Kala itu, senja tiba di penghujung hari. Senyap bercampur sunyi di
lorong ini. Dan saat itu pula, rintik air membasahi bumi yang sedang di landa
kemarau. Sesaat terdengar alunan sebuah gitar di sampng lorong. Siapa yang
memainkannya? Ah, tidaklah penting. Dan terdengar juga suara gelegar tawa dari
belakang lorong. Dan kali ini, aku menanggapinya. Tapi, hanya sekedar menoleh
lalu berbalik lagi.
Aku surya, mahasiswa baru di salah satu universitas di jantung ibu
kota. Mengambil ilmu kesusastraan, rasanya hal yang paling membingungkan bagi
teman dan orang tuaku. Mengapa? mengapa aku mengambil ilmu ini? Dan mngapa
pula, tak aku ambil ilmu-ilmu yang menurut sebagian orang berpengaruh di masa
depan nanti.
Sudahlah, tak penting juga kalau aku bercerita. Tetapi, aku berterima
kasih dengan sepupuku. Dia-lah yang telah mengenalkanku pada ilmu sastra.
Memang, aku tak begitu akrab dengannya. Tapi, sekedar bercengkrama di waktu
senggang sering kami lakukan.
Dan bukan itu pula sebenarnya cerita yang ingin aku paparkan disini.
Kembali lagi ke lorong, awal cerita berasal. Sesekali aku menoleh ke depan, tak
ada seorang-pun makhluk yang melintas. Ah, bodohnya. Jelas saja, di luar kan
hujan. Pasti setiap makhluk sedang menyingkir dan mengumpat dari rezeki yang di beri tuhan.
“Hai sur, ngapain lo diem aja disini?”
Seketika suara itu membangunkanku dari lamunan yang membosankan ini.
Adit, teman sekaligus tempat penyimpanan uang-ku. Karena hanya ia yang selalu
peka terhadap lamunanku dan hanya ia juga teman yang selalu peka pada kondisi
tubuhku, ketika tubuh ini mulai terasa dahaga dan lapar.
“Ah, elo dit. Bikin kaget aja.”
“Lagi, elo ngapain coba sore-sore gini bengong bodoh macem kambing mau
di potong.”
“Enggak kok, gue cuma lagi ngisi batre handphone gue aja.”
“Oh gitu. Eh, daripada lo sendirian disini. Mending lo ikut gue.”
“Kemana?”
“Udah, ikut aja. Anak-anak juga pada gak ada.”
“Oh, yaudah deh. Asalkan”
“Asalkan apa sur?”
“Asalkan, lo beliin gue makan dan minum. Laper banget gue nih.”
“Ahelah sur, emang biasanya juga gue yang beliin lo kan.”
“Yoi deh, sekalian rokoknya ya.”
“Selow.”
Setelah percakapan
bodoh terjadi. Aku dengan polosnya mengikuti adit melangkah. Tak tahu ingin
beranjak kemana, dan setiap langkah yang kupijak. Aku selalu bertanya, mau
kemana? Dan adit selalu menjawab “Sudah,ikut saja. Banyak bicara lo.”
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya kita sampai. Tak
tahu mengapa, rasanya lelah saja. Padahal aku berjalan, hanya 5 menit. Dan itu-pun masih sekitaran kampus.
“Ngapain nih dit? Kok banyak orang pada dandan?” kataku dengan tampang
polos dan mulut ternganga.
“Kita latihan teater ya? Lo kan suka acting gitu tuh. Nah, lo bantuin
gue ya. Tapi, gue main musik disini, dan elo harus jadi aktor.”
Aku tak tahu apa yang
ada di benak adit saat itu. Dia menyuruhku untuk menjadi aktor? Sudah gila apa
dia. Sudah tahu aku benci dengan dram-drama cinta di televisi. Nah, ini malahan
aku di suruh bermain. Jadi aktor pula. Sudah sinting rasanya si adit. Dan
sintingnya lagi, ini kan angkatan di atas aku dan adit. Mengapa, aku bermain
bersama mereka? Wah sudah edan.
“Hai ka, ini nih. Teman gue, yang gue bilang kemarin. Dia katanya mau bantuin
kelas kaka.”Kata adit dengan tangan menolehku.
Dasar gila. Kapan aku
berucap seperti itu? Jelas-jelas dia saja baru memberi tahu aku sesampainya
disini.
“Benar kamu mau bantuin kita?” kata kaka senior.
“Ehmmm.”
“Kenapa?” Balas kaka senior.
“Dia emang suka gitu kak, malu-malu gitu.” Kata adit
“Yaudah deh ka, aku mau. Memangnya aku jadi apa di teater kaka?”
“Yaudah, nanti aku kasih naskahnya. Kamu baca ya.”
“Iya ka.”
