Terima kasih, Tuhan. Atas rasa dingin
Yang membawa kehangatan.
N.P.S
Kartini,10-2-2015
Selasa, 10 Februari 2015
Minggu, 01 Februari 2015
Damar
Siang, di kala matahari sedang memancarkan pesonanya dan awan yang menari membantu-ku menghabiskan sebatang rokok di tangan kiri bodoh ini. “Cepet dikit dong lo! Udah mau masuk nih” Ucap temanku yang tak akan aku sebut namanya. Tak penting juga ia siapa, sebab tokoh yang berperan penting disini ialah aku. Aku Damar, siswa di salah satu sekolah menengah atas negeri di pusat Ibu Kota. 5 tahun aku menjalani peranku sebagai wayang di sekolah ini. Mengapa? sebab sang dalang selalu sayang kepadaku, maka dari itu. Setiap kenaikan kelas, selalu aku yang setia menemani sang dalang satu tahun lagi.
Alasan saja aku ini. Mungkin kalian berpikir aku bodoh, tolol, dan mungkin ada yang ber-pendapat bahwa aku seperti bangsat. Jarang masuk dan banyak masalah di sekolah brengsek ini. Tapi tidak, semua itu tidak benar. Aku seperti ini, memang sang dalang sangatlah sayang kepadaku, maka dari itu ia selalu menyuruhku untuk setia tinggal di kelas apek ini, satu tahun lagi.
“Wei mar, di panggil lo sama kepsek? Mampus lo. Pasti di keluarin nih bentar lagi!” kata si bangsat temanku dengan seringai di wajahnya.
Ingin aku sobek saja mulutnya dan menancapkan pisau dapur ini ke alat pernapasannya. “Oh iye, nanti gue kesono.” Ucapku.
Gundah, yang aku rasa saat ini. Padahal hanya menuruni 20 anak tangga (Sempat aku hitungi saat pertama masuk sekolah brengsek ini). Ah, kenapa dengan sistem pernapasanku ini? Tak beraturan begini, seperti sopir bus dalam kota jika sedang mengantarkan penumpangnya. Sambil bersugesti “Tenang saja, biasanya juga tak mengapa jika dipanggil oleh sang dalang. Paling-paling hanya disuruh untuk merubah sikap saja.
“Assalamualikum pak, selamat siang.”
“Walaikumsalam. Hei damar, ayo silahkan masuk. Duduk mar.”
Tumben sekali, mengapa ia ramah sekali padaku? Biasanya tak seperti ini? Sedang mendapat komisi dari orang tua murid mungkin.
“Ada apa ya pak, bapak memanggil saya?” Kataku dengan gemetar di sekujur tubuh.
“Begini mar, sekarang ini. Kamu sudah duduk di kelas tingkat akhir. Kelas dimana nantinya kamu akan mengikuti berbagai macam ujian. Dan saya berharap, rubahlah sikap kamu yang berantakan selama kamu berada di sekolah ini.
Benar saja kan. Pasti ia menyuruhku merubah kelakuanku. Sudah kutebak, ia itu hanya bisa memberi kata-kata itu. Sudah 20 kali aku menghadap dia, dan hanya kata-kata itu yang ia beri.
“Iya pak, pasti akan saya ubah.”
“Yasudah kalau begitu, sekarang kamu boleh kembali ke kelas kamu.”
Sepanjang menaiki 20 anak tangga itu, hati ini terus bergumam “Gila, gak penting banget. Setiap di panggil, pasti hanya kata itu yang dia kasih.”
Tiba saatnya, saat dimana pemimpin di negeri bedebah ini memberi soal-soal yang menentukan aku layak untuk meninggalkan sekolah brengsek ini atau tidak. 4 hari ujian ini berlangsung. Semua teman-teman bangsatku merasa kebingungan, serasa manusia yang tak tahu arah jalan hidupnya. Gelisah di saat hari pertama sudah terlewati. Gundah saat hari kedua juga sudah ku lintasi. 2 hari lagi ujian ini akan berakhir. Mudah saja bagiku untuk mengerjakan soal-soal tolol ini. Aku berpikir semua pelajaran sudah ku kuasai dengan baik. Untuk apa aku 5 tahun berada disini, kalau bukan untuk memperdalami semua pelajaran.
Akhirnya, ujian berakhir. Seperti biasa aku langsung menuju kantin di belakang sekolah brengsek ini. Baru saja menyalakan sebatang rokok. Dan semua teman bangsatku ini datang menghampiri aku yang sedang merasakan nikmatnya tembakau dan wanginya sebuah arabica.
“Mar, ayolah jalan”
“Jalan? Kemane? Lo ngajak gue jalan? Lo aje bawa motor kalo sekolah. Mana pernah lo jalan kaki.”
“Ah tolol banget, ayolah kita rayain selesainya ujian ini.”
“Merayakan? Dengan cara apa? Kita aja belum lulus”.
“Udeh lo ikut aje, sok-sok polos lo!”
Sejujurnya, aku sudah tahu apa yang mereka maksud. Aku hanya memancing mereka saja, agar tahu apa maksud dari ajakan mereka.
Sial, tuhan rasanya sudah tahu rencana jahatku di siang ini. Tuhan sengaja memberi kuasanya dengan menurunkan rintikkan air yang membuat seluruh lekuk tubuh ini basah.
“Nah, itu die tuh mar. Sekolah bangsat yang waktu itu ngobrak-ngabrik sekolah kite.” Ucap salah satu dari mereka yang bangsat.
“Mane? Yaudehlah ayo gelar.” Ucapku dengan setan merasuki tubuh hina ini.
Pertempuran saudara sebangsa dan tanah air terjadi. Seperti perang-perang pada zaman penjajahan dan zaman kerajaan terdahulu. Semua membawa parang, pedang, busur beserta anak panah dan bahkan ada yang tugasnya hanya menyambiti batu dari belakang. Padahal aku tahu kalau melawan mereka. Sama saja melawan saudaraku sendiri. Tapi, perduli setan. Sudah tanggung juga rasanya, sudah kepalang nafsu jiwa ini.
“Wei bangsat, mane air keras gue? Sini kasih gue.”
Disaat pertempuran terjadi, aku melihat sosok seorang wanita memakai baju seragam sekolah juga nampaknya. Ia hanya berdiam diri, tak bisa berbuat apapun. Terperangkap di antara bajingan-bajingan tengik seperti kita ini. Hanya bisa menjerit dan berteriak meminta tolong. Tapi apadaya, kita semua sudah di rasuki arwah dajjal nampaknya.
Aku bermaksud menyelamatkan wanita itu. Tapi, lagi-lagi tubuh ini seperti kerasukan. Ketika melihat salah satu lawan dari sekolah brengsekku ini ada di belakang wanita itu. “Minggir mbak, lari sono. Ngapain lo disini?” Aku langsung menyiram lawanku itu, layaknya menyiram bunga di pagi hari. “Mampus lo! Mati lo!” dan astaga. Ternyata siramanku tadi mengenai wanita itu juga. “Panas, perih, tolong aku.” Kata wanita itu meronta kesakitan.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Lari, yang ada di pikiranku saat itu. Aku lari dengan kencangnya, melebihi macan kumbang sepertinya. Tertabrak sebuah kendaraan roda empat tak membuat aku berhenti. Aku bangkit, melanjutkan pelarian berdosa-ku ini.
Sudahlah, itu hanya masa kelamku yang ku ceritakan kepada kalian. Sudah satu dekade aku melintasi masa kelamku. Iya, aku melanjutkan pendidikanku di salah satu universitas negeri di timur ibu kota. Aku lulus dengan tahun yang sudah di tentukan. Dengan nilaiku saat lulus? Ah tak penting aku paparkan di cerita tolol ini.
Pasti kalian bertanya-tanya, jadi apa aku sekarang ini? Aku hanya sebuah ahli bahasa di salah satu kantor di pusat ibu kota. Sesuai dengan pembelajaranku saat melanjutkan di bangku universitas.
“Mar, di panggil direktur tuh.” Kata rekan kerjaku.
Di panggil oleh sang pemimpin rasanya sudah jadi makanan sehari-hariku saat sekolah dulu.
“Permisi pak, bapak memanggil saya?”
“Iya mar, silahkan duduk. Iya saya ada perlu dengan kamu.” Ucap pemimpin tertinggi di perusahaan ini.
