih. Tepat di depan rumahmu.”

“Rob. Mengapa tak dari dulu kau bersamaku seperti sekarang ini?”

“Maksudmu?”

“Aku senang bersama denganmu. Nyaman, dan terasa hanya kau yang ku harapkan belakangan ini.”

“Sih, kau terlalu sibuk akan lelakimu saat itu. Semua murid di sekolah kita dulu tahu, betapa romantisnya kau dengan lelakimu.”

“Tidak! Itu hanya pemikiran mereka dan mungkin pemikiranmu saja. Ia bukan pilihanku. Kaulah Rob, kau yang ku tunggu.”

“Sudah larut Sih. Lebih baik kau masuk ke dalam.”

Bangsat! Gila! Tanpa unsur paksaan Sih menciumku. Saat ku coba untuk menolak Sih memaksa. Tak bisa, dia bukan halalku. Ku peluk dia, dan ku cium kening putihnya.”Aku mencintaimu Sih. Aku tak mencium-mu bukan berarti aku tak mencintaimu. Melainkan aku menghormatimu sebagai wanita yang ku cintai. Aku hanya ingin mencium-mu saat kita sudah menikah nanti. Sih, sudah lama aku sendiri. Dan aku tahu kau juga seorang diri sekarang ini. Sih, maukah kau menjadi pasangan di acara pernikahan kita nanti? Aku ingin kau menjadi bagian dari awal perjalanan hidupku. Sih, selama ini kau hanya menjadi delusi di setiap khayalku dan saat ini aku ingin kau menjadi kenyataan dalam hidupku ini. Maukah kau?”

“Rob. Kau sungguh-sungguh mencintaiku? Tapi mengapa selama 7 tahun ini kau hilang tanpa seorang-pun tahu tentang dirimu.”

“Aku menunggumu Sih, aku selalu melihat bagaimana kabarmu setiap harinya melalui pesan-pesan yang kau tulis di media sosial. Saat hari lahirmu, aku selalu menulis sajak-sajak akan dirimu. Dan di bukukan, bahkan di terbitkan oleh salah satu penerbit.”

“Rob. Aku mencintaimu.”

Sih memeluk erat tubuhku, tak ingin ku lepas rasanya pelukan hangat Sih. “Pulanglah, esok kita akan bersua kembali.”

“Iya Rob. Kalau begitu aku masuk dulu. Kalau kau sudah sampai, kabari aku secepatnya.”

“Iya, aku pulang Sih. Selamat malam.”



Sih, akhirnya delusi, imaji, dan apapun itu namanya sudah tak berguna lagi. Aku membuat kau menjadi kenyataan dalam hidupku. Aku membuat kau menjadi pasangan dalam hidupku, aku yang mengagumimu sejak sekolah dulu kini akan menjadi seorang lelaki yang menemanimu di setiap harinya. Ah, Sih. Andai kau berada di sampingku saat ini, mungkin kau akan tersenyum bahagia melihat ku membuat tulisan ini untukmu. Tenanglah Sih, Tuhan bersamamu. Lantunan doa yang ku panjatkan di setiap ibadahku, ku tunjukkan kepadamu. Kau sih, kau yang selalu terpatri di dalam hati ini. Kau Sih, yang membuat-ku tahu akan penyakit apa sebenarnya yang bersarang di dalam kepala bulatmu. Dan Sih, sampai berjumpa di kehidupan selanjutnya. Aku, yang mencintaimu seperti awan bersama bulan pada malam itu.

Selasa, 10 Februari 2015

Lantunan

Terima kasih, Tuhan. Atas rasa dingin
Yang membawa kehangatan.



                                                                                                                      N.P.S

                                                                                                               Kartini,10-2-2015

Minggu, 01 Februari 2015

Damar

Siang, di kala matahari sedang memancarkan pesonanya dan awan yang menari membantu-ku menghabiskan sebatang rokok di tangan kiri bodoh ini. “Cepet dikit dong lo! Udah mau masuk nih” Ucap temanku yang tak akan aku sebut namanya. Tak penting juga ia siapa, sebab tokoh yang berperan penting disini ialah aku. Aku Damar, siswa di salah satu sekolah menengah atas negeri di pusat Ibu Kota. 5 tahun aku menjalani peranku sebagai wayang di sekolah ini. Mengapa? sebab sang dalang selalu sayang kepadaku, maka dari itu. Setiap kenaikan kelas, selalu aku yang setia menemani sang dalang satu tahun lagi.

Alasan saja aku ini. Mungkin kalian berpikir aku bodoh, tolol, dan mungkin ada yang ber-pendapat bahwa aku seperti bangsat. Jarang masuk dan banyak masalah di sekolah brengsek ini. Tapi tidak, semua itu tidak benar. Aku seperti ini, memang sang dalang sangatlah sayang kepadaku, maka dari itu ia selalu menyuruhku untuk setia tinggal di kelas apek ini, satu tahun lagi.

“Wei mar, di panggil lo sama kepsek? Mampus lo. Pasti di keluarin nih bentar lagi!” kata si bangsat temanku dengan seringai di wajahnya.

Ingin aku sobek saja mulutnya dan menancapkan pisau dapur ini ke alat pernapasannya. “Oh iye, nanti gue kesono.” Ucapku.

Gundah, yang aku rasa saat ini. Padahal hanya menuruni 20 anak tangga (Sempat aku hitungi saat pertama masuk sekolah brengsek ini). Ah, kenapa dengan sistem pernapasanku ini? Tak beraturan begini, seperti sopir bus dalam kota jika sedang mengantarkan penumpangnya. Sambil bersugesti “Tenang saja, biasanya juga tak mengapa jika dipanggil oleh sang dalang. Paling-paling hanya disuruh untuk merubah sikap saja.

