Siang itu, dimana semua umat manusia berpesta pora. Berpesta
menyambut penguasa baru. Penguasa yan awalnya juga menguasai suatu daerah ke
daerah lain. Awalnya si penguasa itu hanya menjadi budak penguasa. Dan
ditugaskan untuk menguasai pedesaan dan akhirnya di pindahkan ke desa
lainnya, karena hasil kerja yang
memuaskan dan tidak pernah membebani rakyat desa tersebut. Tapi, seketika masa
kekuasaan ia berakhir. Penguasa itu bertekad untuk menguasai daerah lain.
Muncul satu pikiran, jika ia menguasai suatu pedesaan lagi. Maka, kehidupan ia
hanya begitu-gitu saja. Hanya mengharapkan upeti kecil dari penguasa.
Akhirnya,
budak penguasa itu di calonkan untuk menguasai ke kota. Kota tempat semua umat
manusia berburu mendapatkan harta, tahta, bahkan sampai cinta. Saingan budak
penguasa tersebut ialah orang yang dulunya pernah menguasai kota tersebut.
Para rakyat
sudah tahu, tentang etos kerja budak penguasa itu saat ia di tugaskan menguasai
suatu pedesaan. Para rakyat tanpa pikir panjang dan tak mau memikirkan jadi apa
kota ini jika di pimpinnya nanti, memilih budak penguasa yang ingin menguasai
kota tersebut.
Sempat
banyak pertentangan, saat tahu jika ia mempunyai teman kerja yang notabene-nya
adalah penganut aliran lain dari budak penguasa itu. Para rakyat seakan di
hipnotis, seakan di paksa mengangguk saja saat budak penguasa itu menerangkan.
Mengapa ia memilih teman kerjanya yang
beraliran lain. Dia berpendapat, jika kota ini harus berlandaskan dengan kitab
sutasoma, yang berisi Berbeda-beda tetapi
tetap satu jua.
Anehnya,
budak penguasa itu seakan belum puas jika ia hanya menguasai kota saja. Ia
berniat menguasai negara tersebut. Dalam salah satu surat kabar, di sebutkan
jika budak penguasa itu di calonkan lagi untuk menjadi penguasa negara. Bagaimana
bisa? Ia bahkan belum menyelesaikan tugasnya di kota ini. Baru 2 tahun ia
menguasai kota, mengapa? mengapa cepat sekali ia berpikiran untuk menguasai
negara tersebut.
Pemilihan
lagi, dan para rakyat serasa di hipnotis lagi dengan aura budak penguasa yang tidak lama lagi akan menjadi penguasa di
negaranya. Akhirnya, benar adanya. Budak
penguasa itu terpilih lagi. Dan sekarang ia resmi menjadi penguasa
negara.
Tapi, ada
yang janggal di masa kekuasaannya. Ia menggembor-gemborkan, jika ia aka
mensejahterakan rakyatnya seperti ia mensejaterahkan pedesaan yang dulu sempat
ia kuasai. Semua orang terkaget, tercengang dan ternganga. Ketika mendengar
putusannya yang menaikkan bahan bakar menggunakan minyak. Minyak, yang
mayoritasnya rakyat memakai bahan yang menggunakan minyak itu. Menaikkan harga,
dengan alibi subsidi bahan bakar tersebut di gunakan untuk daerah-daerah
pelosok yang masih kekurangan sekolah, rumah sakit, dan bahan pangan.
Salah satu
daerah dekat dengan teluk mempunyai cerita kehidupan yang di pimpin seorang
penguasa munafik. Dan seorang nelayan di yang sedang menunggu hasil
tangkapannya ikut merasakan imbasnya kenaikan bahan bakar itu.
“ketika
harga BBM naik pasti selalu mengancam kehidupan kami para nelayan, bukan hanya ombak besar dan badai laut
yang mengancam kehidupan kita tapi naik nya harga BBM juga ikut andil dalam
hancurnya perekonomiam kami para nelayan.” Ujar nelayan, sambil terdiam dan
menghela napas lalu berkata lagi “Em…. Sekarang lengkaplah sudah penderitaan
kami… terimakasih penguasa kau telah berikan kesengsaraan pada kami…
Penguasa
seakan tak perduli dengan penderitaan nelayan tersebut. Dengan lenggangnya ia
muncul di televisi, surat kabar dan radio. Muncul dengan pemberitaan yang
membuat ia semakin terlihat gahar dengan kebohongan-kebohongannya.