Penglihatanku seketika tertuju pada salah satu lukisan di ruang kerjanya. Lukisan keluarganya, 2 tahun aku bekerja disini dan baru pertama kalinya aku melihat keluarga pemimpin-ku ini walaupun hanya sekadar foto saja. “Dinda namanya.”
Ternyata seorang pemimpin arif ini tahu saja apa yang terbesit dalam pikiranku saat ini.
“Eh pak, maaf pak.” Ucapku dan seperti biasa, gemetar di sekujur tubuh.
“Tak apa, kenapa? Kau terkejut melihat putriku yang cacat seperti itu.”
“Tidak pak, saya hanya ingin bertanya. Apa penyebabnya sehingga ia bisa seperti itu?”
“Baiklah, seusai jam kantor. Kau ikut denganku.”
“Kemana pak?”
“Kerumahku, akan ku kenalkan kau dengan putriku.”
Rasanya aku pernah mengenal wanita itu. Tapi dimana? Ah mungkin itu hanya delusi, imaji dan mungkin hanya sekadar di alam mimpiku saja.
Di jam seperti ini, seperti biasa. Para sopir beradu jotos, para pengemudi roda dua saling berpepetan dan salip menyalip layaknya pembalap moto gp saja. 2 jam berlalu. Sesampainya di rumah pemimpin arif itu, aku langsung menanyakan keberadaan putrinya.
“Din, turun kebawah. Ayah ingin mengenalkanmu dengan karyawan terbaik ayah.”
Ah, bisa saja orang ini. Padahal, akulah yang terbodoh di perusahaannya.
“Duduk mar, mau minum apa? Bi, buatkan segelas sirup. Ada tamuku yang sedang merasakan dahaga.”
Asu! Benar saja. Ternyata wanita 8 tahun lalu itu adalah putri pemimpin arif ini. Diam dan tak berkutik seperti kerbau yang baru saja di beri makan, aku hanya diam saja.
“Kenalkan, ini damar. Damar, ini Dinda. Putri semata wayang saya.”
“Dinda, maaf ya. Kalau wajahku mengganggumu, sehingga kamu merundukkan kepala seraya berdoa.” Ucap Dinda.
“Iya, aku Damar. Tidak kok. Sama sekali tidak menganggu, aku hanya malu saja melihat wanita seperti dirimu. Sejuk sekali, layaknya embun di kala fajar tiba.”
“Ayolah, jangan munafik seperti itu di hadapan ayahku ini.”
Ia tidak ingat sama sekali dengan perlakuanku 10 tahun lalu, yang membuat wajah sejuknya itu menjadi hancur berantakkan.
“10 tahun lalu mar”
Asu! Ternyata ayahnya tahu.
“Dinda baru saja pulang seusai ujian, dan berniat membeli hadiah, karena pada saat itu aku sedang merayakan berkurangnya usia. Di saat Dinda sedang menunggu angkutan umum untuk pulang kerumah. Segerombolan bajingan tengik sedang melakukan perang sauadara. Dan Dinda, terperangkap di tengah pertempuran itu. Dan salah satu dari bajingan itu, ada yang menggunakan larutan HCl. Dinda yang tak tahu apa-apa, menjadi korban dari bajingan itu. Saya berusaha melaporkan kejadian itu ke penegak hukum. Namun Dinda melarang saya, karena baginya. Biar Tuhan saja yang membalas kebrengsekkan orang tersebut.” Ucap pemimpin arif itu.
“Sudahlah yah, jangan di bahas lagi masalah itu. Tak enak, mas Damar mendengar cerita kelam itu.”
Sungguh, mulia sekali hati wanita ini. Tak tahu dengan apa aku membalas perbuatan kejiku ini.”Apa aku harus menyerahkan diri ini ke penegak hukum?” gumamku
“Baiklah pak. Apa Dinda sudah mempunyai calon untuk menjadi pasangan hidupnya?” ucapku tanpa pikir apapun.
Dinda tertawa dan seraya berkata “Mas Damar ini aneh, mana ada yang mau dengan wanita buruk rupa seperti aku ini.”
“Memangnya kenapa mar?” Ucap pemimpinku ini.
