Sementara awan tebal
terus menutupi.
Menutupi sebuah bintang
yang kukagumi belakangan ini.
Aku bertanya kepada
sang pencipta
“Duhai
tuhan,
Mengapa pula kau
Datangkan awan-awan pengkihanat itu?
Pengkhianat yang tak pernah menyampaikan
Pesan bodohku kepada sang bintang?”
Rindu itu selalu saja
menancap di jarum jiwa
Dengan sejarah yang tak
berpribadi
Dengan malam yang tak
nampak rembulan
Aroma pinus dari taman
sorga terasa aneh
Jika kuhirup seorang
diri.
Dan kini, aku
menengadah ke langit tak bertuan
Sambil kulompati pagar
berduri di samping sebuah taman tak bernama.
Ternyata, sama
jawabnya.
Gumpalan awan itu masih
saja berkhianat.
Tak menyampaikan
kerinduan tolol ini kepadanya.
Dan sekarang aku tahu
jawabnya,
Mengapa awan bodoh itu
berkhianat.
“Kau hanya sebuah delusi,
Imaji, dan tempat
labuhan terakhir
Di sebuah
tanjung.”
Mungkin inilah kuasa
tuhan.
Setahun, sewindu,
dekade,
Bahkan abad sekalipun.
Tetap kutunggu sebuah
bintang itu.
Bintang yang ku kagumi
belakangan ini
Dan kusesali dengan
sebuah kerinduan.
N.P.S
Kartini,
menjelang dini hari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar