Rabu, 21 Januari 2015
Lorong Kematian
Bermula dari sebuah lorong sebuah persimpangan jalan, dekat sebuah taman. Kita, berjumpa pada sebuah kenyataan pahit yang kau namakan saat itu. Sebuah lorong kematian yang kau namakan, mengapa? Mengapa kau sebut dengan lorong kematian? Apakah setiap orang yang melewati lorong itu, akan berjumpa dengan ajalnya? Tapi, mengapa kita baik-baik saja. Ketika kita melangkah berjalan lurus tanpa menoleh sekalipun.
Memang sebuah tulisan terpampang jelas di sepanjang lorong. “KEMATIAN SUDAH MENUNGGU?” apa hanya karena sebuah aksara itu, kau menyebutnya lorong kematian? Apa maksudnya? Hanya kau yang tahu maksud dari aksara tersebut. Setiap kita melewati lorong itu, pasti hanya sebuah ketakutan yang menghantuimu. Mau bagaimana lagi? Hanya lorong itu, jalan tercepat menuju tempat dimana kita bekerja. Hanya 20 Menit jika kita melintasi lorong itu. Dan bayangkan saja, jika tidak melintasi lorong itu. Mungkin, bisa 3 jam untuk sampai pada tempatnya.
“Cepatlah, percepat langkahmu bodoh!” Katanya sambil menutupi telinga dengan ke-2 tangan.
“Mengapa? lorong ini sangat bagus. Coba lihat! Penuh warna di sepanjang lorong.” Kataku.
Dia, sebuah sosok yang sudah kuanggap sebagai pengganti saudara laki-lakiku yang kini sudah berbeda alam. Ben namanya, lelaki renta dengan penuh dosa. Ia lahir lebih dahulu dibanding aku. Dan aku, aku adalah Jim. Seorang lelaki yang tinggal di ujung kota kemunafikan ini.
Memang kami sering jalan bersama. Dan jika ada seseorang yang mengganggu perjalanan kami ber-2. Pastilah Ben mengusir seseorang itu dengan segala cara. Tak perduli orang itu marah atau tidak. Ben tetap akan mengusirnya. Habis, mau bagaimana lagi? Ben-lah yang lebih tua, jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa, jika ia bertindak se-enak jidatnya saja.
“Jim, mengapa kau senang sekali melintasi lorong ini?” Kata Ben.
“Ya memang sudah sepatutnya kita melintasi lorong ini. Bayangkan saja, jika kita memutar dan tidak melintasi lorong ini. Pasti akan selalu terlambat.”
“Iya, aku paham. Tapi…” Kata Ben dengan wajah pucat di lekukan wajah keriputnya.
“Tapi apa?”
Diam, bagai beo yang di sogok mulutnya dengan seonggok jagung mentah. Aku terus memperhatikan seluruh seluk beluk lorong ini. Tak ada apa-apa. Hanya ada tulisan-tulisan yang menurut-ku tidaklah penting untuk di tanggapi. Tapi Ben terus ketakutan dan menambah kecepatan jalannya. Tak perduli dengan aku yang tertinggal jauh di belakangnya.
“Ben, dasar bodoh! Tunggu aku, aku tertinggal jauh di belakangmu.” Kataku dengan urat menarik ke atas leher.
“Persetan denganmu Jim, aku tidak ingin berlama-lama di lorong kematian ini.”Balas Ben dengan menambah kecepatan jalannya.
Suatu ketika, aku mencoba mencari tahu tentang lorong itu dari sebuah Internet. Dan ternyata aku tahu jawabannya. Mengapa Ben takut sekali ketika ia melintasi lorong itu. Lorong kematian yang ia takuti selama ini ialah lorong yang dahulunya jalur lalu-lalang para pedagang etnik tionghoa. Dan benar saja, ternyata dahulu sempat terjadi tragedi pembataian para etnik tionghoa di sepanjang lorong itu.
Beberapa dekade lalu, saat krisis melanda Negeri bedebah ini. Kerusuhan terjadi di seluruh penjuru Negeri. Memang, puncak kerusuhan itu terjadi di kota munafik ini. Dan aku rasa Ben sudah lahir saat kerusuhan itu terjadi. Saat itu, para etnik tionghoa mencoba menyelamatkan diri mereka. Mereka melintasi lorong itu. Lorong yang ditakuti Ben selama ini. Dan disaat mereka melintasi lorong itu, para perampok sudah siap menunggu di ujung lorong. Mereka mencoba memutar balik arah. Tapi, apadaya mereka sudah menunggu juga di ujung lorong lainnya.
Benar saja, tak ada yang selamat saat tragedi itu. Tak satupun mayat para etnik tionghoa itu di temukan. Hanya pakaian mereka yang tesisa. Kaca mata, kalung dengan lambing tuhan mereka, dan juga sandal butut yang di pakai saat mereka menyelamatkan diri. Lalu, mengapa Ben takut sekali melintasi lorong itu?
Siang ini, di saat matahari sedang teriknya. Dan dahaga yang membuat kerongkongan ini haus sekali. Aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada Ben. Apa yang terjadi sebenarnya.
Aku menghampiri Ben. Dan mencoba bertanya tentang artikel yang aku baca tadi pagi. Tapi, apa Ben akan menjawab semua pertanyaan-ku? Pertanyaan yang jelas-jelas sudah ada jawabannya di artikel yang aku baca.
“Hei Ben”
“Hei Jim, ada apa?
“Aku ingin bertanya sesuatu padamu.”
“Oh iya? Apa itu?
“Tapi janji! Kau tidak akan marah denganku.”
“Tentu saja tidak bodoh! Cepat, apa yang ingin kau tanyakan?”
“Aku membaca sebuah artikel pagi ini. Artikel tentang lorong yang setiap harinya selalu kita lintasi. Di artikel itu di sebutkan, jika dahulu terjadi pembantaian etnik tionghoa. Lalu, apa yang kau takutkan? Apa kau melihat langsung pembantaian itu? Sehingga kau tidak berani untuk melintasi lorong itu?”
“Baiklah, akan ku jelaskan semuanya.”
Dahulu, beberapa dekade yang lalu. Aku sedang melintasi lorong itu. Memang, dahulu sempat terjadi pembantaian di seluruh lorong yang aku takutkan itu dan aku sebut sebagai lorong kematian. Kejadiannya sore, tepatnya setelah umat islam menjalankan perintah dari tuhannya. Aku berniat pulang ke rumah, karena aku tahu saat itu Negeri kita sedang kacau balau. Saat rezim pemerintahan selama 32 tahun itu ingin di lengserkan. Dan saat aku baru setengah perjalanan melintasi lorong itu. Para etnik tionghoa itu berlari, berlari secepat mungkin. Aku bingung, mengapa mereka berlarian. Aku bertanya kepada salah seorang yang ikut berlari. Mereka hanya berkata “Cepatlah, Kematian Sudah Menunggu.” Apa? Aku tak mengerti maksud dari perkataannya. Benar saja, ternyata mereka sudah di hadang di ujung lorong. Saat mereka memutar arah, ternyata mereka juga sudah di tunggu oleh para pembegal itu sudah menunggu di ujung lorong satunya. Mereka pasrah,dan aku ada di tengah-tengah mereka. Mereka ber-doa dengan kepalan tangannya. Ber-doa sambil memegang kalung berlambangkan tuhannya di dekat leher mereka. Tanpa pikir panjang, mereka semua di habisi oleh para pembegal. Tak ada satupun yang tersisa. Dan salah satu dari etnik tionghoa yang menuliskan aksara di lorong itu “KEMATIAN SUDAH MENUNGGU.”
“Tapi, mengapa mereka tidak membunuhmu?” Kataku, menyela pembicaraan.
“Tentu saja tidak, karena aku asli pribumi. Jadi, mereka tidak membunuhku. Memang sempat mereka menanyaiku. Aku ini pribumi atau tionghoa? Saat aku tunjukkan kartu identitasku, mereka hanya mengabaikan-ku dan berkata “JANGAN IKUT CAMPUR LO YE!” Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat itu. Hanya ketakutan yang menyelimutiku. Ketakutan yang kubawa sampai saat ini.”
Dan Jim, satu hal yang perlu kau ketahui. Aku Ben. Aku adalah dirimu. Aku adalah ketakutan-mu. Ketakutan yang sudah lama kau simpan. Lupakan-lah Jim, kejadian itu sudah lama berlangsung. Untuk apa masih kau kenang? Dan tugasku sebagai ketakutan-mu akan berakhir. Ketika kau sudah mendengar penjelasanku. Jim, semoga kau segera melupakannya. Sebab Tuhan punya kehendak lain, mengapa ia membiarkan-mu hidup saat tragedi itu berlangsung. Kau Jim. Kau adalah saksi sejarah yang akan memberi kenangan pahit pada anakmu kelak. Lupakan Jim! Tapi, ingat-lah. Ingat dengan semua imbas yang sekarang terjadi pada Negeri ini. Pada kota ini. Yang sekarang di pimpin oleh seorang etnik tionghoa.
N.P.S
Kartini, Menjelang dini hari
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Wah, keren endingnya. Terus tingkatkan kualitas, bro. Faigk! :))
BalasHapus