Merasa bodoh, dan tak
tahu mengapa ada di sekitar orang-orang yang tak ku kenal. Aku mencoba
beranikan diri untuk menyapa. Terlintas di benakku untuk menyapa seorang wanita
yang tampak dari kejauhan menuju ke arahku. Nah, benar saja. Dia, memang benar
menuju ke arahku. Dan seketika menyapaku dengan hangatnya. Sehangat senja di
sore itu. Terlintas di benakku, bahwa ia sosok senja yang kuburu belakangan
ini.
Cantik sekali. Persis seperti apa yang kudambakan. Dan jika ku bisa
memiliki senja itu, tentu anugrah terindah yang pernah kumiliki.
“Kamu yang bantuin di teater kita ya?” kata senja dengan hangatnya ia
menyapa.
“Iya kak”
“Siapa namanya?”
Ya tuhan, dia
mengajakku berkenalan. Entah apa yang harus ku katakan. Menyambar secepat
kilat, aku dengan bangganya memperkenalkan diriku.
“Aku surya kak, salam kenal ya.”
“Iya, aku wulan. Salam kenal juga ya.”
Malam harinya, aku
mencoba mencari namanya di media sosial. Dan berhasil, aku menemukannya. Ya
tuhan, cantik sekali dia. Ah, persetan dengan semua. Dan aku langsung menulis
pesan singkat kepadanya. Tak lama kemudian ia langsung membalasnya.
Percakapan berlangsung secara halus, aku meminta nomor handphone-nya. Setelah di beri olehnya,
aku langsung menelfonnya. Dan mengajak bertemu di luar jam kuliah dan juga
teater. Dan bodohnya, ia menyetujui ajakkanku. Ah, apa ini mimpi? Seorang senja
yang kuburu selama ini, dengan mudahnya menerima ajakkanku.
Esokkan harinya, ia berkata menunggu di halte depan kampusku. Dan aku
menyetujuinya. Tapi, mengapa tuhan memberi rintik air di saat aku ingin bertemu
dengannya?
Setelah bertemu, kita berencana makan di luar. Tapi sayangnya, hujan
menganggu pendekatan kami. 2 jam kita menunggu di halte, mencoba menghindar
dari hujan. Dan sudah larut juga baginya.
“Halo mah, iya ini lagi di jalan. Kejebak hujan. Wulan sama teman
wulan kok.” Seketika ibunya menelfon, khawatir keberadaan putrinya.
“Siapa?”
“Ibu aku sur.”
“Kenapa ibu kamu?”
“Menyuruh aku pulang, sudah malam katanya.”
“Baiklah, rencana makannya kita batalkan saja. Dan aku akan
mengantarmu pulang.”
“Serius?” apa aku tak merepotkanmu? Rumah kita berlawanan arah lho
sur.”
“Iya, tak apalah. Kan memang aku yang mengajakmu bertemu. Masa iya,
aku tak mengantarmu pulang.”
“Terima kasih ya sur. Yaudah, gimana kita makannya di pinggir jalan
aja? Searah sama jalan pulang aku.”
“Yasudah.”
Setelah aku
mengantarnya pulang. Percakapan kami semakin hangat saja, selayaknya dua insan
manusia yang telah di pertemukan cintanya. Sesekali aku menegurnya jika sedang berada
di kampus. Dan ia membalas dengan senyuman hangatnya.
Rindu sekali aku dengannya, dan terlintas untuk mengajaknya kembali
bertemu di luar jam kuliah. Lagi-lagi ia menyetujuinya. Dan lagi-lagi aku
terjebak hujan yang tak berlangsung lama. Aku menjemputnya tepat di depan
rumahnya. Aku juga berkenalan dengan wanita yang melahirkannya.
Kita pergi, dan menonton film kebarat-baratan. Setelah selesai
menonton, kita lanjutkan percakapan dengan makan malam di pinggir jalan. Ah,
hangatnya. Padahal di depan sedang hujan besar sekali, tak tahu mengapa, aku
merasakan hangatnya senja di sore hari.
Aku tak mau membuang waktu, dan setelah aku mengantarnya pulang. Aku berniat
menyatakan perasaanku kepadanya.
Sesampainya di rumah, aku di suguhkan dengan segelas air yang melepas
dahaga. “Sur, sebentar ya. Aku mau kakus dulu.” Kata wulan.
Selang beberapa lama, ia datang kembali. Dengan pesona yang biasa
saja. Tetapi, begitu hangat jika berada di dekatnya. Ada yang aneh. Ah,
perasaanku saja. Mungkin, karena ia berganti pakaian akibat hujan tadi. Jadi,
tampak begitu beda.
“Hah, apa maksudmu?” kata wulan.
“Tidak, aku tak mau membuang waktu.”
“Tapi? Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan.”
“Aku cinta kepadamu, kalau aku tidak cinta. Untuk apa aku menemuimu
sampai 2 kali ini. Jauh pula. Membuang waktu juga kan. Itu semua ku buktikan
karena aku cinta kepadamu.”
