Rabu, 21 Januari 2015

Lorong Kematian



Bermula dari sebuah lorong sebuah persimpangan jalan, dekat sebuah taman. Kita, berjumpa pada sebuah kenyataan pahit yang kau namakan saat itu. Sebuah lorong kematian yang kau namakan, mengapa? Mengapa kau sebut dengan lorong kematian? Apakah setiap orang yang melewati lorong itu, akan berjumpa dengan ajalnya? Tapi, mengapa kita baik-baik saja. Ketika kita melangkah berjalan lurus tanpa menoleh sekalipun.

Memang sebuah tulisan terpampang jelas di sepanjang lorong. “KEMATIAN SUDAH MENUNGGU?” apa hanya karena sebuah aksara itu, kau menyebutnya lorong kematian? Apa maksudnya? Hanya kau yang tahu maksud dari aksara tersebut. Setiap kita melewati lorong itu, pasti hanya sebuah ketakutan yang menghantuimu. Mau bagaimana lagi? Hanya lorong itu, jalan tercepat menuju tempat dimana kita bekerja. Hanya 20 Menit jika kita melintasi lorong itu. Dan bayangkan saja, jika tidak melintasi lorong itu. Mungkin, bisa 3 jam untuk sampai pada tempatnya.

“Cepatlah, percepat langkahmu bodoh!” Katanya sambil menutupi telinga dengan ke-2 tangan.

“Mengapa? lorong ini sangat bagus. Coba lihat! Penuh warna di sepanjang lorong.” Kataku.

Dia, sebuah sosok yang sudah kuanggap sebagai pengganti saudara laki-lakiku yang kini sudah berbeda alam. Ben namanya, lelaki renta dengan penuh dosa. Ia lahir lebih dahulu dibanding aku. Dan aku, aku adalah Jim. Seorang lelaki yang tinggal di ujung kota kemunafikan ini.

Memang kami sering jalan bersama. Dan jika ada seseorang yang mengganggu perjalanan kami ber-2. Pastilah Ben mengusir seseorang itu dengan segala cara. Tak perduli orang itu marah atau tidak. Ben tetap akan mengusirnya. Habis, mau bagaimana lagi? Ben-lah yang lebih tua, jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa, jika ia bertindak se-enak jidatnya saja.

“Jim, mengapa kau senang sekali melintasi lorong ini?” Kata Ben.

“Ya memang sudah sepatutnya kita melintasi lorong ini. Bayangkan saja, jika kita memutar dan tidak melintasi lorong ini. Pasti akan selalu terlambat.”

“Iya, aku paham. Tapi…” Kata Ben dengan wajah pucat di lekukan wajah keriputnya.

“Tapi apa?”

Diam, bagai beo yang di sogok mulutnya dengan seonggok jagung mentah. Aku terus memperhatikan seluruh seluk beluk lorong ini. Tak ada apa-apa. Hanya ada tulisan-tulisan yang menurut-ku tidaklah penting untuk di tanggapi. Tapi Ben terus ketakutan dan menambah kecepatan jalannya. Tak perduli dengan aku yang tertinggal jauh di belakangnya.

“Ben, dasar bodoh! Tunggu aku, aku tertinggal jauh di belakangmu.” Kataku dengan urat menarik ke atas leher.

“Persetan denganmu Jim, aku tidak ingin berlama-lama di lorong kematian ini.”Balas Ben dengan menambah kecepatan jalannya.

Suatu ketika, aku mencoba mencari tahu tentang lorong itu dari sebuah Internet. Dan ternyata aku tahu jawabannya. Mengapa Ben takut sekali ketika ia melintasi lorong itu. Lorong kematian yang ia takuti selama ini ialah lorong yang dahulunya jalur lalu-lalang para pedagang etnik tionghoa. Dan benar saja, ternyata dahulu sempat terjadi tragedi pembataian para etnik tionghoa di sepanjang lorong itu.

Beberapa dekade lalu, saat krisis melanda Negeri bedebah ini. Kerusuhan terjadi di seluruh penjuru Negeri. Memang, puncak kerusuhan itu terjadi di kota munafik ini. Dan aku rasa Ben sudah lahir saat kerusuhan itu terjadi. Saat itu, para etnik tionghoa mencoba menyelamatkan diri mereka. Mereka melintasi lorong itu. Lorong yang ditakuti Ben selama ini. Dan disaat mereka melintasi lorong itu, para perampok sudah siap menunggu di ujung lorong. Mereka mencoba memutar balik arah. Tapi, apadaya mereka sudah menunggu juga di ujung lorong lainnya.