“Baiklah pak, 8 tahun lalu. Saat Dinda sedang menunggu angkutan umum. Dan terjadi pertempuran. Sejujurnya, aku pak. Aku yang berbuat keji, menyiram Dinda dengan larutat HCl. Penjarakan saja aku pak, aku takut saat kejadian itu terjadi. Aku lari dan tak bertanggung jawab kepada Dinda.” Kataku
“Apa? Bajingan! Akan kubunuh kau!” Balas pemimpin itu dan pertama kalinya aku melihat ia menggunakan mimik wajah menyerupai hitler.
“Sudah yah! Sudah, mas Damar tak bersalah. Aku yang salah, aku yang bodoh. Hanya berdiam diri saja, dan tak lari. Padahal waktu itu mas Damar sudah bilang untuk segera lari, tapi aku hanya diam saja.” Balas Dinda membelaku.
Oh tuhan, dosa apa yang aku perbuat waktu itu. Dinda sungguh mulia Tuhan, mengapa ia yang harus menjadi korbanku pada waktu itu.
“Tadi kau bertanya, apa Dinda sudah punya calon pasangan hidup. Kenapa kau bertanya seperti itu.” Ucap pemimpin itu dengan suara datar.
“Dinda, maukah kau menjadi pasangan hidupku? Aku ingin meminangmu bukan karena aku kasihan kepadamu, dan ingin menebus kesalahanku, juga bukan karena ayahmu seorang pemimpin tertinggi di perusahaan tempat aku bekerja. Aku ingin meminangmu karena Allah. Ia-lah yang selama ini membisikkanku. Jika aku bertemu dengan wanita itu, seburuk apapun dia. Halalkanlah dia, karena dia jodohmu kelak nanti. Dan sekarang, aku bertemu denganmu. Maukah kau Dinda?
“Bagaimana ayah?”
“Kau yang menjalankannya Din, terserah kau saja.”
“Baiklah mas, aku terima lamaranmu ini.”
Hari indah itu kita lalui dengan sakral. 5 tahun aku menjalin pernikahanku dengan Dinda. Aku bahagia hidup dengannya. Memang banyak sekali cemoohan yang aku dapat dari sekitar lingkunganku, karena aku menikahi wanita buruk rupa seperti Dinda. Ditambah, kelahiran putra pertamaku dengan Dinda membuat hari-hariku lebih berwarna. Dinda, sosok lembut nan jelita. Memang buruk rupanya namun kebersihan hatinya lah yang membuat aku selalu bersyukur kepadan tuhan. Dan tuhan, terima kasih kau telah menemuiku dengan sosok Sinta dalam tokoh pewayangan Ramayana. Kisah cinta abadi sepanjang masa.
N.P.S
Kartini, menjelang dini hari
Alasan saja aku ini. Mungkin kalian berpikir aku bodoh, tolol, dan mungkin ada yang ber-pendapat bahwa aku seperti bangsat. Jarang masuk dan banyak masalah di sekolah brengsek ini. Tapi tidak, semua itu tidak benar. Aku seperti ini, memang sang dalang sangatlah sayang kepadaku, maka dari itu ia selalu menyuruhku untuk setia tinggal di kelas apek ini, satu tahun lagi.
“Wei mar, di panggil lo sama kepsek? Mampus lo. Pasti di keluarin nih bentar lagi!” kata si bangsat temanku dengan seringai di wajahnya.
Ingin aku sobek saja mulutnya dan menancapkan pisau dapur ini ke alat pernapasannya. “Oh iye, nanti gue kesono.” Ucapku.
Gundah, yang aku rasa saat ini. Padahal hanya menuruni 20 anak tangga (Sempat aku hitungi saat pertama masuk sekolah brengsek ini). Ah, kenapa dengan sistem pernapasanku ini? Tak beraturan begini, seperti sopir bus dalam kota jika sedang mengantarkan penumpangnya. Sambil bersugesti “Tenang saja, biasanya juga tak mengapa jika dipanggil oleh sang dalang. Paling-paling hanya disuruh untuk merubah sikap saja.
“Assalamualikum pak, selamat siang.”
“Walaikumsalam. Hei damar, ayo silahkan masuk. Duduk mar.”
Tumben sekali, mengapa ia ramah sekali padaku? Biasanya tak seperti ini? Sedang mendapat komisi dari orang tua murid mungkin.
“Ada apa ya pak, bapak memanggil saya?” Kataku dengan gemetar di sekujur tubuh.
“Begini mar, sekarang ini. Kamu sudah duduk di kelas tingkat akhir. Kelas dimana nantinya kamu akan mengikuti berbagai macam ujian. Dan saya berharap, rubahlah sikap kamu yang berantakan selama kamu berada di sekolah ini.
Benar saja kan. Pasti ia menyuruhku merubah kelakuanku. Sudah kutebak, ia itu hanya bisa memberi kata-kata itu. Sudah 20 kali aku menghadap dia, dan hanya kata-kata itu yang ia beri.
“Iya pak, pasti akan saya ubah.”
“Yasudah kalau begitu, sekarang kamu boleh kembali ke kelas kamu.”
Sepanjang menaiki 20 anak tangga itu, hati ini terus bergumam “Gila, gak penting banget. Setiap di panggil, pasti hanya kata itu yang dia kasih.”
Tiba saatnya, saat dimana pemimpin di negeri bedebah ini memberi soal-soal yang menentukan aku layak untuk meninggalkan sekolah brengsek ini atau tidak. 4 hari ujian ini berlangsung. Semua teman-teman bangsatku merasa kebingungan, serasa manusia yang tak tahu arah jalan hidupnya. Gelisah di saat hari pertama sudah terlewati. Gundah saat hari kedua juga sudah ku lintasi. 2 hari lagi ujian ini akan berakhir. Mudah saja bagiku untuk mengerjakan soal-soal tolol ini. Aku berpikir semua pelajaran sudah ku kuasai dengan baik. Untuk apa aku 5 tahun berada disini, kalau bukan untuk memperdalami semua pelajaran.
Akhirnya, ujian berakhir. Seperti biasa aku langsung menuju kantin di belakang sekolah brengsek ini. Baru saja menyalakan sebatang rokok. Dan semua teman bangsatku ini datang menghampiri aku yang sedang merasakan nikmatnya tembakau dan wanginya sebuah arabica.
“Mar, ayolah jalan”
“Jalan? Kemane? Lo ngajak gue jalan? Lo aje bawa motor kalo sekolah. Mana pernah lo jalan kaki.”
“Ah tolol banget, ayolah kita rayain selesainya ujian ini.”
“Merayakan? Dengan cara apa? Kita aja belum lulus”.
“Udeh lo ikut aje, sok-sok polos lo!”
Sejujurnya, aku sudah tahu apa yang mereka maksud. Aku hanya memancing mereka saja, agar tahu apa maksud dari ajakan mereka.
Sial, tuhan rasanya sudah tahu rencana jahatku di siang ini. Tuhan sengaja memberi kuasanya dengan menurunkan rintikkan air yang membuat seluruh lekuk tubuh ini basah.
“Nah, itu die tuh mar. Sekolah bangsat yang waktu itu ngobrak-ngabrik sekolah kite.” Ucap salah satu dari mereka yang bangsat.
“Mane? Yaudehlah ayo gelar.” Ucapku dengan setan merasuki tubuh hina ini.
Pertempuran saudara sebangsa dan tanah air terjadi. Seperti perang-perang pada zaman penjajahan dan zaman kerajaan terdahulu. Semua membawa parang, pedang, busur beserta anak panah dan bahkan ada yang tugasnya hanya menyambiti batu dari belakang. Padahal aku tahu kalau melawan mereka. Sama saja melawan saudaraku sendiri. Tapi, perduli setan. Sudah tanggung juga rasanya, sudah kepalang nafsu jiwa ini.
“Wei bangsat, mane air keras gue? Sini kasih gue.”
Disaat pertempuran terjadi, aku melihat sosok seorang wanita memakai baju seragam sekolah juga nampaknya. Ia hanya berdiam diri, tak bisa berbuat apapun. Terperangkap di antara bajingan-bajingan tengik seperti kita ini. Hanya bisa menjerit dan berteriak meminta tolong. Tapi apadaya, kita semua sudah di rasuki arwah dajjal nampaknya.
Aku bermaksud menyelamatkan wanita itu. Tapi, lagi-lagi tubuh ini seperti kerasukan. Ketika melihat salah satu lawan dari sekolah brengsekku ini ada di belakang wanita itu. “Minggir mbak, lari sono. Ngapain lo disini?” Aku langsung menyiram lawanku itu, layaknya menyiram bunga di pagi hari. “Mampus lo! Mati lo!” dan astaga. Ternyata siramanku tadi mengenai wanita itu juga. “Panas, perih, tolong aku.” Kata wanita itu meronta kesakitan.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Lari, yang ada di pikiranku saat itu. Aku lari dengan kencangnya, melebihi macan kumbang sepertinya. Tertabrak sebuah kendaraan roda empat tak membuat aku berhenti. Aku bangkit, melanjutkan pelarian berdosa-ku ini.
Sudahlah, itu hanya masa kelamku yang ku ceritakan kepada kalian. Sudah satu dekade aku melintasi masa kelamku. Iya, aku melanjutkan pendidikanku di salah satu universitas negeri di timur ibu kota. Aku lulus dengan tahun yang sudah di tentukan. Dengan nilaiku saat lulus? Ah tak penting aku paparkan di cerita tolol ini.
Pasti kalian bertanya-tanya, jadi apa aku sekarang ini? Aku hanya sebuah ahli bahasa di salah satu kantor di pusat ibu kota. Sesuai dengan pembelajaranku saat melanjutkan di bangku universitas.
“Mar, di panggil direktur tuh.” Kata rekan kerjaku.
Di panggil oleh sang pemimpin rasanya sudah jadi makanan sehari-hariku saat sekolah dulu.
“Permisi pak, bapak memanggil saya?”
“Iya mar, silahkan duduk. Iya saya ada perlu dengan kamu.” Ucap pemimpin tertinggi di perusahaan ini.
Penglihatanku seketika tertuju pada salah satu lukisan di ruang kerjanya. Lukisan keluarganya, 2 tahun aku bekerja disini dan baru pertama kalinya aku melihat keluarga pemimpin-ku ini walaupun hanya sekadar foto saja. “Dinda namanya.”
Ternyata seorang pemimpin arif ini tahu saja apa yang terbesit dalam pikiranku saat ini.
“Eh pak, maaf pak.” Ucapku dan seperti biasa, gemetar di sekujur tubuh.
“Tak apa, kenapa? Kau terkejut melihat putriku yang cacat seperti itu.”
“Tidak pak, saya hanya ingin bertanya. Apa penyebabnya sehingga ia bisa seperti itu?”
“Baiklah, seusai jam kantor. Kau ikut denganku.”
“Kemana pak?”
“Kerumahku, akan ku kenalkan kau dengan putriku.”
Rasanya aku pernah mengenal wanita itu. Tapi dimana? Ah mungkin itu hanya delusi, imaji dan mungkin hanya sekadar di alam mimpiku saja.
Di jam seperti ini, seperti biasa. Para sopir beradu jotos, para pengemudi roda dua saling berpepetan dan salip menyalip layaknya pembalap moto gp saja. 2 jam berlalu. Sesampainya di rumah pemimpin arif itu, aku langsung menanyakan keberadaan putrinya.
“Din, turun kebawah. Ayah ingin mengenalkanmu dengan karyawan terbaik ayah.”
Ah, bisa saja orang ini. Padahal, akulah yang terbodoh di perusahaannya.
“Duduk mar, mau minum apa? Bi, buatkan segelas sirup. Ada tamuku yang sedang merasakan dahaga.”
Asu! Benar saja. Ternyata wanita 8 tahun lalu itu adalah putri pemimpin arif ini. Diam dan tak berkutik seperti kerbau yang baru saja di beri makan, aku hanya diam saja.
“Kenalkan, ini damar. Damar, ini Dinda. Putri semata wayang saya.”
“Dinda, maaf ya. Kalau wajahku mengganggumu, sehingga kamu merundukkan kepala seraya berdoa.” Ucap Dinda.
“Iya, aku Damar. Tidak kok. Sama sekali tidak menganggu, aku hanya malu saja melihat wanita seperti dirimu. Sejuk sekali, layaknya embun di kala fajar tiba.”
“Ayolah, jangan munafik seperti itu di hadapan ayahku ini.”
Ia tidak ingat sama sekali dengan perlakuanku 10 tahun lalu, yang membuat wajah sejuknya itu menjadi hancur berantakkan.
“10 tahun lalu mar”
Asu! Ternyata ayahnya tahu.
“Dinda baru saja pulang seusai ujian, dan berniat membeli hadiah, karena pada saat itu aku sedang merayakan berkurangnya usia. Di saat Dinda sedang menunggu angkutan umum untuk pulang kerumah. Segerombolan bajingan tengik sedang melakukan perang sauadara. Dan Dinda, terperangkap di tengah pertempuran itu. Dan salah satu dari bajingan itu, ada yang menggunakan larutan HCl. Dinda yang tak tahu apa-apa, menjadi korban dari bajingan itu. Saya berusaha melaporkan kejadian itu ke penegak hukum. Namun Dinda melarang saya, karena baginya. Biar Tuhan saja yang membalas kebrengsekkan orang tersebut.” Ucap pemimpin arif itu.
“Sudahlah yah, jangan di bahas lagi masalah itu. Tak enak, mas Damar mendengar cerita kelam itu.”
Sungguh, mulia sekali hati wanita ini. Tak tahu dengan apa aku membalas perbuatan kejiku ini.”Apa aku harus menyerahkan diri ini ke penegak hukum?” gumamku
“Baiklah pak. Apa Dinda sudah mempunyai calon untuk menjadi pasangan hidupnya?” ucapku tanpa pikir apapun.
Dinda tertawa dan seraya berkata “Mas Damar ini aneh, mana ada yang mau dengan wanita buruk rupa seperti aku ini.”
“Memangnya kenapa mar?” Ucap pemimpinku ini.
“Baiklah pak, 8 tahun lalu. Saat Dinda sedang menunggu angkutan umum. Dan terjadi pertempuran. Sejujurnya, aku pak. Aku yang berbuat keji, menyiram Dinda dengan larutat HCl. Penjarakan saja aku pak, aku takut saat kejadian itu terjadi. Aku lari dan tak bertanggung jawab kepada Dinda.” Kataku
“Apa? Bajingan! Akan kubunuh kau!” Balas pemimpin itu dan pertama kalinya aku melihat ia menggunakan mimik wajah menyerupai hitler.
“Sudah yah! Sudah, mas Damar tak bersalah. Aku yang salah, aku yang bodoh. Hanya berdiam diri saja, dan tak lari. Padahal waktu itu mas Damar sudah bilang untuk segera lari, tapi aku hanya diam saja.” Balas Dinda membelaku.
Oh tuhan, dosa apa yang aku perbuat waktu itu. Dinda sungguh mulia Tuhan, mengapa ia yang harus menjadi korbanku pada waktu itu.
“Tadi kau bertanya, apa Dinda sudah punya calon pasangan hidup. Kenapa kau bertanya seperti itu.” Ucap pemimpin itu dengan suara datar.
“Dinda, maukah kau menjadi pasangan hidupku? Aku ingin meminangmu bukan karena aku kasihan kepadamu, dan ingin menebus kesalahanku, juga bukan karena ayahmu seorang pemimpin tertinggi di perusahaan tempat aku bekerja. Aku ingin meminangmu karena Allah. Ia-lah yang selama ini membisikkanku. Jika aku bertemu dengan wanita itu, seburuk apapun dia. Halalkanlah dia, karena dia jodohmu kelak nanti. Dan sekarang, aku bertemu denganmu. Maukah kau Dinda?
“Bagaimana ayah?”
“Kau yang menjalankannya Din, terserah kau saja.”
“Baiklah mas, aku terima lamaranmu ini.”
Hari indah itu kita lalui dengan sakral. 5 tahun aku menjalin pernikahanku dengan Dinda. Aku bahagia hidup dengannya. Memang banyak sekali cemoohan yang aku dapat dari sekitar lingkunganku, karena aku menikahi wanita buruk rupa seperti Dinda. Ditambah, kelahiran putra pertamaku dengan Dinda membuat hari-hariku lebih berwarna. Dinda, sosok lembut nan jelita. Memang buruk rupanya namun kebersihan hatinya lah yang membuat aku selalu bersyukur kepadan tuhan. Dan tuhan, terima kasih kau telah menemuiku dengan sosok Sinta dalam tokoh pewayangan Ramayana. Kisah cinta abadi sepanjang masa.
N.P.S
Kartini, menjelang dini hari
Langganan:
Postingan (Atom)