Senin, 16 Maret 2015

2000:2230


N.





“Harum tubuhmu masih melekat di tubuhku Rob.”

“Oh ya? Mungkin itu perasaan-mu saja Sih.”

“Tidak Rob, aku selalu ingat saat kau memeluk indah tubuh hinaku ini.”

Sih, indah parasmu tak terganti oleh bias bulan di malam itu. Kau melantunkan nama hinaku. Kau bilang lekuk tubuhhmu hina. Tidak bagiku. Anugerah sekali rasanya tuhan menciptakan kau dengan lekuk indah seperti Sinta dalam Ramayana. Memang, aku belum pernah bertemu akan sosok Sinta di kehidupan sebenarnya. Tapi, dari bualan-bualan yang dilantunkan oleh para terdahulu. Makin kagumlah aku akan sosok Sinta.

Aku memanggilmu Sih. Terlalu panjang rasanya jika ku panggil kau dengan Sukaesih. Tak indah juga jika ku panggil kau dengan Su. Atau Esih. Sih, lebih cocok untukmu. Dan aku Rob, lelaki Batavia yang tinggal di samping lorong dekat tempat ibadah warga tionghoa. Kita pernah satu sekolah semasa SMA dulu. Kau mungkin tak ingat akan rupaku. Terlalu sibuk mungkin kau akan lelakimu saat di SMA dulu. Indah benar matamu, hingga tak kuasa selalu ku lantunkan nama indahmu di dalam doaku. Sudah terpatri mungkin.

“Ada apa melihatku seperti itu? Dasar lelaki kurang ajar!”

Tamparan Sih kala itu, membuatku terbangun dari mimpi dan delusi minggu pagi ini. Saat itu, padahal aku hanya melihat tali sepatu Sih terlepas dan ingin berkata demikian. Tapi getaran dengkulku tak kuasa, sehingga tamparan itulah yang ku dapat darinya. Untung saja saat itu tak dapat hantaman dari lelakinya, jadi hanya merah saja pipi bulatku ini.

“Tulisan siapa ini? Kenapa indah sekali. Dan di tunjukkan kepadaku” Ucap Sih.

“Mungkin salah satu guru di sini Sih.” Ucap temannya yang takkan ku sebut namanya. Sebab ini cerita akan aku dan Sih.

“Tak mungkin. Untuk apa salah satu dari guru di sini membuat tulisan indah ini. Dan tulisan ini di tunjukkan kepadaku dan tidak mungkin juga bisa menulis seindah ini.”

“Jadi, kau berpikir salah satu dari murid SMA ini pandai memainkan kata?”

“Mungkin saja, kenapa tidak?”

“Tidak mungkin Sih. Jangan buat guyonan yang membuat-ku tertawa seperti ini. Para wanita? Haha, aneh kau ini Sih. Mereka hanya mementingkan kemolekkan tubuh mereka dan wajah mereka saja. Akan jerawat satu di wajah saja mereka memutar otak untuk menghilangkannya. Untuk menulis seindah ini? Rasanya tidak Sih.”

“Kalau begitu mungkin para lelaki di SMA ini.”

“Haha, Sih. Sudahlah, kau tahu kan? Para lelaki di sini hanya bisa membuat keributan saja. Mana mungkin Sih. Tapi, ada satu dari ratusan murid lelaki di sini yang aneh dan tak ku kenal namanya.”

“Oh iya? Siapa dia?”

“Lelaki itu” Sambil menunjukku di tengah keramaian warung makan belakang sekolah.

“Dia? Dia siapa? Apa dia murid di sini? Satu angkatan dengan kita?”

“Iya, Sih. Aku tak tahu siapa namanya. Dan tak penting juga untuk aku ketahui namanya. Dia satu angkatan dengan kita. Tapi, teman satu kelasnya pun tak mau menemaninya. Dia terlalu berdiam diri, setiap hari hanya berada di pojok ruangan kelas sambil membaca buku-buku di luar pelajaran kita. Novel, kumpulan puisi, antologi puisi, antologi cerpen, kumpulan cerpen, hikayat dan lain-lain. Bisa jadi dialah yang membuat tulisan indah ini.”