Benar saja, tak ada yang selamat saat tragedi itu. Tak satupun mayat para etnik tionghoa itu di temukan. Hanya pakaian mereka yang tesisa. Kaca mata, kalung dengan lambing tuhan mereka, dan juga sandal butut yang di pakai saat mereka menyelamatkan diri. Lalu, mengapa Ben takut sekali melintasi lorong itu?

Siang ini, di saat matahari sedang teriknya. Dan dahaga yang membuat kerongkongan ini haus sekali. Aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada Ben. Apa yang terjadi sebenarnya.

Aku menghampiri Ben. Dan mencoba bertanya tentang artikel yang aku baca tadi pagi. Tapi, apa Ben akan menjawab semua pertanyaan-ku? Pertanyaan yang jelas-jelas sudah ada jawabannya di artikel yang aku baca.

“Hei Ben”

“Hei Jim, ada apa?

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu.”

“Oh iya? Apa itu?

“Tapi janji! Kau tidak akan marah denganku.”

“Tentu saja tidak bodoh! Cepat, apa yang ingin kau tanyakan?”

“Aku membaca sebuah artikel pagi ini. Artikel tentang lorong yang setiap harinya selalu kita lintasi. Di artikel itu di sebutkan, jika dahulu terjadi pembantaian etnik tionghoa. Lalu, apa yang kau takutkan? Apa kau melihat langsung pembantaian itu? Sehingga kau tidak berani untuk melintasi lorong itu?”

“Baiklah, akan ku jelaskan semuanya.”

Dahulu, beberapa dekade yang lalu. Aku sedang melintasi lorong itu. Memang, dahulu sempat terjadi pembantaian di seluruh lorong yang aku takutkan itu dan aku sebut sebagai lorong kematian. Kejadiannya sore, tepatnya setelah umat islam menjalankan perintah dari tuhannya. Aku berniat pulang ke rumah, karena aku tahu saat itu Negeri kita sedang kacau balau. Saat rezim pemerintahan selama 32 tahun itu ingin di lengserkan. Dan saat aku baru setengah perjalanan melintasi lorong itu. Para etnik tionghoa itu berlari, berlari secepat mungkin. Aku bingung, mengapa mereka berlarian. Aku bertanya kepada salah seorang yang ikut berlari. Mereka hanya berkata “Cepatlah, Kematian Sudah Menunggu.” Apa? Aku tak mengerti maksud dari perkataannya. Benar saja, ternyata mereka sudah di hadang di ujung lorong. Saat mereka memutar arah, ternyata mereka juga sudah di tunggu oleh para pembegal itu sudah menunggu di ujung lorong satunya. Mereka pasrah,dan aku ada di tengah-tengah mereka. Mereka ber-doa dengan kepalan tangannya. Ber-doa sambil memegang kalung berlambangkan tuhannya di dekat leher mereka. Tanpa pikir panjang, mereka semua di habisi oleh para pembegal. Tak ada satupun yang tersisa. Dan salah satu dari etnik tionghoa yang menuliskan aksara di lorong itu “KEMATIAN SUDAH MENUNGGU.”

“Tapi, mengapa mereka tidak membunuhmu?” Kataku, menyela pembicaraan.

“Tentu saja tidak, karena aku asli pribumi. Jadi, mereka tidak membunuhku. Memang sempat mereka menanyaiku. Aku ini pribumi atau tionghoa? Saat aku tunjukkan kartu identitasku, mereka hanya mengabaikan-ku dan berkata “JANGAN IKUT CAMPUR LO YE!” Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat itu. Hanya ketakutan yang menyelimutiku. Ketakutan yang kubawa sampai saat ini.”

Dan Jim, satu hal yang perlu kau ketahui. Aku Ben. Aku adalah dirimu. Aku adalah ketakutan-mu. Ketakutan yang sudah lama kau simpan. Lupakan-lah Jim, kejadian itu sudah lama berlangsung. Untuk apa masih kau kenang? Dan tugasku sebagai ketakutan-mu akan berakhir. Ketika kau sudah mendengar penjelasanku. Jim, semoga kau segera melupakannya. Sebab Tuhan punya kehendak lain, mengapa ia membiarkan-mu hidup saat tragedi itu berlangsung. Kau Jim. Kau adalah saksi sejarah yang akan memberi kenangan pahit pada anakmu kelak. Lupakan Jim! Tapi, ingat-lah. Ingat dengan semua imbas yang sekarang terjadi pada Negeri ini. Pada kota ini. Yang sekarang di pimpin oleh seorang etnik tionghoa.









N.P.S



Kartini, Menjelang dini hari



Jumat, 16 Januari 2015

Bintang

 Terlalu larut rasanya ku terbuai akan indah parasmu,
Sementara awan tebal terus menutupi.
Menutupi sebuah bintang yang kukagumi belakangan ini.
Aku bertanya kepada sang pencipta

“Duhai tuhan,
  Mengapa pula kau
  Datangkan awan-awan pengkihanat itu?
  Pengkhianat yang tak pernah menyampaikan
  Pesan bodohku kepada sang bintang?”

Rindu itu selalu saja menancap di jarum jiwa
Dengan sejarah yang tak berpribadi
Dengan malam yang tak nampak rembulan

Aroma pinus dari taman sorga terasa aneh
Jika kuhirup seorang diri.
Dan kini, aku menengadah ke langit tak bertuan
Sambil kulompati pagar berduri di samping sebuah taman tak bernama.

Ternyata, sama jawabnya.
Gumpalan awan itu masih saja berkhianat.
Tak menyampaikan kerinduan tolol ini kepadanya.
Dan sekarang aku tahu jawabnya,
Mengapa awan bodoh itu berkhianat.

            “Kau hanya sebuah delusi,
             Imaji, dan tempat labuhan terakhir
             Di sebuah tanjung.”

Mungkin inilah kuasa tuhan.
Setahun, sewindu, dekade,
Bahkan abad sekalipun.
Tetap kutunggu sebuah bintang itu.
Bintang yang ku kagumi belakangan ini
Dan kusesali dengan sebuah kerinduan.


                                                                                                                       N.P.S


                                                                                                         Kartini, menjelang dini hari

Selasa, 06 Januari 2015

Elegi Hujan Sore Hari

Mengapa setiap umat harus menyingkir dari kuasanya
Mengapa jua setiap insan harus mengumpat dari pemberiannya
Dan mengapa pula setiap khalayak harus berteduh dari rezekinya

Siang itu, tak ada senyuman yang terlukis dari setiap insan
Bahkan, aroma asap yang mengepul
Dari sebuah bis kota yang beradu jotos saja tak bisa melukis
Sebuah gambaran detak jantung berlambang sunyi

Hanya air yang meyirami
Sekujur lekuk tubuh ini.
Dan elegi hujan siang hari

Membuat-ku tertawa geli di pagi ini

Senja

Kala itu, senja tiba di penghujung hari. Senyap bercampur sunyi di lorong ini. Dan saat itu pula, rintik air membasahi bumi yang sedang di landa kemarau. Sesaat terdengar alunan sebuah gitar di sampng lorong. Siapa yang memainkannya? Ah, tidaklah penting. Dan terdengar juga suara gelegar tawa dari belakang lorong. Dan kali ini, aku menanggapinya. Tapi, hanya sekedar menoleh lalu berbalik lagi.

Aku surya, mahasiswa baru di salah satu universitas di jantung ibu kota. Mengambil ilmu kesusastraan, rasanya hal yang paling membingungkan bagi teman dan orang tuaku. Mengapa? mengapa aku mengambil ilmu ini? Dan mngapa pula, tak aku ambil ilmu-ilmu yang menurut sebagian orang berpengaruh di masa depan nanti.

Sudahlah, tak penting juga kalau aku bercerita. Tetapi, aku berterima kasih dengan sepupuku. Dia-lah yang telah mengenalkanku pada ilmu sastra. Memang, aku tak begitu akrab dengannya. Tapi, sekedar bercengkrama di waktu senggang sering kami lakukan.

Dan bukan itu pula sebenarnya cerita yang ingin aku paparkan disini. Kembali lagi ke lorong, awal cerita berasal. Sesekali aku menoleh ke depan, tak ada seorang-pun makhluk yang melintas. Ah, bodohnya. Jelas saja, di luar kan hujan. Pasti setiap makhluk sedang menyingkir dan mengumpat dari rezeki yang di beri tuhan.