Dan penguasa
itu mengikuti cara penguasa sebelumnya dengan cara mengikuti kebijakan dan
peraturan yang dahulu pernah di ciptakan.
Sementara di
luar sana banyak nelayan yang berpendapat jika peraturan di ciptakan hanya
untuk mengekalkan kekuasaan.
Matahari, sumber kehidupan untuk semua umat manusia. Dan di
siang hari itu pula matahari tepat berada di titik tengah.Saat jam dinding
tepat menunjuk ke arah utara, semua umat manusia di negeri itu merasakan
dehidrasi yang tak seperti biasanya. Dehidrasi yang bisa mematikan semua umat
manusia.
Para umat
manusia sebenarnya bisa saja menenggak sebotol air yang menyejukkan tenggorok
dan membasahi bibir kering ini. Tapi, apa boleh buat, para umat manusia di
negeri itu sedang kepusingan memikirkan bahan bakar yang menggunakan minyak itu
naik. Dan imbasnya ke seluruh bahan pangan. Apalagi, upah para pekerja tak
cukup menghidupi suatu keluarga.
Anak-anak juga terkena imbasnya. Secara logis,
mereka masih menuntut ilmu. Dan mereka tak mungkin jalan kaki dari rumah hingga
tempat mereka menuntut ilmu tersebut. Angkutan transportasi mengikuti jalannya
kebijakkan kenaikan bahan bakar minyak itu.
Sungguh
sangat di sayangkan, mengapa penguasa yang dahulu di agung-agungkan dan di
sembah-sembah sekarang menjadi seperti ini? Di percayai untuk memimpin negeri
ini dengan carut marutnya. Bukannya mensejahterakan rakyat seperti yang dulu ia
lakukan pada desa yang ia dulu pernah kuasai, tapi ini malah menambah beban
semua rakyat. Terutama yang hanya kerja pas-pasan. Dengan upah tak seharga satu
buah celana jeans di pusat perbelanjaan.
Mengapa? apa
karena ia sekarang sedang mengenakan topeng kemunafikan. Untuk mengelabui para
rakyat yang sedang kesusahan seperti sekarang ini.
Ibu-ibu
rumah tangga seakan tak bisa berkutik sama sekali. Yang dulunya ibu-ibu rumah
tangga bisa memasak bahkan belanja, sekarang hanya bisa memasak dengan
seadanya. Dengan bahan baku yang hampir setiap hari itu-itu saja.
Para ibu-ibu
juga sering mengeluh, bahkan tak sesekali mereka berkumpul untuk membicarakan
mengapa penguasa yang dahulunya kita anggap seperti seorang dewa dan tuhan
sekarang berubah. Seorang dewa yang kita anggap bisa membantu semua umat
manusia untuk sejahtera, sekarang menambah beban.
Di hari
minggu, para ibu-ibu berkumpul untuk bertemu dengan para nelayan. Seorang ibu
yang di sebut sebagai tokoh masyarakat di sana selalu memberi solusi. Tapi,
tetap saja ia pun ikut merasakan imbasnya.
“gara gara
harga BBM naik sampai sundul
langit, maka harga bahan pokok
pun ikut ikutan melambung tinggi
kian sulit terjangkau rakyat kecil. Kata ibu tokoh masyarakat itu.
Para
istri-istri nelayan seraya seperti bersemangat mengikuti perkataan tokoh
masyarakat itu.
Memang ada
banyak bantuan-bantuan yang di beri oleh sang penguasa. Contohnya kantung
bertuliskan swasembada. Tak tahu apa isi di dalamnya, tokoh masyarakat itu
membawa kantunng itu. Di lihat dari bentuknya terlihat ringan. Tetapi, entah
mengapa kantung itu terasa berat saat di panggul para wanita. Terlihat, betapa
lelahnya mereka. Sampai-sampai ada yang jatuh karena tak kuat menahan beban
kantung itu.
Para wanita
itu merasa, beban-beban yang sebenarnya ada di hidup mereka sekarang sama
beratnya dengan kantung yang mereka panggul.
Fajar tiba tanpa terasa, membangunkan sebuah pelosok tanjung
berdekatan dengan pasar. Semua rakyat berkumpul di tengah keramaian pasar. Para
wanita bunting mengayunkan tangan ke wajah yang tampak basah akan kucuran
keringat penuh dahaga. Tawar menawar antar pedagang terjadi dengan kolotnya.
Para
pedagang keras kepala, tak mau menurunkan harga sedikitpun,. Para ibu-ibu juga
tak mau kalah, selalu beradu mulut setiap harinya dengan para pedagang. Bingung,
harus berbuat apa para penanggung beban keluarga. Ingin berkerja ke arah kiri,
namun takut akan jangka panjangnya nanti. Sedangkan, jika ia berkerja ke arah
kanan, tak dapat apa-apa. Hanya secercah harapan, namun masih sedikit buram.
Tertutup awan tebal menggeluti langit.
Tak ubahnya
seperti masyarakat kota lainnya, ibu-ibu rumah tangga di pelosok tanjung itu
juga banyak yang berjualan, menjajakan banyak makanan hasil tangkapan laut yang
di bawa oleh lelakinya.
Ibu RT
dengan bodohnya, ternganga melihat kedatangan penguasa datang menghampiri
nelayan dan para rakyat lainnya. Para nelayan cepat tanggap mendapat kabar
tersebut. Setelah mendapat kabar, langsung di putarnya arah haluan ke arah
tanjung lagi.
Penguasa
itu, seperti biasanya mengobral janji belaka. Hanya seperti beo yang sedang di
ajari bicara. Para rakyat pelosok tanjung itu, mengangguk ke atas dan ke bawah.
Ketika penguasa itu mengobral janji-janjinya.
Tokoh
masyarakat berkelamin wanita di sana, serasa tak mau di bodohi lagi. Datang
menghampiri penguasa itu, bersama wanita-wanita tua, yang sudah di ajari. Untuk
tidak bisa di doktrin/stigma atau apapun namanya, yang berhubungan dengan
hasut-menghasut.
“Mengapa kau
seperti itu? Ada apa kau kesini? Saya
kesini dan seperti ini karna BBM!” Ujar tokoh masyarakat dan nelayan secara
bersamaan.
“Ha ha ha…
Tren lama berkorupsi kini sudah kuno dan tidak berlaku bagi ku, dikarnakan
banyak kawan kawan ku yang telah tertangkap
si cicak dan si buaya. Ha ha ha…” Kata si penguasa dengan gelegat tawa
yang membuat lalat hinggap di kerongkongannya.
Para rakyat
tak mengerti, apa maksut kata dari si penguasa itu. Dia berkata “Banyak
kawan-kawannya yang telah tertangkap” Apa maksutnya? Tak tahu siapa yang di
maksudkan dengan teman-temannya yang tertangkap.
Para nelayan
juga merasa bodoh, ketika si penguasa berkata demikian. “Berarti, jika
teman-temannya tertangkap. Apa ia juga termasuk orang yang akan tertangkap
nanti?” Kata nelayan.
Tokoh
masyarakat di sana mencoba melakukan komunikasi, dengan penguasa itu. Tapi,
para budak-budak penguasa selalu menghalang-halangi.
“Jadi,
selama ini. Kau telah membodohi kami semua?” Kata tokoh masyarakat itu dengan
menarik urat lehernya.
Sang
penguasa berjalan ke kiri empat langkah dan kanan empat langkah. Lalu serasa
orang bodoh yang menemukan ide, ia menjulangkan tangannya ke udara.
“Haha, tapi…
sekarang saya telah mendapatkan trik baru untuk mengembalikan modal pemilu
tahun lalu. Apakah kalian pengen tahu dengan cara apa saya mengembalikan modal
saya? ya saya tau anda semua orang yang kurang pintar, jangan kuatir pasti saya
beritahu caranya. Caranya yaitu dengan menaikan harga bahan bakar minyak
setingi setinginya… ya dengan cara ini pasti saya bisa balik modal bahkan bisa
untung beratus ratus lipat keuntunganya yang aku dapatkan… Ha ha ha…” Kata
penguasa.
“Dasar kau
orang yang munafik, kau menaikkan harga Bbm untuk membalikkan modal pemilu-mu
kemarin?”. Kata nelayan dengan lantangnya.
“Tentu saja,
kalian saja yang selama ini bodoh. Tertipu dengan akal muslihatku.” Kata
Penguasa
Dia terus
tertawa hingga suasana tenggelam dalam tawanya, tapi ditengah tengah tawanya
dia tersendak karna kebanyakan tawa dan ia akhirya tawapun berubah menjadi
eraman seperti orang yang tercekik… dan terdengar suara ” Yang benar tetaplah selamat dan yang salah
pasti mati dengan perbuatanya” sampai
hening dan semuapun berakhir dalam kegelapan.