N.P.S
Pagi itu, sebuah media masa memberitakan tentang sebuah peringatan penting. Tentang sebuah solidaritas antar dua benua. Sekitar 29 Negara yang mewakili setengah penduduk di dunia betujuan untuk mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan dua benua serta melawan kolonialisme atau neokolonialisme dan juga imperialisme atas negara-negara bagian Barat. Sejak pertama kali pada tahun 1955 di adakan di Negeri ini. Dan pada 2005 diadakan peringatan yang ke-2 kalinya. Kini pada tahun 2015 Negeri ini memperingati peringatan yang sudah terjalin selama 60 tahun. Tertulis pada kabar berita: Semua masyarakat dihimbau memulai aktivitas lebih pagi. Berangkat kerja, dan aktivitas lainnya. Dan pulang lebih malam, dikarenakan acara peringatan itu akan membuat macet kota ini. Banyak jalan-jalan yang ditutup dan dialihkan.
“Hey pak tua sedang apa berdiri menatap gedung itu?” Ucap salah satu petugas keamanan dengan senjata beratnya.
“Tidak pak. Aku hanya ingin tahu saja bagaimana pelaksaan peringatan tahun ini.” Dengan gemetar dan gagap Pak tua itu menjawab.
“Mau tahu apa? Kau ini sudah tua, untuk apa tahu tentang hal ini! Lebih baik kau pulang saja, berdoa kepada Tuhan. Kelak kau akan dipanggil, sudah siap dengan semua pertanyaan-pertanyaan.”
“Megah sekali perayaannya. Sampai-sampai semua seniman di Negeri ini diikut sertakan dalam memeriahkan acara peringatan ini. Andai saja aku masih semuda dulu, pasti Aku akan ikut serta dalam perayaan ini.” Bergumam dalam hati Pak tua itu.
Sesekali menengok ke gedung tersebut, dan sesekali juga Pak tua itu ditegur oleh petugas keamanan. Sambil menyalakan sebatang rokok Pak tua itu tetap saja berdiri tegak melihat gedung itu. Disampingnya ada dua Mahasiswi cantik─putih, tak memakai dalaman nampaknya. Berpoto-poto ria, mewancarai petugas keamanan di sekitaran gedung. Bertanya-tanya pada petugas keamanan. Dan mereka menjawab semua pertanyaan dengan senang hati. Tak ada teguran seperti yang diberikan kepada Pak tua itu.
“Ada apa Pak tua?! Masih saja Kau berdiam diri seperti patung di sana. Pulang sana, cucumu mungkin sudah menunggu.
Dua mahasiswi itu merasa miris dengan perlakuan petugas keamanan terhadap Pak tua. Lusuh penampilannya, tak menarik pula. Sandal jepit butut alas kakinya, memakai topi kodok seperti seorang seniman, memakai celana bahan hitam agak lebar di bagian bawah. Dan memakai batik, indah. Cokelat bergaris hitam.
Langit mulai berdarah. Menurunkan hujan. Bau amis di depan rumah Pak tua itu juga tercium sampai beberapa rumah lainnya. Ah tidak, ternyata itu hanya bau terasi yang dimasak istrinya.
“Kau melamun Pak?”
“Tidak.”
“Kalau kau punya masalah, ceritakanlah padaku. Jangan seperti ini! Diam merenung tidak jelas,”
“Sudah Aku bilang, Aku tidak apa-apa!”
“Boleh aku ikut memikirkan apa yang sedang kau pikirkan?”
“Tidak, aku tidak apa-apa. Aku sudah sangat senang dengan hidupku sekarang ini. Anak-anakku sudah mempunyai pendamping hidupnya, serta mempunyai pekerjaan dan tempat tinggal yang nyaman. Cucu-cucuku juga sangat sayang kepadaku. Untuk apa aku memikirkan sesuatu lagi. Sudahlah! Kau ini banyak bertanya! Tidak usah memperdulikanku!”
“Tidak usah membentakku. Aku ini istrimu, kenapa kau mengucapkan kata-kata dengan nada yang tinggi?”
“Sudah! Tugasmu hanya didapur. Cepat buatkan aku segelas kopi dan pisang goreng.”
“Yasudah. Maafkan.”
Bus yang ditunggunya tiba, membeli tiket kepada tukang catut. Berdesakkan, karena hari peringatan itu semua orang menjadi kacau. Menjadi binatang. “Hei Pak tua, kenapa kau mendorongku? Mau mencopet kau?!”
“Tidak, aku tidak mendorongmu.” Dengan gemetar ia berucap.
“Alah! Banyak bicara kau!”
Ditinju Pak tua itu dengan tangan besarnya, semua orang menjadi kacau. Berlarian tidak jelas, ada juga yang memaanfaatkan dengan mencopet dan menodong. Ada juga yang ikut serta menghakimi Pak tua itu. Doa, dan mengucap nama Tuhannya-lah yang bisa di ucapkan Pak tua saat itu. Seorang tentara datang untuk melihat ada kejadian apa di terminal yang di awasinya. Para tentara itu datang dengan senjata berat di pundak kirinya. Beriringan, kakinya-pun seperti sudah terlatih.
“Ada apa ini? Kalian tidak tahu, para utusan dari Negara lain sebentar lagi akan datang!”
Semua orang seperti menghiraukan ucapan para tentara itu. Terus saja menghantamkan bogem mentah kepada Pak tua. Meski Pak tua sudah meringis kesakitan dan meminta ampun dan bersumpah tidak ada niat untuk mencopet─tetap saja mereka tidak mempedulikannya.
Sebuah tembakan peringatan di tembakan seorang tentara ke udara.”
“Berhenti!”
Semua orang langsung merunduk, melepaskan Pak tua itu. Dibawa Pak tua itu ke pos keamanan untuk menanyakan sebenarnya apa niat Pak tua itu. Dengan tangan yang sudah berdarah tetap saja para tentara itu memborgolnya. Seakan-akan Pak tua itu memang sudah dinyatakan bersalah.
“Sebenarnya apa niatmu Pak tua!”
“Aku hanya ingin pulang.”
“Bohong! Jawab yang sesungguhnya! Kalau tidak akan aku penjarakan kau.”
Pak tua itu berdiam diri. Menatap lurus ke hadapan gedung yang akan dijadikan tempat peringatan 60 tahun itu berlangsung. Dan seketika Pak tua itu berucap dengan tertawa lirih di hadapan para tentara yang menanyakannya.
“Aku hanya bingung. Aku. Aku yang hidup lebih dahulu dibandingkan kalian yang hanya tinggal menikmati indahnya Negeri ini. Kalian yang tidak tahu arti dari hari peringatan yang kalian jaga saat ini. Kalian seperti wayang yang hanya dimainkan oleh dalang. Nurut saja, apa yang dikatakan para petinggi kalian. Kalian yang mengawasi bangsa kalian sendiri dengan senjata berat kalian dan mobil-mobil tempur dengan lapisan baja. Mempunyai rasa takut. Rasa takut akan bangsa sendiri yang mengancam keselamatan para utusan yang datang ke Negeri ini. Sedangkan kalian rela mati-matian. Mengorbankan nyawa kalian demi bangsa lain, yang hanya menetap tiga hari di Negeri ini. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran kalian. Hanya imbalan dan pangkat sajakah?”
“Kau ini bicara apa? Penjarakan dia! Sudah gila! Pasti dia teroris! Dia mengancam! Penjarakan dia!”
Wangi Mahasiswi cantik yang melintas di depan Pak tua itu menyadarkannya dari lamunan. Dan beberapa jam lagi acara peringatan itu dimulai. Pak tua itu melangkah pulang dan membaca surat kabar jika seorang lelaki tua dihakimi masa karena dituduh mencopet dan dipenjarakan karena dituduh mengancam bangsanya.
“Berhenti!”
Semua orang langsung merunduk, melepaskan Pak tua itu. Dibawa Pak tua itu ke pos keamanan untuk menanyakan sebenarnya apa niat Pak tua itu. Dengan tangan yang sudah berdarah tetap saja para tentara itu memborgolnya. Seakan-akan Pak tua itu memang sudah dinyatakan bersalah.
“Sebenarnya apa niatmu Pak tua!”
“Aku hanya ingin pulang.”
“Bohong! Jawab yang sesungguhnya! Kalau tidak akan aku penjarakan kau.”
Pak tua itu berdiam diri. Menatap lurus ke hadapan gedung yang akan dijadikan tempat peringatan 60 tahun itu berlangsung. Dan seketika Pak tua itu berucap dengan tertawa lirih di hadapan para tentara yang menanyakannya.
“Aku hanya bingung. Aku. Aku yang hidup lebih dahulu dibandingkan kalian yang hanya tinggal menikmati indahnya Negeri ini. Kalian yang tidak tahu arti dari hari peringatan yang kalian jaga saat ini. Kalian seperti wayang yang hanya dimainkan oleh dalang. Nurut saja, apa yang dikatakan para petinggi kalian. Kalian yang mengawasi bangsa kalian sendiri dengan senjata berat kalian dan mobil-mobil tempur dengan lapisan baja. Mempunyai rasa takut. Rasa takut akan bangsa sendiri yang mengancam keselamatan para utusan yang datang ke Negeri ini. Sedangkan kalian rela mati-matian. Mengorbankan nyawa kalian demi bangsa lain, yang hanya menetap tiga hari di Negeri ini. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran kalian. Hanya imbalan dan pangkat sajakah?”
“Kau ini bicara apa? Penjarakan dia! Sudah gila! Pasti dia teroris! Dia mengancam! Penjarakan dia!”
Wangi Mahasiswi cantik yang melintas di depan Pak tua itu menyadarkannya dari lamunan. Dan beberapa jam lagi acara peringatan itu dimulai. Pak tua itu melangkah pulang dan membaca surat kabar jika seorang lelaki tua dihakimi masa karena dituduh mencopet dan dipenjarakan karena dituduh mengancam bangsanya.