“Assalamualikum pak, selamat siang.”

“Walaikumsalam. Hei damar, ayo silahkan masuk. Duduk mar.”

Tumben sekali, mengapa ia ramah sekali padaku? Biasanya tak seperti ini? Sedang mendapat komisi dari orang tua murid mungkin.

“Ada apa ya pak, bapak memanggil saya?” Kataku dengan gemetar di sekujur tubuh.

“Begini mar, sekarang ini. Kamu sudah duduk di kelas tingkat akhir. Kelas dimana nantinya kamu akan mengikuti berbagai macam ujian. Dan saya berharap, rubahlah sikap kamu yang berantakan selama kamu berada di sekolah ini.

Benar saja kan. Pasti ia menyuruhku merubah kelakuanku. Sudah kutebak, ia itu hanya bisa memberi kata-kata itu. Sudah 20 kali aku menghadap dia, dan hanya kata-kata itu yang ia beri.

“Iya pak, pasti akan saya ubah.”

“Yasudah kalau begitu, sekarang kamu boleh kembali ke kelas kamu.”

Sepanjang menaiki 20 anak tangga itu, hati ini terus bergumam “Gila, gak penting banget. Setiap di panggil, pasti hanya kata itu yang dia kasih.”

Tiba saatnya, saat dimana pemimpin di negeri bedebah ini memberi soal-soal yang menentukan aku layak untuk meninggalkan sekolah brengsek ini atau tidak. 4 hari ujian ini berlangsung. Semua teman-teman bangsatku merasa kebingungan, serasa manusia yang tak tahu arah jalan hidupnya. Gelisah di saat hari pertama sudah terlewati. Gundah saat hari kedua juga sudah ku lintasi. 2 hari lagi ujian ini akan berakhir. Mudah saja bagiku untuk mengerjakan soal-soal tolol ini. Aku berpikir semua pelajaran sudah ku kuasai dengan baik. Untuk apa aku 5 tahun berada disini, kalau bukan untuk memperdalami semua pelajaran.

Akhirnya, ujian berakhir. Seperti biasa aku langsung menuju kantin di belakang sekolah brengsek ini. Baru saja menyalakan sebatang rokok. Dan semua teman bangsatku ini datang menghampiri aku yang sedang merasakan nikmatnya tembakau dan wanginya sebuah arabica.

“Mar, ayolah jalan”

“Jalan? Kemane? Lo ngajak gue jalan? Lo aje bawa motor kalo sekolah. Mana pernah lo jalan kaki.”

“Ah tolol banget, ayolah kita rayain selesainya ujian ini.”

“Merayakan? Dengan cara apa? Kita aja belum lulus”.

“Udeh lo ikut aje, sok-sok polos lo!”

Sejujurnya, aku sudah tahu apa yang mereka maksud. Aku hanya memancing mereka saja, agar tahu apa maksud dari ajakan mereka.

Sial, tuhan rasanya sudah tahu rencana jahatku di siang ini. Tuhan sengaja memberi kuasanya dengan menurunkan rintikkan air yang membuat seluruh lekuk tubuh ini basah.

“Nah, itu die tuh mar. Sekolah bangsat yang waktu itu ngobrak-ngabrik sekolah kite.” Ucap salah satu dari mereka yang bangsat.

“Mane? Yaudehlah ayo gelar.” Ucapku dengan setan merasuki tubuh hina ini.

Pertempuran saudara sebangsa dan tanah air terjadi. Seperti perang-perang pada zaman penjajahan dan zaman kerajaan terdahulu. Semua membawa parang, pedang, busur beserta anak panah dan bahkan ada yang tugasnya hanya menyambiti batu dari belakang. Padahal aku tahu kalau melawan mereka. Sama saja melawan saudaraku sendiri. Tapi, perduli setan. Sudah tanggung juga rasanya, sudah kepalang nafsu jiwa ini.

“Wei bangsat, mane air keras gue? Sini kasih gue.”

Disaat pertempuran terjadi, aku melihat sosok seorang wanita memakai baju seragam sekolah juga nampaknya. Ia hanya berdiam diri, tak bisa berbuat apapun. Terperangkap di antara bajingan-bajingan tengik seperti kita ini. Hanya bisa menjerit dan berteriak meminta tolong. Tapi apadaya, kita semua sudah di rasuki arwah dajjal nampaknya.

Aku bermaksud menyelamatkan wanita itu. Tapi, lagi-lagi tubuh ini seperti kerasukan. Ketika melihat salah satu lawan dari sekolah brengsekku ini ada di belakang wanita itu. “Minggir mbak, lari sono. Ngapain lo disini?” Aku langsung menyiram lawanku itu, layaknya menyiram bunga di pagi hari. “Mampus lo! Mati lo!” dan astaga. Ternyata siramanku tadi mengenai wanita itu juga. “Panas, perih, tolong aku.” Kata wanita itu meronta kesakitan.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Lari, yang ada di pikiranku saat itu. Aku lari dengan kencangnya, melebihi macan kumbang sepertinya. Tertabrak sebuah kendaraan roda empat tak membuat aku berhenti. Aku bangkit, melanjutkan pelarian berdosa-ku ini.

Sudahlah, itu hanya masa kelamku yang ku ceritakan kepada kalian. Sudah satu dekade aku melintasi masa kelamku. Iya, aku melanjutkan pendidikanku di salah satu universitas negeri di timur ibu kota. Aku lulus dengan tahun yang sudah di tentukan. Dengan nilaiku saat lulus? Ah tak penting aku paparkan di cerita tolol ini.