Lupakan akan percakapan antar kaum hawa di atas. Tak penting juga untuk dibaca, hanya penjelas cerita ini saja. Iya, memang aku yang membuat tulisan itu. Aku membuat satu buah puisi dan satu buah cerpen yang kutunjukkan untuk Sih. Wanita idamanku. Dan nama pengarangnya ku samarkan menjadi N.N(no name). Ku tempelkan di mading lantai 2 sekolahku. Aku bukan anggota mading di kegiatan sekolahku. Jadi tak mungkin aku menempel tulisan ini di siang hari saat pelajaran berlangsung. Waktu istirahat juga tak mungkin rasanya. Sebab lebih nyaman di pojok ruangan ini dan membaca tulisan-tulisan yang aku pinjam di perpustakaan sekolahku. Saat di kantin, mungkin hanya 5 menit saja aku berada di sana. Karena tak nyaman dengan suasana keramaian.

Lupakan lagi tentang masa-masa di SMA dulu. Harum kelulusan sudah ku rasakan. Wanginya ijazah sudah tercium juga. Sudah 7 tahun aku meninggalkan SMA-ku. Ku lompati masa-masa kuliah. Karena ini cerita tentang pertemuan-ku akan Sih di saat pertemuan SMA-ku. Undangan sudah ku terima dari satu minggu yang lalu. Tak sabar juga raga ini untuk melangkahkan kaki ke pertemuan itu. “Bagaimana Sih saat ini? Apa ia masih bersama lelakinya? Bagaimana juga kabar rupa dan indah lekuk tubuhnya? Berubahkah?” Ucapku dengan terus melantunkan doa-doa kecil penghantar sebelum terlelap.

Sabtu, 14 Maret 2020. Pukul 8 malam aku berangkat dari kediamanku. Berkendara seorang diri sudah biasa ku lakukan setiap hari. Jarak dari kediamanku ke tempat pertemuan tak jauh juga, dan Tuhan mungkin merestui perjalananku kali ini. Tidak ada macet sama sekali di Batavia malam ini. “Ah, syukurlah! Terima kasih Tuhan.” Gumamku.

Pukul 8 lewat 30 menit aku sampai di acara pertemuanku. Sih, dialah orang yang pertama harus ku cari. Dan malam ini, akan ku ajak ia berbicara. Persetan dengan rasa malu-ku ini. Sudah 7 tahun Sih tidak mengenalku mungkin. Itu dia Sih! Berbeda sekali ia. Dan sekarang dia indah sekali, gaun hitam yang menutupi lekuk tubuhnya, rambut yang berlagak seperti Madona, dan hitam warnanya. Ah, sempurna sekali. Sutra ku rasa bahan yang ia pakai. Lembut sekali kelihatannya dari kejauhan.

“Hai, kau Sih?” Ucapku dengan gemetar.

“Iya betul.”

“Aku Rob, kita satu sekolah saat di SMA dulu.” Ah bodohnya! Jelas saja, ini kan pertemuan SMA kita dulu. Pernyataan yang bodoh.

“Haha”

“Lho? Mengapa kau tertawa?”

Ya tuhan, senyum Sih mengingatkanku akan keindahan sebuah aurora di ketinggian sana.

“Rob. Kau Robert Dwi Putra. Kau berada di kelas samping kelas-ku. Kau orang yang pendiam, sulit bergaul, tidak pernah berkomunikasi, kau hanya membaca buku setiap harinya. Lulus dari SMA kau masuk perguruan tinggi negeri, mengambil ilmu sastra murni, menjadi seorang penulis, sastrawan mungkin, penyair mungkin, dan satu hal yang sampai saat ini yang tak pernah aku lupa. Kau Rob. Kau yang membuat tulisan indah saat itu di mading sekolah. Dan tulisan itu kau tunjukkan kepadaku. Aku sudah tahu sejak aku melihatmu di malam hari menyelinap ke gedung sekolah. Awalnya aku berpikir mungkin ada bukumu yang tertinggal. Tetapi esok harinya, tulisan indah itu muncul di mading sekolah. Mengapa Rob? Mengapa tak kau akui saja kepengaranganmu itu?”

Asu! Ternyata ia tahu tentangku belakangan ini. “Iya Sih, aku yang menulis. Lalu? Kau marah?”

“Dasar bodoh. Tentu saja tidak. Aku senang.”

Menunjukkan pukul 10 lewat 30 menit larut malam, Sih memintaku untuk mengantarkannya pulang. Tentu saja senang dan sangat bersedia untuk mengantarkannya. Sepanjang perjalanan aku memutar lagu yang Sih suka saat berada di SMA. Berlagak kebaratan memang, Just the way you are. Lagu yang terus ku putar ulang saat perjalanan pulang. “Sudah sampai Sih. Tepat di depan rumahmu.”

“Rob. Mengapa tak dari dulu kau bersamaku seperti sekarang ini?”

“Maksudmu?”

“Aku senang bersama denganmu. Nyaman, dan terasa hanya kau yang ku harapkan belakangan ini.”

“Sih, kau terlalu sibuk akan lelakimu saat itu. Semua murid di sekolah kita dulu tahu, betapa romantisnya kau dengan lelakimu.”

“Tidak! Itu hanya pemikiran mereka dan mungkin pemikiranmu saja. Ia bukan pilihanku. Kaulah Rob, kau yang ku tunggu.”

“Sudah larut Sih. Lebih baik kau masuk ke dalam.”

Bangsat! Gila! Tanpa unsur paksaan Sih menciumku. Saat ku coba untuk menolak Sih memaksa. Tak bisa, dia bukan halalku. Ku peluk dia, dan ku cium kening putihnya.”Aku mencintaimu Sih. Aku tak mencium-mu bukan berarti aku tak mencintaimu. Melainkan aku menghormatimu sebagai wanita yang ku cintai. Aku hanya ingin mencium-mu saat kita sudah menikah nanti. Sih, sudah lama aku sendiri. Dan aku tahu kau juga seorang diri sekarang ini. Sih, maukah kau menjadi pasangan di acara pernikahan kita nanti? Aku ingin kau menjadi bagian dari awal perjalanan hidupku. Sih, selama ini kau hanya menjadi delusi di setiap khayalku dan saat ini aku ingin kau menjadi kenyataan dalam hidupku ini. Maukah kau?”

“Rob. Kau sungguh-sungguh mencintaiku? Tapi mengapa selama 7 tahun ini kau hilang tanpa seorang-pun tahu tentang dirimu.”

“Aku menunggumu Sih, aku selalu melihat bagaimana kabarmu setiap harinya melalui pesan-pesan yang kau tulis di media sosial. Saat hari lahirmu, aku selalu menulis sajak-sajak akan dirimu. Dan di bukukan, bahkan di terbitkan oleh salah satu penerbit.”

“Rob. Aku mencintaimu.”

Sih memeluk erat tubuhku, tak ingin ku lepas rasanya pelukan hangat Sih. “Pulanglah, esok kita akan bersua kembali.”

“Iya Rob. Kalau begitu aku masuk dulu. Kalau kau sudah sampai, kabari aku secepatnya.”

“Iya, aku pulang Sih. Selamat malam.”



Sih, akhirnya delusi, imaji, dan apapun itu namanya sudah tak berguna lagi. Aku membuat kau menjadi kenyataan dalam hidupku. Aku membuat kau menjadi pasangan dalam hidupku, aku yang mengagumimu sejak sekolah dulu kini akan menjadi seorang lelaki yang menemanimu di setiap harinya. Ah, Sih. Andai kau berada di sampingku saat ini, mungkin kau akan tersenyum bahagia melihat ku membuat tulisan ini untukmu. Tenanglah Sih, Tuhan bersamamu. Lantunan doa yang ku panjatkan di setiap ibadahku, ku tunjukkan kepadamu. Kau sih, kau yang selalu terpatri di dalam hati ini. Kau Sih, yang membuat-ku tahu akan penyakit apa sebenarnya yang bersarang di dalam kepala bulatmu. Dan Sih, sampai berjumpa di kehidupan selanjutnya. Aku, yang mencintaimu seperti awan bersama bulan pada malam itu.