“Hai sur, ngapain lo diem aja disini?”
Seketika suara itu membangunkanku dari lamunan yang membosankan ini. Adit, teman sekaligus tempat penyimpanan uang-ku. Karena hanya ia yang selalu peka terhadap lamunanku dan hanya ia juga teman yang selalu peka pada kondisi tubuhku, ketika tubuh ini mulai terasa dahaga dan lapar.

“Ah, elo dit. Bikin kaget aja.”
“Lagi, elo ngapain coba sore-sore gini bengong bodoh macem kambing mau di potong.”
“Enggak kok, gue cuma lagi ngisi batre handphone gue aja.”
“Oh gitu. Eh, daripada lo sendirian disini. Mending lo ikut gue.”
“Kemana?”
“Udah, ikut aja. Anak-anak juga pada gak ada.”
“Oh, yaudah deh. Asalkan”
“Asalkan apa sur?”
“Asalkan, lo beliin gue makan dan minum. Laper banget gue nih.”
“Ahelah sur, emang biasanya juga gue yang beliin lo kan.”
“Yoi deh, sekalian rokoknya ya.”
“Selow.”

            Setelah percakapan bodoh terjadi. Aku dengan polosnya mengikuti adit melangkah. Tak tahu ingin beranjak kemana, dan setiap langkah yang kupijak. Aku selalu bertanya, mau kemana? Dan adit selalu menjawab “Sudah,ikut saja. Banyak bicara lo.”

Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kita sampai. Tak tahu mengapa, rasanya lelah saja. Padahal aku berjalan, hanya  5 menit. Dan itu-pun masih sekitaran kampus.

“Ngapain nih dit? Kok banyak orang pada dandan?” kataku dengan tampang polos dan mulut ternganga.
“Kita latihan teater ya? Lo kan suka acting gitu tuh. Nah, lo bantuin gue ya. Tapi, gue main musik disini, dan elo harus jadi aktor.”

            Aku tak tahu apa yang ada di benak adit saat itu. Dia menyuruhku untuk menjadi aktor? Sudah gila apa dia. Sudah tahu aku benci dengan dram-drama cinta di televisi. Nah, ini malahan aku di suruh bermain. Jadi aktor pula. Sudah sinting rasanya si adit. Dan sintingnya lagi, ini kan angkatan di atas aku dan adit. Mengapa, aku bermain bersama mereka? Wah sudah edan.

“Hai ka, ini nih. Teman gue, yang gue bilang kemarin. Dia katanya mau bantuin kelas kaka.”Kata adit dengan tangan menolehku.

            Dasar gila. Kapan aku berucap seperti itu? Jelas-jelas dia saja baru memberi tahu aku sesampainya disini.

“Benar kamu mau bantuin kita?” kata kaka senior.
“Ehmmm.”
“Kenapa?” Balas kaka senior.
“Dia emang suka gitu kak, malu-malu gitu.” Kata adit
“Yaudah deh ka, aku mau. Memangnya aku jadi apa di teater kaka?”
“Yaudah, nanti aku kasih naskahnya. Kamu baca ya.”
“Iya ka.”

            Merasa bodoh, dan tak tahu mengapa ada di sekitar orang-orang yang tak ku kenal. Aku mencoba beranikan diri untuk menyapa. Terlintas di benakku untuk menyapa seorang wanita yang tampak dari kejauhan menuju ke arahku. Nah, benar saja. Dia, memang benar menuju ke arahku. Dan seketika menyapaku dengan hangatnya. Sehangat senja di sore itu. Terlintas di benakku, bahwa ia sosok senja yang kuburu belakangan ini.

Cantik sekali. Persis seperti apa yang kudambakan. Dan jika ku bisa memiliki senja itu, tentu anugrah terindah yang pernah kumiliki.

“Kamu yang bantuin di teater kita ya?” kata senja dengan hangatnya ia menyapa.
“Iya kak”
“Siapa namanya?”

            Ya tuhan, dia mengajakku berkenalan. Entah apa yang harus ku katakan. Menyambar secepat kilat, aku dengan bangganya memperkenalkan diriku.

“Aku surya kak, salam kenal ya.”
“Iya, aku wulan. Salam kenal juga ya.”

            Malam harinya, aku mencoba mencari namanya di media sosial. Dan berhasil, aku menemukannya. Ya tuhan, cantik sekali dia. Ah, persetan dengan semua. Dan aku langsung menulis pesan singkat kepadanya. Tak lama kemudian ia langsung membalasnya.

Percakapan berlangsung secara halus, aku meminta nomor handphone-nya. Setelah di beri olehnya, aku langsung menelfonnya. Dan mengajak bertemu di luar jam kuliah dan juga teater. Dan bodohnya, ia menyetujui ajakkanku. Ah, apa ini mimpi? Seorang senja yang kuburu selama ini, dengan mudahnya menerima ajakkanku.

Esokkan harinya, ia berkata menunggu di halte depan kampusku. Dan aku menyetujuinya. Tapi, mengapa tuhan memberi rintik air di saat aku ingin bertemu dengannya?
Setelah bertemu, kita berencana makan di luar. Tapi sayangnya, hujan menganggu pendekatan kami. 2 jam kita menunggu di halte, mencoba menghindar dari hujan. Dan sudah larut juga baginya.

“Halo mah, iya ini lagi di jalan. Kejebak hujan. Wulan sama teman wulan kok.” Seketika ibunya menelfon, khawatir keberadaan putrinya.
“Siapa?”
“Ibu aku sur.”
“Kenapa ibu kamu?”
“Menyuruh aku pulang, sudah malam katanya.”
“Baiklah, rencana makannya kita batalkan saja. Dan aku akan mengantarmu pulang.”
“Serius?” apa aku tak merepotkanmu? Rumah kita berlawanan arah lho sur.”
“Iya, tak apalah. Kan memang aku yang mengajakmu bertemu. Masa iya, aku tak mengantarmu pulang.”
“Terima kasih ya sur. Yaudah, gimana kita makannya di pinggir jalan aja? Searah sama jalan pulang aku.”
“Yasudah.”

            Setelah aku mengantarnya pulang. Percakapan kami semakin hangat saja, selayaknya dua insan manusia yang telah di pertemukan cintanya. Sesekali aku menegurnya jika sedang berada di kampus. Dan ia membalas dengan senyuman hangatnya.

Rindu sekali aku dengannya, dan terlintas untuk mengajaknya kembali bertemu di luar jam kuliah. Lagi-lagi ia menyetujuinya. Dan lagi-lagi aku terjebak hujan yang tak berlangsung lama. Aku menjemputnya tepat di depan rumahnya. Aku juga berkenalan dengan wanita yang melahirkannya.
Kita pergi, dan menonton film kebarat-baratan. Setelah selesai menonton, kita lanjutkan percakapan dengan makan malam di pinggir jalan. Ah, hangatnya. Padahal di depan sedang hujan besar sekali, tak tahu mengapa, aku merasakan hangatnya senja di sore hari.

Aku tak mau membuang waktu, dan setelah aku mengantarnya pulang. Aku berniat menyatakan perasaanku kepadanya.
Sesampainya di rumah, aku di suguhkan dengan segelas air yang melepas dahaga. “Sur, sebentar ya. Aku mau kakus dulu.” Kata wulan.
Selang beberapa lama, ia datang kembali. Dengan pesona yang biasa saja. Tetapi, begitu hangat jika berada di dekatnya. Ada yang aneh. Ah, perasaanku saja. Mungkin, karena ia berganti pakaian akibat hujan tadi. Jadi, tampak begitu beda.
“Hah, apa maksudmu?” kata wulan.
“Tidak, aku tak mau membuang waktu.”
“Tapi? Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan.”
“Aku cinta kepadamu, kalau aku tidak cinta. Untuk apa aku menemuimu sampai 2 kali ini. Jauh pula. Membuang waktu juga kan. Itu semua ku buktikan karena aku cinta kepadamu.”
“Maksudmu? Berarti kamu tidak ikhlas dengan mengantarku pulang?”
“Bukan seperti itu, tapi itu semua ku buktikan perasaanku kepadamu. Dengan menghabiskan waktuku denganmu.”
“Baiklah, aku terima perasaanmu. Asal kamu serius dalam menjalin hubungan.”
“Benarkah itu?”
“Iyaaaa wulaaaan. Aku pamit pulang ya, sudah larut malam sepertinya. Mana ibu dan ayahmu? Aku mau pamit.”
“Tidak usah, mereka sudah terlelap dalam alam mimpinya. Baiknya sekarang kamu pulang saja. Hati-hati di jalan ya.”
“Sudah pasti, aku pulang dulu yaaa.”
“Assalumalaikum”
“Wassalamualaikum”

            Ya tuhan, tak tahu dengan cara apa aku berterima kasih dengan temanku adit. Dia yang mengenalkanku dengan wanita ini. Kalau tidak ada dia, pastilah aku tidak akan bertemu dengannya. Yang jelas terima kasih sekali untuk adit.

Tetapi, ada kejanggalan di dalam hubungan kita. 5 bulan aku bersamanya, dan sudah 5 bulan juga kita hanya bertegur sapa di waktu senggang. Memang,sesekali aku mengantarnya pulang. Tapi, mengapa ia merasa aneh ketika aku mencoba memegang tangannya.

 Dan selama 5 bulan aku menjalin hubungan bersama wulan,  tanpa unsur kesengajaan. Aku selalu di pertemukan dengan hujan. Mengapa? apa yang salah? Aku rasa tidak ada yang salah. Dan mungkin ini kuasa tuhan agar aku dan wulan dapat saling bertahan. Ini baru hujan, belum badai atau teman sejenisnya. Jadi, untuk apa aku khawatirkan? Dan aku tidak khawatir dengan dinginnya air yang membasahi seluruh lekuk tubuhku. Aku mempunyai senja, senja yang menghangatkanku di saat aku merasakan dinginnya malam dan hujan. Tak usah ku berburu senja lagi, karena aku bersyukur sekali. Aku mempunyai sepotong senja. Senja yang ku cinta dan ku kagumi setiap pancaran sinarnya.

Malam itu, tepat di awal desember. Aku berniat mengantarnya pulang ke rumah. Seperti biasa, ia merasa aneh. Bahkan, tak mengerti jika aku membahas masalah pesan singkat yang aku beri melalui media sosial. Dia hanya mengangguk dan berkata “Oh, yasudah, baiklah, ehmm, dan menganggukkan kepalanya.”
Sesampainya di rumahnya. Seperti biasa juga, ia melayaniku dengan manis. Beda sekali saat di kampus.

“Sur, aku ingin bercerita yang sebenarnya.” Kata wulan.
“Sebenarnya? Maksutmu apa?” Dengan menarik urat di leherku ini.
“De, kesini.”
Apa maksudnya? Untuk apa ia memanggil adiknya?
“Iya kak.”

Sableng bin edan. Ternyata, mereka kembar. Persis sekali, rasanya tak ada perbedaan di antara mereka. Lalu, apa yang terjadi sebenarnya? “Ceritakan, apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa kalian ada 2? Ada apa ini?

“Begini sur, aku wulan dan ini kakaku bulan.”
“Yasudah, lalu? Ada apa ini? Jelaskan? Apa kalian mencoba menipuku?
“Tidak sur, bukan seperti itu. Selama ini, kau mencintai orang yang salah.” Kata wulan.
“Maksudmu?”
“Iya, selama ini kau mencintai kakak-ku. Bukan aku. Malam itu, waktu kamu menyatakan perasaanmu. Itu bukan aku yang menerimamu, melainkan kakak-ku ini.”

Pnejelasan wulan rasanya sudah sangat jelas memukul ragaku malam itu. Pantas saja aku merasa ada perbedaan ketika wulan berada di kampus dan juga di rumah. Ternyata, selama ini aku mencintai wanita yang salah. Jadi, senja yang ku cari belakangan ini sia-sia saja? Ah, persetan dengan semua ini. Memang, aku mencintai senja di sore hari. Dan aku  juga mencintai wulan selayaknya senja. Tapi, mengapa Bulan yang ku dapat? Bulan yang hanya menyinari di malam hari saja. Jadi, apakah senja yang ku buru selama ini mempermainkanku dengan sinar hangatnya? Sudahlah, walaupun mereka mirip sekali. Dan tak ada perbedaan di antara mereka. Tetap saja, aku hanya mencintai satu senja. Yaitu, senja yang pertama kali menghangatku di hujan sore itu.








                                                                                                                        N.P.S
                                                                                                            Awal Januari 2015