Pasti kalian bertanya-tanya, jadi apa aku sekarang ini? Aku hanya sebuah ahli bahasa di salah satu kantor di pusat ibu kota. Sesuai dengan pembelajaranku saat melanjutkan di bangku universitas.

“Mar, di panggil direktur tuh.” Kata rekan kerjaku.

Di panggil oleh sang pemimpin rasanya sudah jadi makanan sehari-hariku saat sekolah dulu.

“Permisi pak, bapak memanggil saya?”

“Iya mar, silahkan duduk. Iya saya ada perlu dengan kamu.” Ucap pemimpin tertinggi di perusahaan ini.

Penglihatanku seketika tertuju pada salah satu lukisan di ruang kerjanya. Lukisan keluarganya, 2 tahun aku bekerja disini dan baru pertama kalinya aku melihat keluarga pemimpin-ku ini walaupun hanya sekadar foto saja. “Dinda namanya.”

Ternyata seorang pemimpin arif ini tahu saja apa yang terbesit dalam pikiranku saat ini.

“Eh pak, maaf pak.” Ucapku dan seperti biasa, gemetar di sekujur tubuh.

“Tak apa, kenapa? Kau terkejut melihat putriku yang cacat seperti itu.”

“Tidak pak, saya hanya ingin bertanya. Apa penyebabnya sehingga ia bisa seperti itu?”

“Baiklah, seusai jam kantor. Kau ikut denganku.”

“Kemana pak?”

“Kerumahku, akan ku kenalkan kau dengan putriku.”

Rasanya aku pernah mengenal wanita itu. Tapi dimana? Ah mungkin itu hanya delusi, imaji dan mungkin hanya sekadar di alam mimpiku saja.

Di jam seperti ini, seperti biasa. Para sopir beradu jotos, para pengemudi roda dua saling berpepetan dan salip menyalip layaknya pembalap moto gp saja. 2 jam berlalu. Sesampainya di rumah pemimpin arif itu, aku langsung menanyakan keberadaan putrinya.

“Din, turun kebawah. Ayah ingin mengenalkanmu dengan karyawan terbaik ayah.”

Ah, bisa saja orang ini. Padahal, akulah yang terbodoh di perusahaannya.

“Duduk mar, mau minum apa? Bi, buatkan segelas sirup. Ada tamuku yang sedang merasakan dahaga.”

Asu! Benar saja. Ternyata wanita 8 tahun lalu itu adalah putri pemimpin arif ini. Diam dan tak berkutik seperti kerbau yang baru saja di beri makan, aku hanya diam saja.

“Kenalkan, ini damar. Damar, ini Dinda. Putri semata wayang saya.”

“Dinda, maaf ya. Kalau wajahku mengganggumu, sehingga kamu merundukkan kepala seraya berdoa.” Ucap Dinda.

“Iya, aku Damar. Tidak kok. Sama sekali tidak menganggu, aku hanya malu saja melihat wanita seperti dirimu. Sejuk sekali, layaknya embun di kala fajar tiba.”

“Ayolah, jangan munafik seperti itu di hadapan ayahku ini.”

Ia tidak ingat sama sekali dengan perlakuanku 10 tahun lalu, yang membuat wajah sejuknya itu menjadi hancur berantakkan.

“10 tahun lalu mar”

Asu! Ternyata ayahnya tahu.

“Dinda baru saja pulang seusai ujian, dan berniat membeli hadiah, karena pada saat itu aku sedang merayakan berkurangnya usia. Di saat Dinda sedang menunggu angkutan umum untuk pulang kerumah. Segerombolan bajingan tengik sedang melakukan perang sauadara. Dan Dinda, terperangkap di tengah pertempuran itu. Dan salah satu dari bajingan itu, ada yang menggunakan larutan HCl. Dinda yang tak tahu apa-apa, menjadi korban dari bajingan itu. Saya berusaha melaporkan kejadian itu ke penegak hukum. Namun Dinda melarang saya, karena baginya. Biar Tuhan saja yang membalas kebrengsekkan orang tersebut.” Ucap pemimpin arif itu.

“Sudahlah yah, jangan di bahas lagi masalah itu. Tak enak, mas Damar mendengar cerita kelam itu.”

Sungguh, mulia sekali hati wanita ini. Tak tahu dengan apa aku membalas perbuatan kejiku ini.”Apa aku harus menyerahkan diri ini ke penegak hukum?” gumamku

“Baiklah pak. Apa Dinda sudah mempunyai calon untuk menjadi pasangan hidupnya?” ucapku tanpa pikir apapun.

Dinda tertawa dan seraya berkata “Mas Damar ini aneh, mana ada yang mau dengan wanita buruk rupa seperti aku ini.”

“Memangnya kenapa mar?” Ucap pemimpinku ini.

“Baiklah pak, 8 tahun lalu. Saat Dinda sedang menunggu angkutan umum. Dan terjadi pertempuran. Sejujurnya, aku pak. Aku yang berbuat keji, menyiram Dinda dengan larutat HCl. Penjarakan saja aku pak, aku takut saat kejadian itu terjadi. Aku lari dan tak bertanggung jawab kepada Dinda.” Kataku

“Apa? Bajingan! Akan kubunuh kau!” Balas pemimpin itu dan pertama kalinya aku melihat ia menggunakan mimik wajah menyerupai hitler.

“Sudah yah! Sudah, mas Damar tak bersalah. Aku yang salah, aku yang bodoh. Hanya berdiam diri saja, dan tak lari. Padahal waktu itu mas Damar sudah bilang untuk segera lari, tapi aku hanya diam saja.” Balas Dinda membelaku.

Oh tuhan, dosa apa yang aku perbuat waktu itu. Dinda sungguh mulia Tuhan, mengapa ia yang harus menjadi korbanku pada waktu itu.

“Tadi kau bertanya, apa Dinda sudah punya calon pasangan hidup. Kenapa kau bertanya seperti itu.” Ucap pemimpin itu dengan suara datar.

“Dinda, maukah kau menjadi pasangan hidupku? Aku ingin meminangmu bukan karena aku kasihan kepadamu, dan ingin menebus kesalahanku, juga bukan karena ayahmu seorang pemimpin tertinggi di perusahaan tempat aku bekerja. Aku ingin meminangmu karena Allah. Ia-lah yang selama ini membisikkanku. Jika aku bertemu dengan wanita itu, seburuk apapun dia. Halalkanlah dia, karena dia jodohmu kelak nanti. Dan sekarang, aku bertemu denganmu. Maukah kau Dinda?

“Bagaimana ayah?”

“Kau yang menjalankannya Din, terserah kau saja.”

“Baiklah mas, aku terima lamaranmu ini.”

Hari indah itu kita lalui dengan sakral. 5 tahun aku menjalin pernikahanku dengan Dinda. Aku bahagia hidup dengannya. Memang banyak sekali cemoohan yang aku dapat dari sekitar lingkunganku, karena aku menikahi wanita buruk rupa seperti Dinda. Ditambah, kelahiran putra pertamaku dengan Dinda membuat hari-hariku lebih berwarna. Dinda, sosok lembut nan jelita. Memang buruk rupanya namun kebersihan hatinya lah yang membuat aku selalu bersyukur kepadan tuhan. Dan tuhan, terima kasih kau telah menemuiku dengan sosok Sinta dalam tokoh pewayangan Ramayana. Kisah cinta abadi sepanjang masa.





N.P.S


Kartini, menjelang dini hari

Rabu, 21 Januari 2015

Lorong Kematian



Bermula dari sebuah lorong sebuah persimpangan jalan, dekat sebuah taman. Kita, berjumpa pada sebuah kenyataan pahit yang kau namakan saat itu. Sebuah lorong kematian yang kau namakan, mengapa? Mengapa kau sebut dengan lorong kematian? Apakah setiap orang yang melewati lorong itu, akan berjumpa dengan ajalnya? Tapi, mengapa kita baik-baik saja. Ketika kita melangkah berjalan lurus tanpa menoleh sekalipun.

Memang sebuah tulisan terpampang jelas di sepanjang lorong. “KEMATIAN SUDAH MENUNGGU?” apa hanya karena sebuah aksara itu, kau menyebutnya lorong kematian? Apa maksudnya? Hanya kau yang tahu maksud dari aksara tersebut. Setiap kita melewati lorong itu, pasti hanya sebuah ketakutan yang menghantuimu. Mau bagaimana lagi? Hanya lorong itu, jalan tercepat menuju tempat dimana kita bekerja. Hanya 20 Menit jika kita melintasi lorong itu. Dan bayangkan saja, jika tidak melintasi lorong itu. Mungkin, bisa 3 jam untuk sampai pada tempatnya.

“Cepatlah, percepat langkahmu bodoh!” Katanya sambil menutupi telinga dengan ke-2 tangan.

“Mengapa? lorong ini sangat bagus. Coba lihat! Penuh warna di sepanjang lorong.” Kataku.

Dia, sebuah sosok yang sudah kuanggap sebagai pengganti saudara laki-lakiku yang kini sudah berbeda alam. Ben namanya, lelaki renta dengan penuh dosa. Ia lahir lebih dahulu dibanding aku. Dan aku, aku adalah Jim. Seorang lelaki yang tinggal di ujung kota kemunafikan ini.

Memang kami sering jalan bersama. Dan jika ada seseorang yang mengganggu perjalanan kami ber-2. Pastilah Ben mengusir seseorang itu dengan segala cara. Tak perduli orang itu marah atau tidak. Ben tetap akan mengusirnya. Habis, mau bagaimana lagi? Ben-lah yang lebih tua, jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa, jika ia bertindak se-enak jidatnya saja.

“Jim, mengapa kau senang sekali melintasi lorong ini?” Kata Ben.

“Ya memang sudah sepatutnya kita melintasi lorong ini. Bayangkan saja, jika kita memutar dan tidak melintasi lorong ini. Pasti akan selalu terlambat.”

“Iya, aku paham. Tapi…” Kata Ben dengan wajah pucat di lekukan wajah keriputnya.

“Tapi apa?”

Diam, bagai beo yang di sogok mulutnya dengan seonggok jagung mentah. Aku terus memperhatikan seluruh seluk beluk lorong ini. Tak ada apa-apa. Hanya ada tulisan-tulisan yang menurut-ku tidaklah penting untuk di tanggapi. Tapi Ben terus ketakutan dan menambah kecepatan jalannya. Tak perduli dengan aku yang tertinggal jauh di belakangnya.

“Ben, dasar bodoh! Tunggu aku, aku tertinggal jauh di belakangmu.” Kataku dengan urat menarik ke atas leher.

“Persetan denganmu Jim, aku tidak ingin berlama-lama di lorong kematian ini.”Balas Ben dengan menambah kecepatan jalannya.

Suatu ketika, aku mencoba mencari tahu tentang lorong itu dari sebuah Internet. Dan ternyata aku tahu jawabannya. Mengapa Ben takut sekali ketika ia melintasi lorong itu. Lorong kematian yang ia takuti selama ini ialah lorong yang dahulunya jalur lalu-lalang para pedagang etnik tionghoa. Dan benar saja, ternyata dahulu sempat terjadi tragedi pembataian para etnik tionghoa di sepanjang lorong itu.

Beberapa dekade lalu, saat krisis melanda Negeri bedebah ini. Kerusuhan terjadi di seluruh penjuru Negeri. Memang, puncak kerusuhan itu terjadi di kota munafik ini. Dan aku rasa Ben sudah lahir saat kerusuhan itu terjadi. Saat itu, para etnik tionghoa mencoba menyelamatkan diri mereka. Mereka melintasi lorong itu. Lorong yang ditakuti Ben selama ini. Dan disaat mereka melintasi lorong itu, para perampok sudah siap menunggu di ujung lorong. Mereka mencoba memutar balik arah. Tapi, apadaya mereka sudah menunggu juga di ujung lorong lainnya.

Benar saja, tak ada yang selamat saat tragedi itu. Tak satupun mayat para etnik tionghoa itu di temukan. Hanya pakaian mereka yang tesisa. Kaca mata, kalung dengan lambing tuhan mereka, dan juga sandal butut yang di pakai saat mereka menyelamatkan diri. Lalu, mengapa Ben takut sekali melintasi lorong itu?

Siang ini, di saat matahari sedang teriknya. Dan dahaga yang membuat kerongkongan ini haus sekali. Aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada Ben. Apa yang terjadi sebenarnya.

Aku menghampiri Ben. Dan mencoba bertanya tentang artikel yang aku baca tadi pagi. Tapi, apa Ben akan menjawab semua pertanyaan-ku? Pertanyaan yang jelas-jelas sudah ada jawabannya di artikel yang aku baca.

“Hei Ben”

“Hei Jim, ada apa?

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu.”

“Oh iya? Apa itu?

“Tapi janji! Kau tidak akan marah denganku.”

“Tentu saja tidak bodoh! Cepat, apa yang ingin kau tanyakan?”

“Aku membaca sebuah artikel pagi ini. Artikel tentang lorong yang setiap harinya selalu kita lintasi. Di artikel itu di sebutkan, jika dahulu terjadi pembantaian etnik tionghoa. Lalu, apa yang kau takutkan? Apa kau melihat langsung pembantaian itu? Sehingga kau tidak berani untuk melintasi lorong itu?”

“Baiklah, akan ku jelaskan semuanya.”

Dahulu, beberapa dekade yang lalu. Aku sedang melintasi lorong itu. Memang, dahulu sempat terjadi pembantaian di seluruh lorong yang aku takutkan itu dan aku sebut sebagai lorong kematian. Kejadiannya sore, tepatnya setelah umat islam menjalankan perintah dari tuhannya. Aku berniat pulang ke rumah, karena aku tahu saat itu Negeri kita sedang kacau balau. Saat rezim pemerintahan selama 32 tahun itu ingin di lengserkan. Dan saat aku baru setengah perjalanan melintasi lorong itu. Para etnik tionghoa itu berlari, berlari secepat mungkin. Aku bingung, mengapa mereka berlarian. Aku bertanya kepada salah seorang yang ikut berlari. Mereka hanya berkata “Cepatlah, Kematian Sudah Menunggu.” Apa? Aku tak mengerti maksud dari perkataannya. Benar saja, ternyata mereka sudah di hadang di ujung lorong. Saat mereka memutar arah, ternyata mereka juga sudah di tunggu oleh para pembegal itu sudah menunggu di ujung lorong satunya. Mereka pasrah,dan aku ada di tengah-tengah mereka. Mereka ber-doa dengan kepalan tangannya. Ber-doa sambil memegang kalung berlambangkan tuhannya di dekat leher mereka. Tanpa pikir panjang, mereka semua di habisi oleh para pembegal. Tak ada satupun yang tersisa. Dan salah satu dari etnik tionghoa yang menuliskan aksara di lorong itu “KEMATIAN SUDAH MENUNGGU.”

“Tapi, mengapa mereka tidak membunuhmu?” Kataku, menyela pembicaraan.

“Tentu saja tidak, karena aku asli pribumi. Jadi, mereka tidak membunuhku. Memang sempat mereka menanyaiku. Aku ini pribumi atau tionghoa? Saat aku tunjukkan kartu identitasku, mereka hanya mengabaikan-ku dan berkata “JANGAN IKUT CAMPUR LO YE!” Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat itu. Hanya ketakutan yang menyelimutiku. Ketakutan yang kubawa sampai saat ini.”

Dan Jim, satu hal yang perlu kau ketahui. Aku Ben. Aku adalah dirimu. Aku adalah ketakutan-mu. Ketakutan yang sudah lama kau simpan. Lupakan-lah Jim, kejadian itu sudah lama berlangsung. Untuk apa masih kau kenang? Dan tugasku sebagai ketakutan-mu akan berakhir. Ketika kau sudah mendengar penjelasanku. Jim, semoga kau segera melupakannya. Sebab Tuhan punya kehendak lain, mengapa ia membiarkan-mu hidup saat tragedi itu berlangsung. Kau Jim. Kau adalah saksi sejarah yang akan memberi kenangan pahit pada anakmu kelak. Lupakan Jim! Tapi, ingat-lah. Ingat dengan semua imbas yang sekarang terjadi pada Negeri ini. Pada kota ini. Yang sekarang di pimpin oleh seorang etnik tionghoa.









N.P.S



Kartini, Menjelang dini hari



Jumat, 16 Januari 2015

Bintang

 Terlalu larut rasanya ku terbuai akan indah parasmu,
Sementara awan tebal terus menutupi.
Menutupi sebuah bintang yang kukagumi belakangan ini.
Aku bertanya kepada sang pencipta

“Duhai tuhan,
  Mengapa pula kau
  Datangkan awan-awan pengkihanat itu?
  Pengkhianat yang tak pernah menyampaikan
  Pesan bodohku kepada sang bintang?”

Rindu itu selalu saja menancap di jarum jiwa
Dengan sejarah yang tak berpribadi
Dengan malam yang tak nampak rembulan

Aroma pinus dari taman sorga terasa aneh
Jika kuhirup seorang diri.
Dan kini, aku menengadah ke langit tak bertuan
Sambil kulompati pagar berduri di samping sebuah taman tak bernama.

Ternyata, sama jawabnya.
Gumpalan awan itu masih saja berkhianat.
Tak menyampaikan kerinduan tolol ini kepadanya.
Dan sekarang aku tahu jawabnya,
Mengapa awan bodoh itu berkhianat.

            “Kau hanya sebuah delusi,
             Imaji, dan tempat labuhan terakhir
             Di sebuah tanjung.”

Mungkin inilah kuasa tuhan.
Setahun, sewindu, dekade,
Bahkan abad sekalipun.
Tetap kutunggu sebuah bintang itu.
Bintang yang ku kagumi belakangan ini
Dan kusesali dengan sebuah kerinduan.


                                                                                                                       N.P.S


                                                                                                         Kartini, menjelang dini hari

Selasa, 06 Januari 2015

Elegi Hujan Sore Hari

Mengapa setiap umat harus menyingkir dari kuasanya
Mengapa jua setiap insan harus mengumpat dari pemberiannya
Dan mengapa pula setiap khalayak harus berteduh dari rezekinya

Siang itu, tak ada senyuman yang terlukis dari setiap insan
Bahkan, aroma asap yang mengepul
Dari sebuah bis kota yang beradu jotos saja tak bisa melukis
Sebuah gambaran detak jantung berlambang sunyi

Hanya air yang meyirami
Sekujur lekuk tubuh ini.
Dan elegi hujan siang hari

Membuat-ku tertawa geli di pagi ini

Senja

Kala itu, senja tiba di penghujung hari. Senyap bercampur sunyi di lorong ini. Dan saat itu pula, rintik air membasahi bumi yang sedang di landa kemarau. Sesaat terdengar alunan sebuah gitar di sampng lorong. Siapa yang memainkannya? Ah, tidaklah penting. Dan terdengar juga suara gelegar tawa dari belakang lorong. Dan kali ini, aku menanggapinya. Tapi, hanya sekedar menoleh lalu berbalik lagi.

Aku surya, mahasiswa baru di salah satu universitas di jantung ibu kota. Mengambil ilmu kesusastraan, rasanya hal yang paling membingungkan bagi teman dan orang tuaku. Mengapa? mengapa aku mengambil ilmu ini? Dan mngapa pula, tak aku ambil ilmu-ilmu yang menurut sebagian orang berpengaruh di masa depan nanti.

Sudahlah, tak penting juga kalau aku bercerita. Tetapi, aku berterima kasih dengan sepupuku. Dia-lah yang telah mengenalkanku pada ilmu sastra. Memang, aku tak begitu akrab dengannya. Tapi, sekedar bercengkrama di waktu senggang sering kami lakukan.

Dan bukan itu pula sebenarnya cerita yang ingin aku paparkan disini. Kembali lagi ke lorong, awal cerita berasal. Sesekali aku menoleh ke depan, tak ada seorang-pun makhluk yang melintas. Ah, bodohnya. Jelas saja, di luar kan hujan. Pasti setiap makhluk sedang menyingkir dan mengumpat dari rezeki yang di beri tuhan.

“Hai sur, ngapain lo diem aja disini?”
Seketika suara itu membangunkanku dari lamunan yang membosankan ini. Adit, teman sekaligus tempat penyimpanan uang-ku. Karena hanya ia yang selalu peka terhadap lamunanku dan hanya ia juga teman yang selalu peka pada kondisi tubuhku, ketika tubuh ini mulai terasa dahaga dan lapar.

“Ah, elo dit. Bikin kaget aja.”
“Lagi, elo ngapain coba sore-sore gini bengong bodoh macem kambing mau di potong.”
“Enggak kok, gue cuma lagi ngisi batre handphone gue aja.”
“Oh gitu. Eh, daripada lo sendirian disini. Mending lo ikut gue.”
“Kemana?”
“Udah, ikut aja. Anak-anak juga pada gak ada.”
“Oh, yaudah deh. Asalkan”
“Asalkan apa sur?”
“Asalkan, lo beliin gue makan dan minum. Laper banget gue nih.”
“Ahelah sur, emang biasanya juga gue yang beliin lo kan.”
“Yoi deh, sekalian rokoknya ya.”
“Selow.”

            Setelah percakapan bodoh terjadi. Aku dengan polosnya mengikuti adit melangkah. Tak tahu ingin beranjak kemana, dan setiap langkah yang kupijak. Aku selalu bertanya, mau kemana? Dan adit selalu menjawab “Sudah,ikut saja. Banyak bicara lo.”

Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kita sampai. Tak tahu mengapa, rasanya lelah saja. Padahal aku berjalan, hanya  5 menit. Dan itu-pun masih sekitaran kampus.

“Ngapain nih dit? Kok banyak orang pada dandan?” kataku dengan tampang polos dan mulut ternganga.
“Kita latihan teater ya? Lo kan suka acting gitu tuh. Nah, lo bantuin gue ya. Tapi, gue main musik disini, dan elo harus jadi aktor.”

            Aku tak tahu apa yang ada di benak adit saat itu. Dia menyuruhku untuk menjadi aktor? Sudah gila apa dia. Sudah tahu aku benci dengan dram-drama cinta di televisi. Nah, ini malahan aku di suruh bermain. Jadi aktor pula. Sudah sinting rasanya si adit. Dan sintingnya lagi, ini kan angkatan di atas aku dan adit. Mengapa, aku bermain bersama mereka? Wah sudah edan.

“Hai ka, ini nih. Teman gue, yang gue bilang kemarin. Dia katanya mau bantuin kelas kaka.”Kata adit dengan tangan menolehku.

            Dasar gila. Kapan aku berucap seperti itu? Jelas-jelas dia saja baru memberi tahu aku sesampainya disini.

“Benar kamu mau bantuin kita?” kata kaka senior.
“Ehmmm.”
“Kenapa?” Balas kaka senior.
“Dia emang suka gitu kak, malu-malu gitu.” Kata adit
“Yaudah deh ka, aku mau. Memangnya aku jadi apa di teater kaka?”
“Yaudah, nanti aku kasih naskahnya. Kamu baca ya.”
“Iya ka.”

            Merasa bodoh, dan tak tahu mengapa ada di sekitar orang-orang yang tak ku kenal. Aku mencoba beranikan diri untuk menyapa. Terlintas di benakku untuk menyapa seorang wanita yang tampak dari kejauhan menuju ke arahku. Nah, benar saja. Dia, memang benar menuju ke arahku. Dan seketika menyapaku dengan hangatnya. Sehangat senja di sore itu. Terlintas di benakku, bahwa ia sosok senja yang kuburu belakangan ini.

Cantik sekali. Persis seperti apa yang kudambakan. Dan jika ku bisa memiliki senja itu, tentu anugrah terindah yang pernah kumiliki.

“Kamu yang bantuin di teater kita ya?” kata senja dengan hangatnya ia menyapa.
“Iya kak”
“Siapa namanya?”

            Ya tuhan, dia mengajakku berkenalan. Entah apa yang harus ku katakan. Menyambar secepat kilat, aku dengan bangganya memperkenalkan diriku.

“Aku surya kak, salam kenal ya.”
“Iya, aku wulan. Salam kenal juga ya.”

            Malam harinya, aku mencoba mencari namanya di media sosial. Dan berhasil, aku menemukannya. Ya tuhan, cantik sekali dia. Ah, persetan dengan semua. Dan aku langsung menulis pesan singkat kepadanya. Tak lama kemudian ia langsung membalasnya.

Percakapan berlangsung secara halus, aku meminta nomor handphone-nya. Setelah di beri olehnya, aku langsung menelfonnya. Dan mengajak bertemu di luar jam kuliah dan juga teater. Dan bodohnya, ia menyetujui ajakkanku. Ah, apa ini mimpi? Seorang senja yang kuburu selama ini, dengan mudahnya menerima ajakkanku.

Esokkan harinya, ia berkata menunggu di halte depan kampusku. Dan aku menyetujuinya. Tapi, mengapa tuhan memberi rintik air di saat aku ingin bertemu dengannya?
Setelah bertemu, kita berencana makan di luar. Tapi sayangnya, hujan menganggu pendekatan kami. 2 jam kita menunggu di halte, mencoba menghindar dari hujan. Dan sudah larut juga baginya.

“Halo mah, iya ini lagi di jalan. Kejebak hujan. Wulan sama teman wulan kok.” Seketika ibunya menelfon, khawatir keberadaan putrinya.
“Siapa?”
“Ibu aku sur.”
“Kenapa ibu kamu?”
“Menyuruh aku pulang, sudah malam katanya.”
“Baiklah, rencana makannya kita batalkan saja. Dan aku akan mengantarmu pulang.”
“Serius?” apa aku tak merepotkanmu? Rumah kita berlawanan arah lho sur.”
“Iya, tak apalah. Kan memang aku yang mengajakmu bertemu. Masa iya, aku tak mengantarmu pulang.”
“Terima kasih ya sur. Yaudah, gimana kita makannya di pinggir jalan aja? Searah sama jalan pulang aku.”
“Yasudah.”

            Setelah aku mengantarnya pulang. Percakapan kami semakin hangat saja, selayaknya dua insan manusia yang telah di pertemukan cintanya. Sesekali aku menegurnya jika sedang berada di kampus. Dan ia membalas dengan senyuman hangatnya.

Rindu sekali aku dengannya, dan terlintas untuk mengajaknya kembali bertemu di luar jam kuliah. Lagi-lagi ia menyetujuinya. Dan lagi-lagi aku terjebak hujan yang tak berlangsung lama. Aku menjemputnya tepat di depan rumahnya. Aku juga berkenalan dengan wanita yang melahirkannya.
Kita pergi, dan menonton film kebarat-baratan. Setelah selesai menonton, kita lanjutkan percakapan dengan makan malam di pinggir jalan. Ah, hangatnya. Padahal di depan sedang hujan besar sekali, tak tahu mengapa, aku merasakan hangatnya senja di sore hari.

Aku tak mau membuang waktu, dan setelah aku mengantarnya pulang. Aku berniat menyatakan perasaanku kepadanya.
Sesampainya di rumah, aku di suguhkan dengan segelas air yang melepas dahaga. “Sur, sebentar ya. Aku mau kakus dulu.” Kata wulan.
Selang beberapa lama, ia datang kembali. Dengan pesona yang biasa saja. Tetapi, begitu hangat jika berada di dekatnya. Ada yang aneh. Ah, perasaanku saja. Mungkin, karena ia berganti pakaian akibat hujan tadi. Jadi, tampak begitu beda.
“Hah, apa maksudmu?” kata wulan.
“Tidak, aku tak mau membuang waktu.”
“Tapi? Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan.”
“Aku cinta kepadamu, kalau aku tidak cinta. Untuk apa aku menemuimu sampai 2 kali ini. Jauh pula. Membuang waktu juga kan. Itu semua ku buktikan karena aku cinta kepadamu.”
“Maksudmu? Berarti kamu tidak ikhlas dengan mengantarku pulang?”
“Bukan seperti itu, tapi itu semua ku buktikan perasaanku kepadamu. Dengan menghabiskan waktuku denganmu.”
“Baiklah, aku terima perasaanmu. Asal kamu serius dalam menjalin hubungan.”
“Benarkah itu?”
“Iyaaaa wulaaaan. Aku pamit pulang ya, sudah larut malam sepertinya. Mana ibu dan ayahmu? Aku mau pamit.”
“Tidak usah, mereka sudah terlelap dalam alam mimpinya. Baiknya sekarang kamu pulang saja. Hati-hati di jalan ya.”
“Sudah pasti, aku pulang dulu yaaa.”
“Assalumalaikum”
“Wassalamualaikum”

            Ya tuhan, tak tahu dengan cara apa aku berterima kasih dengan temanku adit. Dia yang mengenalkanku dengan wanita ini. Kalau tidak ada dia, pastilah aku tidak akan bertemu dengannya. Yang jelas terima kasih sekali untuk adit.

Tetapi, ada kejanggalan di dalam hubungan kita. 5 bulan aku bersamanya, dan sudah 5 bulan juga kita hanya bertegur sapa di waktu senggang. Memang,sesekali aku mengantarnya pulang. Tapi, mengapa ia merasa aneh ketika aku mencoba memegang tangannya.

 Dan selama 5 bulan aku menjalin hubungan bersama wulan,  tanpa unsur kesengajaan. Aku selalu di pertemukan dengan hujan. Mengapa? apa yang salah? Aku rasa tidak ada yang salah. Dan mungkin ini kuasa tuhan agar aku dan wulan dapat saling bertahan. Ini baru hujan, belum badai atau teman sejenisnya. Jadi, untuk apa aku khawatirkan? Dan aku tidak khawatir dengan dinginnya air yang membasahi seluruh lekuk tubuhku. Aku mempunyai senja, senja yang menghangatkanku di saat aku merasakan dinginnya malam dan hujan. Tak usah ku berburu senja lagi, karena aku bersyukur sekali. Aku mempunyai sepotong senja. Senja yang ku cinta dan ku kagumi setiap pancaran sinarnya.

Malam itu, tepat di awal desember. Aku berniat mengantarnya pulang ke rumah. Seperti biasa, ia merasa aneh. Bahkan, tak mengerti jika aku membahas masalah pesan singkat yang aku beri melalui media sosial. Dia hanya mengangguk dan berkata “Oh, yasudah, baiklah, ehmm, dan menganggukkan kepalanya.”
Sesampainya di rumahnya. Seperti biasa juga, ia melayaniku dengan manis. Beda sekali saat di kampus.

“Sur, aku ingin bercerita yang sebenarnya.” Kata wulan.
“Sebenarnya? Maksutmu apa?” Dengan menarik urat di leherku ini.
“De, kesini.”
Apa maksudnya? Untuk apa ia memanggil adiknya?
“Iya kak.”

Sableng bin edan. Ternyata, mereka kembar. Persis sekali, rasanya tak ada perbedaan di antara mereka. Lalu, apa yang terjadi sebenarnya? “Ceritakan, apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa kalian ada 2? Ada apa ini?

“Begini sur, aku wulan dan ini kakaku bulan.”
“Yasudah, lalu? Ada apa ini? Jelaskan? Apa kalian mencoba menipuku?
“Tidak sur, bukan seperti itu. Selama ini, kau mencintai orang yang salah.” Kata wulan.
“Maksudmu?”
“Iya, selama ini kau mencintai kakak-ku. Bukan aku. Malam itu, waktu kamu menyatakan perasaanmu. Itu bukan aku yang menerimamu, melainkan kakak-ku ini.”

Pnejelasan wulan rasanya sudah sangat jelas memukul ragaku malam itu. Pantas saja aku merasa ada perbedaan ketika wulan berada di kampus dan juga di rumah. Ternyata, selama ini aku mencintai wanita yang salah. Jadi, senja yang ku cari belakangan ini sia-sia saja? Ah, persetan dengan semua ini. Memang, aku mencintai senja di sore hari. Dan aku  juga mencintai wulan selayaknya senja. Tapi, mengapa Bulan yang ku dapat? Bulan yang hanya menyinari di malam hari saja. Jadi, apakah senja yang ku buru selama ini mempermainkanku dengan sinar hangatnya? Sudahlah, walaupun mereka mirip sekali. Dan tak ada perbedaan di antara mereka. Tetap saja, aku hanya mencintai satu senja. Yaitu, senja yang pertama kali menghangatku di hujan sore itu.








                                                                                                                        N.P.S
                                                                                                            Awal Januari 2015