“Maksudmu? Berarti kamu tidak ikhlas dengan mengantarku pulang?”
“Bukan seperti itu, tapi itu semua ku buktikan perasaanku kepadamu.
Dengan menghabiskan waktuku denganmu.”
“Baiklah, aku terima perasaanmu. Asal kamu serius dalam menjalin
hubungan.”
“Benarkah itu?”
“Iyaaaa wulaaaan. Aku pamit pulang ya, sudah larut malam sepertinya.
Mana ibu dan ayahmu? Aku mau pamit.”
“Tidak usah, mereka sudah terlelap dalam alam mimpinya. Baiknya sekarang
kamu pulang saja. Hati-hati di jalan ya.”
“Sudah pasti, aku pulang dulu yaaa.”
“Assalumalaikum”
“Wassalamualaikum”
Ya tuhan, tak tahu
dengan cara apa aku berterima kasih dengan temanku adit. Dia yang mengenalkanku
dengan wanita ini. Kalau tidak ada dia, pastilah aku tidak akan bertemu
dengannya. Yang jelas terima kasih sekali untuk adit.
Tetapi, ada kejanggalan di dalam hubungan kita. 5 bulan aku
bersamanya, dan sudah 5 bulan juga kita hanya bertegur sapa di waktu senggang.
Memang,sesekali aku mengantarnya pulang. Tapi, mengapa ia merasa aneh ketika
aku mencoba memegang tangannya.
Dan selama 5 bulan aku menjalin
hubungan bersama wulan, tanpa unsur
kesengajaan. Aku selalu di pertemukan dengan hujan. Mengapa? apa yang salah?
Aku rasa tidak ada yang salah. Dan mungkin ini kuasa tuhan agar aku dan wulan
dapat saling bertahan. Ini baru hujan, belum badai atau teman sejenisnya. Jadi,
untuk apa aku khawatirkan? Dan aku tidak khawatir dengan dinginnya air yang
membasahi seluruh lekuk tubuhku. Aku mempunyai senja, senja yang
menghangatkanku di saat aku merasakan dinginnya malam dan hujan. Tak usah ku
berburu senja lagi, karena aku bersyukur sekali. Aku mempunyai sepotong senja.
Senja yang ku cinta dan ku kagumi setiap pancaran sinarnya.
Malam itu, tepat di awal desember. Aku berniat mengantarnya pulang ke
rumah. Seperti biasa, ia merasa aneh. Bahkan, tak mengerti jika aku membahas
masalah pesan singkat yang aku beri melalui media sosial. Dia hanya mengangguk
dan berkata “Oh, yasudah, baiklah, ehmm, dan menganggukkan kepalanya.”
Sesampainya di rumahnya. Seperti biasa juga, ia melayaniku dengan
manis. Beda sekali saat di kampus.
“Sur, aku ingin bercerita yang sebenarnya.” Kata wulan.
“Sebenarnya? Maksutmu apa?” Dengan menarik urat di leherku ini.
“De, kesini.”
Apa maksudnya? Untuk apa ia memanggil adiknya?
“Iya kak.”
Sableng bin edan. Ternyata, mereka kembar. Persis sekali, rasanya tak
ada perbedaan di antara mereka. Lalu, apa yang terjadi sebenarnya? “Ceritakan,
apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa kalian ada 2? Ada apa ini?
“Begini sur, aku wulan dan ini kakaku bulan.”
“Yasudah, lalu? Ada apa ini? Jelaskan? Apa kalian mencoba menipuku?
“Tidak sur, bukan seperti itu. Selama ini, kau mencintai orang yang
salah.” Kata wulan.
“Maksudmu?”
“Iya, selama ini kau mencintai kakak-ku. Bukan aku. Malam itu, waktu
kamu menyatakan perasaanmu. Itu bukan aku yang menerimamu, melainkan kakak-ku
ini.”
Pnejelasan wulan rasanya sudah sangat jelas memukul ragaku malam itu. Pantas
saja aku merasa ada perbedaan ketika wulan berada di kampus dan juga di rumah.
Ternyata, selama ini aku mencintai wanita yang salah. Jadi, senja yang ku cari
belakangan ini sia-sia saja? Ah, persetan dengan semua ini. Memang, aku
mencintai senja di sore hari. Dan aku
juga mencintai wulan selayaknya senja. Tapi, mengapa Bulan yang ku
dapat? Bulan yang hanya menyinari di malam hari saja. Jadi, apakah senja yang
ku buru selama ini mempermainkanku dengan sinar hangatnya? Sudahlah, walaupun
mereka mirip sekali. Dan tak ada perbedaan di antara mereka. Tetap saja, aku
hanya mencintai satu senja. Yaitu, senja yang pertama kali menghangatku di
hujan sore itu.
N.P.S
Awal
Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar