Nicko
“Jika sebuah kebenaran tidak tersampaikan hari ini, aku akan tetap menyampaikannya besok, lusa, dan seterusnya.” Seorang wanita muda memulai ceritanya kepada si Tukang
Itulah yang dikatakan salah seorang Pemuda yang paling dibenci oleh para warga kampung ini. Setiap hari, hanya ejekan yang dapat dilontarkan para warga sekitar kepada si Pemuda itu. Kebiasaannya yang menjengkelkan, membuat geram para warga sekitar. Tua, muda. Bisa dikatakan 99,9% para warga sekitar kampung ini membenci pemuda itu. Ya. Tentu saja, masih ada 0,1% lagi yang tidak membencinya. Para pakar agama? Tentu bukan. Teman-teman sepergaulannya? Bukan juga. Selaku orang tua si Pemuda itu-pun sebenarnya sudah geram, dengan perbuatannya. Memang aduhai sekali tingkah laku si Pemuda itu.
Dialah seorang yang bernama Umar. Seorang yang sering sekali mengkritisi para Tokoh masyarakat di kampung ini. Umar adalah salah satunya, sebelum Umar, ada salah seorang teman. Dialah Jalal. Dia juga dibenci oleh masyarakat sekitar. Perbuatannya yang menjengkelkan seperti halnya Umar-lah yang membuatnya dikucilkan setiap harinya. Jalal hijrah dari kampung ini. Pergi ke suatu tempat yang disebut-sebut sebagai Lembaga Permasyarakatan. Salah seorang Tokoh masyarakat itulah, yang membawa Jalal ke tempat tersebut.
Umar kini hanya seorang diri. Tetapi, 0,1% dari 99,9%. Masih ada yang setia menemani Umar kemanapun Ia pergi. Ketika Umar sedang berada kesulitan. Ia selalu menjadi penenang bagi Umar. Sore ini, ketika Umar sedang merencanakan tentang penulisan terhadap sesuatu yang benar. Ia duduk di sebuah pertigaan dan membawa selembar kertas, dan satu buah pensil. Ia terkejut, ketika para penjaga keamanan datang menghampiri Umar. Ia berkejaran dengan para penjaga keamanan di kampung ini. Umar lari sekencang mungkin, memanjat dinding, berlari di atas atap rumah warga. Yang menimbulkan atap rumah warga menjadi hancur. Dan perbuatan itu, semakin menambah emosi warga terhadap Umar.
Setibanya Umar pada sebuah jalan buntu. Seketika datang teman yang tetap setia bersama Umar. Dia-lah seekor anjing yang bernama Rob. Ialah Rob, yang ditemukan Umar saat banjir datang melanda kampung ini. Rob yang terbaring lemah, dekat sebuah pohon yang runtuh akibat banjir. Umar datang, ketika mendengar suara Rob yang seolah meneriakkan minta tolong.
Rob menghadang para penjaga keamanan itu. Menggonggong seperti serigala hutan. Awalnya para penjaga keamanan itu mencoba mengusir Rob. Dengan melemparkan batu ke arah Rob dan menggeretak Rob agar pergi. Tetapi, Rob yang sangat setia terhadap Umar mencoba menggonggong lagi. Dan kali ini, Rob juga menggigit kaki dan tangan para penjaga keamanan itu. Akhhirnya, Umar bebas dari kejaran para penjaga keamanan.
Selekas itu, Rob dibawanya ke rumah Umar. Dan berkatalah Umar seolah Rob bisa membalas ucapannya “Terima kasih Rob, kau memang yang terbaik.” Rob hanya menggonggong, seolah membalas ucapan dari Umar. Umar memberinya makan. Rob tidak mau, karena Ia tahu jika Umar belum makan sejak tadi pagi.
“Makanlah, aku bisa mencari lagi.” Umar terus memberi makanan itu kepada Rob, namun Rob tetap tidak mau. Akhirnya makanan itu dibagi menjadi dua. Setengah untuk Umar dan setengah lagi untuk Rob.
Ketika sedang menyantap makanan yang aduhai itu. Terdengar sebuah jeritan lagi dari rumah yang jaraknya lima rumah ke arah kiri dari rumah Umar. Tentang jeritan itu, memang sering terjadi di kampung ini. Jeritan yang setiap malan terjadi. Banyak yang bilang, saat ada warga yang menjerit─ Berarti warga itu sedang mendapatkan sebuah hadiah. Tetapi, jeritan itu diiringi sebuah tangisan di dalamnya. Kebiasaan itu, yang membuat Umar dari dahulu ingin mengetahui penyebab dari keberuntungan itu.
Paginya, ketika warga yang malamnya menjerit. Seperti mengikuti setiap perkataan dari para Tokoh masyarakat di kampung ini. Memang betul, para warga yang menjerit malam hari, paginya mendapat sebuah imbalan seperti uang, dan hadiah. Tokoh masyarakat ini-lah yang menjadi panutan para warga sekitar kampung ini. Para Tokoh masyarakat itu, awalnya seorang yang biasa saja. Namun, ketika datang salah seorang yang mengatasnamakan sebuah kelembagaan. Para Tokoh masyarakat itu seolah berubah, menjadi seorang yang fasisme.
Umar sering dikecam sebagai seorang yang berbahaya. Dia sering disebut-sebut sebagai seseorang yang subversif. Umar juga sering dituduh mencemarkan nama baik para Tokoh masyarakat ini melalui tulisan-tulisannya. Memang, Umar adalah orang yang pandai menulis. Sewaktu sekolah dulu, Ia selalu dikatakan seorang yang berbahaya. Karena pemikirannya yang meninggalkan jauh teman-teman sekolahnya dulu.
Di kampung ini, struktur kepemerintahan yang ada tidak berlaku. Yang tedapat hanyalah aturan-aturan yang dibuat oleh para Tokoh masyarakat. Aturan itu yang akhirnya, menimbulkan rasa geram bagi Umar sendiri. Aturan yang membolehkan para warga untuk tidak mengetahui dana yang setiap bulannya dibuat untuk apa. Aturan untuk tidak ikut camput urusan, diam dan tidak bersuara, tetap tenang, ketika para Tokoh masyarakat sedang melakukan pembicaraan.pada malam hari. Hanya umar-lah yang berani untuk tetap bersuara.
Ketika itu, saat Umar sedang duduk dan menghadap ke rumah para Tokoh masyarakat yang sedang berkumpul. Umar mendapati salah seorang anak dari Tokoh masyarakat itu sedang membawa kantung plastik berwarna hitam. Awalnya, Umar berpikiran jika itu makanan untuk para Tokoh masyarakat yang sedang berbicara. Tetapi, tiba-tiba Rob dengan aduhainya menggigit kantung plastik berwarna hitam itu dan ingin merobeknya. Anak itu menendang kepala Rob. Dan berteriak minta pertolongan.
Saat itu, para warga datang untuk memukuli Rob bersama. Umar berusaha mengangkat Rob. Umar terkena satu, dua pukulan dari para warga. Rob masih bisa terselamatkan. Umar segera membawanya pulang ke rumah. Umar membasuh seluruh tubuh Rob yang berlumuran darah, dengan kain basah. Umar memberi obat merah di kepala dan kaki Rob.
Dua hari Rob hanya bisa terbaring di tumpukkan kardus segitiga, yang menyerupai rumah yang dibuat Umar setelah menemukan Rob. Selama dua hari, Umar membawakan makanan dan susu untuk Rob. Yang akhirnya, saat malam tiba Rob terbangun. “Rob! Kau bangun.” Umar terkejut, karena awalnya Umar sudah menggali tanah untuk peristirahatan Rob.
Rob hanya bisa menggonggong. Susu yang dibawakan Umar, habis diminum oleh Rob. Seketika itu, datang salah seorang Tokoh masyarakat yang bernama Haji Komar. Dialah seorang yang paling diagungkan, di kampung ini. Bulak-balik ke tanah suci, sudah hampir 7 kali. Rumahnya juga yang paling besar di kampung ini.
“Hey Umar, masih kau bertahan dengan pemikiranmu itu?”
“Maaf Pak, sampai kapan-pun saya akan terus berkata benar.”
“Kalau begitu, saya perintahkan kepada seluruh warga untuk tidak memberi apapun kepada Umar. Baik itu makanan, uang, pakaian, bahkan barang-barang bekas-pun saya larang!”
Beberapa minggu kemudian, setelah perintah terakhir Haji Komar membuat Umar semakin terlantar. Ia menghabiskan waktunya di dalam sebuah rumah tua dan kecil. Bau apak yang tercium dari depan rumah Umar semakin menyengat setiap harinya. Para warga sekitar tidak tahu, bagaimana cara Umar bertahan hidup setelah beberapa minggu Ia tidak keluar dari rumahnya.
Umar tetap bertahan hidup, karena salah satu warga yang rumahnya lebih tinggi dari rumah Umar, melihat Umar sedang melukis dan menulis pada sebuah kanvas bekas, kardus bekas, kertas yang sudah kotor, dan tembok rumahnya.
Haji Komar tidak percaya dengan cerita warga yang melihat Rob masih hidup. Haji Komar mencoba membuktikan perkataan warga itu. Haji Komar mengajak beberapa Tokoh masyarakat lainnya, untuk ikut datang ke rumah Umar. Belum sampai masuk ke dalam rumah, Haji Komar sudah mencium bau apak yang membuat asam lambung naik. Mual. Para Tokoh masyarakat lainnya mengeluarkan isi makanan yang baru saja dimakannya. Haji Komar memakai masker. Bau apak itu berubah menjadi bau amis. Dan lalat dengan leluasanya keluar-masuk rumah Umar. Seperti sedang merayakan pesta. Umar tidak terdengar. Ketika Haji Komar menyerukan nama Umar, namun tidak ada jawaban dari Umar dan gonggongan dari Rob.
Ketika salah satu Tokoh Masyarakar mengamati sebuah gambar, dan ada sebuah kertas yang isinya tulisan dengan tinta darah. Gambar tersebut dibuat Rob dengan darah. Mengidentikan dengan sebuah kebenaran yang memang harus diperjuangkan.
Isi tulisan dari Rob “Demi kebenaran, aku rela memakan tubuh Rob dan menyayat diriku agar roh-ku berterbangan dan tetap menyerukan kebenaran! Sampai kapan-pun kebenaran tetap harus diperjuangkan!. – Salam dari saya seorang hamba yang bernama Umar, dan kini jasad saya berada di balik pintu yang menuju yang menghubungkan keluar masuknya pesta lalat itu. Dan dari temanku Rob, yang jasadnya berada di dalam perutku.
“Kejam sekali mereka” Kata si Tukang”
“Tetapi, mereka-lah yang menjadi panutan warga sekitar tempat Umar disemayamkan.”
GURATAN TINTA DARI SEBUAH PENA
Rabu, 13 Januari 2016
Dilarang Bicara Saat Malam Hari
Nicko
“Semuanya pergi, jangan ada yang beraktivitas di malam hari. Jika sampai jam sepuluh malam nanti kalian tidak pergi, terpaksa kita akan bawa ke kantor polisi” Itulah, kalimat yang kudengar dari beberapa petugas keamanan di lingkungan ini. Dan kalimat itu, perintah langsung dari ketua Rukun Tetangga(RT).
****
Bau air selokan, kepulan asap rokok, botol berserakan, sampah-sampah sisa para pemuda yang memang sering berada di pertigaan, dan juga para pedagang. Hingga ada sebuah tulisan di tembok, dekat pertigaan. Lokasi yang strategis untuk berjualan. Bertuliskan “Dilarang Bicara Saat Malam Hari.” Tetapi, para pedagang, tentu saja lebih suka berjualan saat malam hari. Karena aktivitas para pemuda di lingkungan ini, terjadi saat malam tiba.
****
Aku adalah seorang Mahasiswa. Jarang sekali untuk pulang ke rumah. Tugas yang menumpuk, aktivitas di lingkungan kampus malam hari, dan perkuliahan pagi hari. Jarak dari rumah, menuju kampus juga cukup jauh. Seandainya jalan menuju kampus tidak tersendat, cukup satu jam sudah sampai. Tetapi jika tersendat, dua jam waktu menuju kampus.
Banyak yang bilang, aku pintar di jalan. Karena lebih lama di jalan, dibandingkan dengan di tempat perkuliahan. Dan hal itu juga yang membuat badan tidak kuat, untuk pergi-pulang. Menginap di rumah teman, atau menginap di gedung kegiatan Mahasiswa yang selama ini aku lakukan. Malam ini, jumat dan sudah jam dua belas malam.
Aku pulang, karena besok hari sabtu, tidak ada kegiatan perkuliahan pada hari libur. Jam satu dini hari. Dari kejauhan, sebuah tulisan besar di satu tembok baru saja kulihat. “Kapan tulisan ini dibuat? Maksud dari tulisan ini apa?” Bertanya dengan teman sebaya di lingkunganku. “2 hari yang lalu lah, lo sih pergi mulu, jadi gak tahu kejadian apa aja di sini.”
Setelah selesai merapihkan motor, aku ingin tahu. Apa yang sebenarnya terjadi, dengan lingkungan ini. “Kopi hitam satu Om, rokoknya setengah bungkus ya. Hutang dulu aja, nanti senin saya bayar.”
“Lo harus tahu, banyak pedagang yang diusir sama Pak RT karena udah buat ramai di lingkungan ini.” kata Ucup, teman dekatku.
“Lho, gimana sih? Harusnya kan bagus, ada pedangang di pertigaan ini. Jadi, lingkungan kita tidak pernah sepi. Maling juga tidak berani untuk mencuri motor di sini.”
“Ya elo ngomong enak. Ini yang punya rumah samping warung si Om. Katanya keberisikan setiap malem, kalo denger suara kita lagi nongkrong. Nah kata Pak RT, banyak yang transaksi narkoba di sini. Jadi buat jaga-jaga, Pak RT ngusir kita lewat Pak Hansip.”
Pertigaan yang menghubungkan jalan menuju perkampungan dan perumahan besar ini, memang tempat yang strategis. Banyak para pemuda, dan juga warga perumahan yang pulang malam hari itu pun, sering sekali membeli makanan di pertigaan ini.
Lampu yang terang, membuat rasa nyaman bagi para pedangang. Aku-pun sering pulang ke rumah melewati jalan perumahan. Setidaknya, jika kuajak salah satu temanku ke rumah, aku lebih sedikit percaya diri. Karena melewati jalan perumahan.
Terdapat sebuah rumah, tepat berada di tengah-tengah pertigaan jalan lingkungan ini. Dulunya, rumah ini sangat kecil. Bahkan sudah tidak layak huni. Tetapi, saat anak wanita dari pemilik rumah tersebut pulang dari kerjanya di luar negeri. Rumah ini langsung dibangun, seperti istana. Dan saat rumah ini dibangun, pagar pembatas lintas jalan perumahan menuju perkampungan juga dibuat.
Yang kudengar, pemilik rumah besar ini tidak mau ada warga perumahan yang singgah ke perkampungan. Karena, warga perumahan itu bisa membahayakan. Karena gaya hidup mereka yang terlalu modern, bisa jadi mereka yang sering melakukan transaksi narkoba di perkampungan. Dan pagar pembatas itu, pemilik rumah besar yang membiayai.
Meminum kopi, dan menghisap rokok. Ucup gelisah, Ia takut Pak RT datang dan mengusir kita. Tetapi, aku ingin tahu apa alasan Pak RT mengusir kita. Jika, karena terlalu bisingnya suara dari obrolan kita. Tentu sangat tidak wajar. Dan jika karena dituduh bertransaksi narkoba. Tentu aku tidak akan takut. Jelas tidak ada barang bukti. Dan tidak mengkonsumsi narkoba.
****
Aku ingat betul, saat itu. Saat para pedagang berkumpul di saat dini hari seperti ini. Ditambah saat kejuaraan sepakbola dunia dimulai, para pedagang laris diserbu penonton yang kelaparan. Soto, bakso, gorengan, dan nasi goreng. Bercampur menjadi satu. Bahkan, si Ucup pernah menjadi pengantar makanan untuk pedagang nasi goreng. Saat itu, sebelum rumah besar itu terbangun kokoh seperti sekarang ini.
Saat di mana para pemuda meretas kata sandi wi-fi para warga perumahan. Setiap malam, pasti semua berkumpul. Untuk membuka media sosial, mendownload film porno, menonton film-film terbaru, mendownload permainan baru. Bahkan, ada yang mengerjakan tugas di pertigaan jalan ini.
Jika malam aktivitas para pemuda terhenti, sering terjadi aksi-aksi para pencuri yang mondar-mandir. Dua hari yang lalu, motor milik Pak Husep hilang di depan rumahnya. Ibu-ibu berteriak histeris, ada juga yang berteriak “Bakar maling motor” pak haji juga ikut larut dalam kerumunan di depan rumah Pak Husep. Motornya sudah hilang, tetapi para warga masih terus berdatangan.
****
Pak RT datang, beserta para keamanan. Menghampiriku dan tidak mengusir. Melainkan hanya menyapa dengan sopan, lalu bertanya tentang kabar. Setelah itu, mereka berjalan ke rumah seseorang yang seperti istana itu. Dibuka pintu gerbang rumahnya, pembantunya yang keluar dan menghampiri. Terdengar dari suara si pembantu itu. Memberi tahu, jika si Ibu atau yang biasa kita sebut Apak ada di dalam. Dan menunggu kedatangan Pak Rt.
“Tuh kan Cup, kalau kita tidak salah untuk apa takut? Tapi Pak RT ada urusan apa ya, kenapa bertamu sudah dini hari seperti ini. Kenapa tidak bertamu pada siang atau sore aja”
“Emang udah sering, Pak RT keluar-masuk rumah si Apak kalau udah jam segini.”
Keingin tahuanku dengan maksud kedatangan Pak RT, semakin besar. Untuk apa Pak RT datang setiap jam dua dini hari. Dan para petugas keamanan, berjaga di sekitar area rumah. Tidak masuk, dan itu juga menimbulkan rasa keingin tahuanku.
Saat para petugas keamanan pergi untuk membeli rokok. Aku meminjam gitar, langsung kumainkan dengan alunan cepat. Awalnya hanya suara gitar, Ucup semakin panik. Lalu, kutambah dengan sebuah nyanyian. Ucup takut dan lari ke rumah. Pak RT melihat dari jendela, dan si Apak ke luar dan menegurku. “Bisa baca kan lo?”
Pak RT yang melihat-ku dari balkon lantai dua rumah Apak, hanya bisa tertawa. Dan para petugas keamanan datang. Membawaku ke kantor RW(Rukun Warga). Sesampainya di kantor RW, aku langsung bertanya “Mengapa tidak boleh? Kenapa harus ada tulisan itu? Berapa si Apak bayar kalian? Kok mau-maunya setia sama si Apak?”
“Ini lingkungan, terkenal dengan rawan narkoba. Kita di sini, hanya untuk mencegah peredaran narkoba di lingkungan ini.” Ucap Pak RW
Apak adalah seorang penjahit, yang dulunya sering kali menjahit celana sekolahku. Menjadi kecil di bagian mata kaki dan dipotong sampai atas mata kaki. Apak juga memberi tarif murah. Tidak lebih dari lima ribu. Apak juga menjual susu kedelai di sekitaran pasar. Setelah anak pertamanya kembali ke Indonesia, rasa malu Apak tumbuh dan tidak berjualan susu kedelai, juga tidak menjahit lagi.
Ucapan Pak RW membuat semua temanku, termasuk Ucup tertawa. “Lingkungan ini, memang sudah sejak lama. Bahkan sebelum saya lahir-pun, lingkungan ini sudah dijuluki Las Vegas Jakarta karena pesta narkoba, dan judi sering diadakan di lingkungan ini. Seandainya harus ditangkap dan dibubarkan. Semestinya dari beberapa tahun yang lalu saja.”
Aku pulang, setelah diizinkan oleh Pak RW. Dengan syarat, jangan berbicara di sekitaran rumah Apak pada malam sampai pagi hari. Di rumah, seperti anak lainnya. Bermain gawai dan membuka media sosial. Banyak sekali, berita-berita tentang teror bom bunuh diri. Yang terjadi beberapa hari yang lalu di stadion sepakbola eropa.
Terdengar suara langkah kaki yang berlari, dan letupan peluru hampa. Ucup melakukan adegan kejar-kejaran dengan polisi. Karena Ucup dituduh membuat kerusuhan di sekitar lingkungan. “Jangan lari! Gue tembak mati lo.” Ucup melompat ke atap warga, jatuh ke rumah Apak. Apak berteriak. Ucup ditangkap, atas tuduhan membuat kerusuhan, merusak rumah warga, berniat untuk mencuri, dan mengkonsumsi narkoba. Karena terdapat beberapa linting ganja, dan juga pil penenang di samping kaki Ucup.
Apak berada di persidangan, sebagai saksi. Kejanggalan kutemukan, saat Apak berjabat tangan dengan para hakim dan jaksa. Juga dengan para polisi yang menangkap Ucup. Mereka terlihat seperti sudah saling mengenal. Keakraban mereka juga terlihat, saat Apak memberikan sebuah kertas.
Apak memang mempunyai masalah pribadi dengan Ucup, ketika Ucup dengan sengaja membawa mobil Apak untuk berjalan-jalan dengan pacar barunya. Dan itu juga, penyebab Ucup diberhentikan oleh Apak sebagai supir.
Polisi yang menangkap Apak tertawa, tidak ada beban. “Tenang aja, semua aman terkendali.” Kata polisi yang menangkap Ucup.
Tuduhan-tuduhan atas kesalahan Ucup dibacakan oleh hakim, saat pengadilan Ucup berlangsung. Kerusuhan terjadi di luar persidangan, saat Ucup dibawa ke mobil tahanan. Sekelompok orang, membawa senjata tajam, batu, dan kayu. Melempari polisi, meludahi, dan menghina. Mereka tidak terima, karena Ucup ditahan atas bukti yang tidak pasti. Kerusuhan semakin besar.
Pihak kepolisian menembakan gas air mata ke arah pihak Ucup. Pihak Ucup menyerang balik, karena di bawah kelopak mata mereka sudah diolesi dengan pasta gigi. Mereka memukul mundur para polisi. Para polisi mundur, karena kewalahan. Setelah bantuan datang, para polisi menyerang kembali pihak Ucup. Tidak butuh waktu lama, untuk menyerang. Pihak Ucup berlari, setelah menembakan watercanon. Dua jam kejadian itu berlangsung. Ucup tetap menjadi tahanan.
Apak memang warga yang dilindungi oleh keamanan lingkungan. Apak sering dikawal. Baik pergi untuk berbelanja, maupun hanya untuk pergi ke luar untuk cari makanan. Anak wanita Apak jarang sekali pulang ke rumah. Karena sudah berumah tangga, hanya Apak yang ada di rumah besar itu.
Anak wanita Apak sering memperingatkan. Jika Apak harus mencabut tuduhan Ucup. Karena Uucp tidak bersalah. Kejar-kejaran yang dilakukan Ucup dengan polisi hanya pengalihan, agar Ucup tidak membuka semua informasi tentang Apak.
Memang Ucup adalah pemuda yang dekat dengan Apak. Ia bekerja di rumah Apak selama lima bulan. Sebagai supir, Ucup pasti tahu, kegiatan apa yang dilakukan Apak, ketika malam hari. Pak RT-pun sering memberi Ucup uang. Sebagai imbalan, karena tidak berbicara terlalu banyak ketika malam hari.
“Ucup harus bebas, Ia tidak bersalah. Tanpa bukti yang jelas. Tes-urine pun, hasilnya negatif. Ucup tidak menggunakan narkoba.”
“Bebaskan Ucup.”
“Ucup yang tabah di dalam sana.”
“Jangan tangkap Ucup. Kasihan, orangtuanya sudah tidak bekerja. Dia yang selama ini membantu perekonomian keluarganya.”
Kali ini, uang berperan penting dalam aksi penyelamatan Ucup. Uang-pun membuat Ucup kini berada di balik jeruji besi. Keputusan sidang terakhir, Ucup ditahan selama tiga tahun lima bulan. Sudah termasuk remisi. Tulisan “Dilarang Bicara Saat Malam Hari” masih bertahan selama tiga bulan ini. Dengan penjagaan ketat, tidak ada yang berani untuk menghapus tulisan itu.
Pak RT masuk lagi ke rumah Apak. Kali ini, beserta Pak RW dan juga wakilnya. Dua jam mereka berada di rumah Apak. Saat adzan subuh terdengar.Mereka keluar, terlihat Apak yang berjabat tangan kepada Pak RT dan RW.
“Terima kasih Pak, semoga tidak ada berani berbicara lagi saat malam hari.”
“Tenang saja, mereka juga sudah mengurus segalanya di dalam sana.” Mereka pulang, dengan bingkisan dan juga ucapan terima kasih Apak yang mengiringi mereka kembali ke Pos RW.
Pada hari ke-98 setelah Ucup ditahan. Sebuah berita tersiar baik di media cetak maupun elektronik. Ditemukan sosok mayat terkapar di balik jeruji besi, tanpa busana. Dengan mulut tertutup rapat karena jahitan, dan tangan terikat dengan seutas tali yang terikat kencang.
Kepunyaan Ryan
Nicko P
2 botol bir keluaran Inggris
2 chessecake
1 bungkus rokok, bukan kretek
1 pengaman
1 botol minyak urut
1 kamar dengan pendingin ruangan yang super dan tersedia air hangat
Pesanan itulah yang Ryan pesan setelah menonton pertandingan sepakbola. 15 jam perjalanan Ia tempuh dengan mobil sewaan. 8 orang penumpang berisi laki-laki berperut buncit, 2 mempunyai rambut, namun seperti seorang yang sehabis menjalani kemohterapi, 3 berambut rapih dan menggunakan minyak pelicin rambut, seperti adam levine vokalis dari band asal Amerika maroon 5, 2 orang berambut seperti noel vokalis band oasis, dan Ryan berambut ikal dengan bewok dan kumis yang lebat. Menggairahkan, begitu para wanita yang sering memberi testimoni tentang Ryan. Di dalam cerita ini, mereka hanya tokoh sampingan. Jadi sampai sini saja.
Pertandingan dimulai, bernyanyi untuk tim kebanggaan Ibukota. Meminum bir, menghisap rokok, sesekali mencium wanita yang berada di sampingnya. Ryan memang sangat populer di kalangan pendukung sepakbola tim Ibukota. Berkat penampilannya yang mengikuti gaya pendukung Inggris, dan wajahnhya yang sering muncul sebagai model, di pakaian-pakaian ternama. Awalnya Ryan tidak memiliki bewok dan kumis yang lebat. Wajahnya polos, seperti pantat bayi umur 3 minggu. Setelah mendengar ada minyak yang membuat wajah menjadi tumbuh banyak bulu. Ryan membeli minyak keluaran Malaysia itu. Harganya yang mencapai ratusan ribu tidak menjadi masalah untuknya. Ryan merasakan hasil dari minyak itu, 3 bulan pemakaian. Kumis dan bewok tumbuh di wajah. Bukan bermaksud untuk memberi promosi lebih terhadap minyak itu. Sekali lagi, cukup sampai sini saja.
Ryan menghampiri seorang wanita dengan tubuh yang aduhai. Ia menyapa dengan wajah cengengesan. Janggutnya yang seperti kambing, seperti menghipnotis wanita bertubuh aduhai itu. Wanita aduhai menggunakan baju berwarna hitam, tingginya seperti pramugari. Semampai kita sebut. Rambutnya berwarna, seperti sering kali terkena sinar matahari, kekuningan nampak terang di bagian bawah. Diajaknya berkenalan. “Aku Ryan, cantik sekali kamu. Setelah pertandingan, pulang dengan siapa? Kamu aseli dari kota ini bukan? Mau temani aku keliling kota? Aku bukan aseli dari kota ini, jika mau─aku membawa mobil” Pertandingan belum usai, Ryan sesekali menggandeng wanita yang baru 10 menit berkenalan. Mempunyai pacar atau belum, tidak menjadi masalah. “Yasudah, tapi jangan terlalu malam ya” Ucap wanita aduhai itu. Siapa yang tidak kenal dengan Ryan. Bahkan, pengikut akun media sosial miliknya sudah mencapai ratusan ribu. Siapa yang tidak iri dengannya. Setiap malam, menghabiskan uang dengan datang ke klab hiburan. Jutaan setiap malam Ia keluarkan. Lalu besoknya, uang datang dengan hasil menjual sepatu sneakers ternama buatan Jerman. Begitu setiap malam. Semisal waktu itu, Ia diantar pulang oleh temannya. Tetapi, baru 1 jam berada di rumah, Ia langsung memesan jasa ojek online untuk mengantar ke klab hiburan malam.
Ia tidak bisa mengendarai sepeda motor dan mobil. Jika ditanya kenapa tidak bisa, dan disindir harus belajar. Ryan mengelak dengan alasan “Ya sekiranya gue ngasih rezeki, buat tukang ojek”
“Alasan lo! Adek gue yang SMP aja udah bisa bawa motor, masa iya lo kalah!” Ucap temannya bernama Vino .
“Beli vespa dong, nanti kita vespaan bareng.” Kata Rahmat, teman Ryan sewaktu di SMA.
“Vespa mah ada di rumah, tinggal bawa aja. Nah ini masalahnye, gue kagak bisa bawa.”
Pernyataan Ryan selalu membuat tertawa. Terutama Vino, yang sering meledeknya dengan cara yang membuat Ryan menjadi marah. Tetapi tidak benar-benar marah, melainkan hanya membalas ledekan Vino dengan ucapan “Aiiiisss, anjing!”
“Muka lo ganteng, tante-tante banyak yang suka. Tapi lo gak bisa bawa motor, mending lo balik lagi aja ke PAUD. Ha ha ha”
Ryan selalu cengengesan jika diledek tidak bisa mengendarai motor. Apalagi saat Ryan, Vino, Rahmat, Arif pergi ke klab hiburan malam bersama. Ryan tidak tahan untuk buang air kecil sedari di dalam mobil. Langsung mencari toilet di klab. Vino ikut, untuk sekadar cuci muka. Tidak sengaja, dari pantulan cermin. Vino melihat kepunyaan Ryan yang begitu kecil. Sehingga membuat Vino tertawa sembari menunjuk ke arah kepunyaan Ryan. Malam itu, Vino mengancam Ryan untuk membelikan minuman sepuasnya. Jika tidak dibelikan, Vino mengancam untuk membongkar aibnya ke semua orang melalui media sosial. “Sial lo anjing!” Ryan kesal, namun tidak bisa berbuat banyak. Karena kenyataannya memang kepunyaan Ryan begitu kecil. “Punya lo kecil, diusap-usap dulu kali ya biar bisa bangun. Ha ha ha” Vino terus meledek Ryan. Janji Vino untuk tidak membongkar aib Ryan tidak dihiraukannya. Sesampainya di meja, Vino langsung memberi kabar menggelikan itu kepada Arif, dan Rahmat. Mereka semua tertawa. Ryan yang baru saja selesai dari kakus, dan duduk di kursi yang empuk─tertunduk malu, ketika mereka tertawa sambil menunjuk kepunyaan Ryan.
“Udah tenang aja, gak usah malu gitu. Ha ha ha” Kata Arif.
“Ikut gue Yan.” Rahmat menarik Ryan ke dalam toilet.
“Mau apa?” kata Ryan.
“Gue mau lihat, kepunyaan lo sekecil apa sih?”
“Lo Homo? Ngapain lo liat punya gue?”
“Bangsat! Gue normal, gue hanya mau tahu aja sekecil apa? Gue tahu ramuan yang cocok buat lo.”
Ryan membuka celananya di hadapan Rahmat. Untuk ukuran laki-laki normal, itu sangat menjijikan. Ketika dua orang laki-laki, saling berhadapan dan melihat kepunyaan laki-laki satunya.
“Anjing! Kecil banget! Udah, lo ikutin saran gue. Waktu itu juga, punya gue kecil. Nah pas gue dikasih tahu sama pecun (pelacur) yang waktu itu gue sewa. Katanya, kasih teh basi aja setiap pagi. Nah, gue coba. Dan ini lo lihat hasilnya sekarang! Besar kan!” Rahmat juga ikut membuka celana di hadapan Ryan. Dan ketika mereka saling membuka celana. Seorang laki-laki berbadan kekar seperti popye the sailorman, masuk ke toilet. Melirik kepunyaan Rahmat, dan mengajak pergi ke apartemen miliknya.
Ryan tertawa, karena laki-laki berbadan kekar itu memberi kartu namanya kepada Rahmat. Harapan laki-laki itu, agar Rahmat bersedia main ke apartemennya. Rahmat menganggukan kepala, dan mata laki-laki berbadan kekar itu berkedip 3 kali ke arah Rahmat.
Setelah konsultasi di toilet selesai. Mereka ber-4 menari-nari di lantai dansa. Ryan yang tingkahnya memang seperti don juan mendekati wanita-wanita betubuh aduhai dengan baju yang melihatkan ketiaknya.
“Ke sini sama siapa?” Teriak Ryan, karenas suara musik dari discjokie begitu kencang.
“Sendiri, kenapa?” kata wanita bertubuh aduhai.
“Ikut kita yuk, jalan-jalan nyari angin”
“Boleh, naik mobil apa ke sini?”
“Ikut aja, nanti juga tahu.”
Ryan mengajak Arif, Rahmat, dan Vino untuk keluar dari klab hiburan. Wanita bertubuh aduhai itu juga ikut membawa ke-3 temannya. Salah satunya memakai baju bermotif kulit macan. “Aiiiihh ngeri sekali. Jadi mau dicakar nih, sama kakak yang itu.” Ucap Vino sambil menunjuk wanita yang Ia mau.
Mereka keliling Ibukota. Pukul 3 dini hari, mereka akhirnya menginap di apartemen milik Vino. Sebenarnya, itu milik temannya yang seorang model. Tetapi, temannya sedang ada pekerjaan di luar kota. Jadi, untuk sementara Vino yang memegang kunci kamarnya.
Sampai di apartemen. Rahmat, dan Arif mengajak 2 wanita ke dalam kamar. Membuka pakaian, dan melakukan. Vino-pun demikian. Tidak di dalam kamar, melainkan di bangku dengan televisi di depannya. Sedangkan Ryan, lebih memilih untuk melakukan di dalam kamar mandi. Ryan mempunyai obsesi untuk melakukan menggunakan sabun mandi agar menjadi licin.
Setelah pagi. Ke-4 wanita itu membilas tubuh di kamar mandi. Ke-4 wanita itu mandi bersama-sama. Rahmat yang sudah terbangun, seperti jurnalis yang haus akan berita. Diambilnya smartphone Ryan dengan kualitas kamera super HQ(Hightquality). Ke-4 wanita itu, mandi dengan busa yang berada di seluruh tubuh. Bermain-main dengan busa, menggosok-gosok badan satu sama lain. Rahmat tetap asik memfoto dan merekam kegiatan aduhai itu. Mereka pulang dengan memanggil sebuah taksi. Ryan dan ke-2 temannya masih tertidur. Sementara Rahmat sudah menghabiskan beberapa batang rokok, dan satu gelas kopi hitam pekat. Siang, mereka terbangun karena lapar.
Ryan masuk ke dalam sebuah kamar hotel bernomor 12a. Menghisap beberapa batang rokok, obrolan yang bertujuan menambah kehangatan dibuatnya.Wanita bertubuh aduhai di bangku penonton yang diajak kenalan itu, membuka pakaiannya di hadapan Ryan. Ryan disuguhi dengan tarian pinggul. Ryan masih menahan diri, sesekali memegang payudara wanita itu. 10 menit tarian pinggul seperti wanita gurun pasir, Ryan m embuka seluruh pakaian. Mereka melakukan. Sesekali wanita aduhai itu menjerit seperti kucing betina yang sedang melakukan dengan kucing jantan, semakin menggairahkan Ryan. Sebuah bir dan chessecake yang dipesan, menjadi hidangan istimewa setelah mereka melakukan. Wanita itu berkata “Aku puas!” Ryan senang karena ramuan hasil konsultasi dari Rahmat berhasil.
2 botol bir keluaran Inggris
2 chessecake
1 bungkus rokok, bukan kretek
1 pengaman
1 botol minyak urut
1 kamar dengan pendingin ruangan yang super dan tersedia air hangat
Pesanan itulah yang Ryan pesan setelah menonton pertandingan sepakbola. 15 jam perjalanan Ia tempuh dengan mobil sewaan. 8 orang penumpang berisi laki-laki berperut buncit, 2 mempunyai rambut, namun seperti seorang yang sehabis menjalani kemohterapi, 3 berambut rapih dan menggunakan minyak pelicin rambut, seperti adam levine vokalis dari band asal Amerika maroon 5, 2 orang berambut seperti noel vokalis band oasis, dan Ryan berambut ikal dengan bewok dan kumis yang lebat. Menggairahkan, begitu para wanita yang sering memberi testimoni tentang Ryan. Di dalam cerita ini, mereka hanya tokoh sampingan. Jadi sampai sini saja.
Pertandingan dimulai, bernyanyi untuk tim kebanggaan Ibukota. Meminum bir, menghisap rokok, sesekali mencium wanita yang berada di sampingnya. Ryan memang sangat populer di kalangan pendukung sepakbola tim Ibukota. Berkat penampilannya yang mengikuti gaya pendukung Inggris, dan wajahnhya yang sering muncul sebagai model, di pakaian-pakaian ternama. Awalnya Ryan tidak memiliki bewok dan kumis yang lebat. Wajahnya polos, seperti pantat bayi umur 3 minggu. Setelah mendengar ada minyak yang membuat wajah menjadi tumbuh banyak bulu. Ryan membeli minyak keluaran Malaysia itu. Harganya yang mencapai ratusan ribu tidak menjadi masalah untuknya. Ryan merasakan hasil dari minyak itu, 3 bulan pemakaian. Kumis dan bewok tumbuh di wajah. Bukan bermaksud untuk memberi promosi lebih terhadap minyak itu. Sekali lagi, cukup sampai sini saja.
Ryan menghampiri seorang wanita dengan tubuh yang aduhai. Ia menyapa dengan wajah cengengesan. Janggutnya yang seperti kambing, seperti menghipnotis wanita bertubuh aduhai itu. Wanita aduhai menggunakan baju berwarna hitam, tingginya seperti pramugari. Semampai kita sebut. Rambutnya berwarna, seperti sering kali terkena sinar matahari, kekuningan nampak terang di bagian bawah. Diajaknya berkenalan. “Aku Ryan, cantik sekali kamu. Setelah pertandingan, pulang dengan siapa? Kamu aseli dari kota ini bukan? Mau temani aku keliling kota? Aku bukan aseli dari kota ini, jika mau─aku membawa mobil” Pertandingan belum usai, Ryan sesekali menggandeng wanita yang baru 10 menit berkenalan. Mempunyai pacar atau belum, tidak menjadi masalah. “Yasudah, tapi jangan terlalu malam ya” Ucap wanita aduhai itu. Siapa yang tidak kenal dengan Ryan. Bahkan, pengikut akun media sosial miliknya sudah mencapai ratusan ribu. Siapa yang tidak iri dengannya. Setiap malam, menghabiskan uang dengan datang ke klab hiburan. Jutaan setiap malam Ia keluarkan. Lalu besoknya, uang datang dengan hasil menjual sepatu sneakers ternama buatan Jerman. Begitu setiap malam. Semisal waktu itu, Ia diantar pulang oleh temannya. Tetapi, baru 1 jam berada di rumah, Ia langsung memesan jasa ojek online untuk mengantar ke klab hiburan malam.
Ia tidak bisa mengendarai sepeda motor dan mobil. Jika ditanya kenapa tidak bisa, dan disindir harus belajar. Ryan mengelak dengan alasan “Ya sekiranya gue ngasih rezeki, buat tukang ojek”
“Alasan lo! Adek gue yang SMP aja udah bisa bawa motor, masa iya lo kalah!” Ucap temannya bernama Vino .
“Beli vespa dong, nanti kita vespaan bareng.” Kata Rahmat, teman Ryan sewaktu di SMA.
“Vespa mah ada di rumah, tinggal bawa aja. Nah ini masalahnye, gue kagak bisa bawa.”
Pernyataan Ryan selalu membuat tertawa. Terutama Vino, yang sering meledeknya dengan cara yang membuat Ryan menjadi marah. Tetapi tidak benar-benar marah, melainkan hanya membalas ledekan Vino dengan ucapan “Aiiiisss, anjing!”
“Muka lo ganteng, tante-tante banyak yang suka. Tapi lo gak bisa bawa motor, mending lo balik lagi aja ke PAUD. Ha ha ha”
Ryan selalu cengengesan jika diledek tidak bisa mengendarai motor. Apalagi saat Ryan, Vino, Rahmat, Arif pergi ke klab hiburan malam bersama. Ryan tidak tahan untuk buang air kecil sedari di dalam mobil. Langsung mencari toilet di klab. Vino ikut, untuk sekadar cuci muka. Tidak sengaja, dari pantulan cermin. Vino melihat kepunyaan Ryan yang begitu kecil. Sehingga membuat Vino tertawa sembari menunjuk ke arah kepunyaan Ryan. Malam itu, Vino mengancam Ryan untuk membelikan minuman sepuasnya. Jika tidak dibelikan, Vino mengancam untuk membongkar aibnya ke semua orang melalui media sosial. “Sial lo anjing!” Ryan kesal, namun tidak bisa berbuat banyak. Karena kenyataannya memang kepunyaan Ryan begitu kecil. “Punya lo kecil, diusap-usap dulu kali ya biar bisa bangun. Ha ha ha” Vino terus meledek Ryan. Janji Vino untuk tidak membongkar aib Ryan tidak dihiraukannya. Sesampainya di meja, Vino langsung memberi kabar menggelikan itu kepada Arif, dan Rahmat. Mereka semua tertawa. Ryan yang baru saja selesai dari kakus, dan duduk di kursi yang empuk─tertunduk malu, ketika mereka tertawa sambil menunjuk kepunyaan Ryan.
“Udah tenang aja, gak usah malu gitu. Ha ha ha” Kata Arif.
“Ikut gue Yan.” Rahmat menarik Ryan ke dalam toilet.
“Mau apa?” kata Ryan.
“Gue mau lihat, kepunyaan lo sekecil apa sih?”
“Lo Homo? Ngapain lo liat punya gue?”
“Bangsat! Gue normal, gue hanya mau tahu aja sekecil apa? Gue tahu ramuan yang cocok buat lo.”
Ryan membuka celananya di hadapan Rahmat. Untuk ukuran laki-laki normal, itu sangat menjijikan. Ketika dua orang laki-laki, saling berhadapan dan melihat kepunyaan laki-laki satunya.
“Anjing! Kecil banget! Udah, lo ikutin saran gue. Waktu itu juga, punya gue kecil. Nah pas gue dikasih tahu sama pecun (pelacur) yang waktu itu gue sewa. Katanya, kasih teh basi aja setiap pagi. Nah, gue coba. Dan ini lo lihat hasilnya sekarang! Besar kan!” Rahmat juga ikut membuka celana di hadapan Ryan. Dan ketika mereka saling membuka celana. Seorang laki-laki berbadan kekar seperti popye the sailorman, masuk ke toilet. Melirik kepunyaan Rahmat, dan mengajak pergi ke apartemen miliknya.
Ryan tertawa, karena laki-laki berbadan kekar itu memberi kartu namanya kepada Rahmat. Harapan laki-laki itu, agar Rahmat bersedia main ke apartemennya. Rahmat menganggukan kepala, dan mata laki-laki berbadan kekar itu berkedip 3 kali ke arah Rahmat.
Setelah konsultasi di toilet selesai. Mereka ber-4 menari-nari di lantai dansa. Ryan yang tingkahnya memang seperti don juan mendekati wanita-wanita betubuh aduhai dengan baju yang melihatkan ketiaknya.
“Ke sini sama siapa?” Teriak Ryan, karenas suara musik dari discjokie begitu kencang.
“Sendiri, kenapa?” kata wanita bertubuh aduhai.
“Ikut kita yuk, jalan-jalan nyari angin”
“Boleh, naik mobil apa ke sini?”
“Ikut aja, nanti juga tahu.”
Ryan mengajak Arif, Rahmat, dan Vino untuk keluar dari klab hiburan. Wanita bertubuh aduhai itu juga ikut membawa ke-3 temannya. Salah satunya memakai baju bermotif kulit macan. “Aiiiihh ngeri sekali. Jadi mau dicakar nih, sama kakak yang itu.” Ucap Vino sambil menunjuk wanita yang Ia mau.
Mereka keliling Ibukota. Pukul 3 dini hari, mereka akhirnya menginap di apartemen milik Vino. Sebenarnya, itu milik temannya yang seorang model. Tetapi, temannya sedang ada pekerjaan di luar kota. Jadi, untuk sementara Vino yang memegang kunci kamarnya.
Sampai di apartemen. Rahmat, dan Arif mengajak 2 wanita ke dalam kamar. Membuka pakaian, dan melakukan. Vino-pun demikian. Tidak di dalam kamar, melainkan di bangku dengan televisi di depannya. Sedangkan Ryan, lebih memilih untuk melakukan di dalam kamar mandi. Ryan mempunyai obsesi untuk melakukan menggunakan sabun mandi agar menjadi licin.
Setelah pagi. Ke-4 wanita itu membilas tubuh di kamar mandi. Ke-4 wanita itu mandi bersama-sama. Rahmat yang sudah terbangun, seperti jurnalis yang haus akan berita. Diambilnya smartphone Ryan dengan kualitas kamera super HQ(Hightquality). Ke-4 wanita itu, mandi dengan busa yang berada di seluruh tubuh. Bermain-main dengan busa, menggosok-gosok badan satu sama lain. Rahmat tetap asik memfoto dan merekam kegiatan aduhai itu. Mereka pulang dengan memanggil sebuah taksi. Ryan dan ke-2 temannya masih tertidur. Sementara Rahmat sudah menghabiskan beberapa batang rokok, dan satu gelas kopi hitam pekat. Siang, mereka terbangun karena lapar.
Ryan masuk ke dalam sebuah kamar hotel bernomor 12a. Menghisap beberapa batang rokok, obrolan yang bertujuan menambah kehangatan dibuatnya.Wanita bertubuh aduhai di bangku penonton yang diajak kenalan itu, membuka pakaiannya di hadapan Ryan. Ryan disuguhi dengan tarian pinggul. Ryan masih menahan diri, sesekali memegang payudara wanita itu. 10 menit tarian pinggul seperti wanita gurun pasir, Ryan m embuka seluruh pakaian. Mereka melakukan. Sesekali wanita aduhai itu menjerit seperti kucing betina yang sedang melakukan dengan kucing jantan, semakin menggairahkan Ryan. Sebuah bir dan chessecake yang dipesan, menjadi hidangan istimewa setelah mereka melakukan. Wanita itu berkata “Aku puas!” Ryan senang karena ramuan hasil konsultasi dari Rahmat berhasil.
Selasa, 20 Oktober 2015
CITRA
Nicko Pratama
Lampu kota sudah menyalah, mengiringi para pengguna jalan untuk menerangkan dari kegelapan dan menenangkan dari rasa takut akan perampokan di tengah jalan. Bau minyak wangi sudah habis juga, akibat asap pekat dari metro mini malam hari.
Aku mahasiswa tingkat akhir, menjalani perkuliahan seperti Mahasiswa lainnya di Jurusan Seni Rupa, di salah satu Institusi di Jakarta. Seperti biasa aku pulang pada larut malam, bukan lembur karena rapat untuk kepentingan organisasi. Aku seorang pekerja lepas untuk jasa transportasi darat yang saat ini sedang hangat diperbincangkan. Bermodalkan motor yang aku cicil beberapa bulan ─ dibantu orang tua. Pikirku, sudah tingkat akhir dan tinggal menjalani beberapa syarat untuk menuntaskan perkuliahan dan mendapat gelar sarjana, yang diinginkan orang tuaku. Selepas mengantar penumpang yang kebetulan satu arah menuju kampusku, aku bertanya ke salah seorang teman melalui media sosial, untuk tahu ada siapa saja yang masih setia menunggu pendopo. “Ke sini aje, masih rame kok di pendopo.” Ia membalasnya. Sembari menunggu kemacetan berakhir, berdiskusi atau membicarakan hal yang tidak penting dengan teman kampusku sering dilakukan. Membicarakan tentang dosen A atau B, bahkan bercerita tentang gadis yang sedang kita sukai. Segelas kopi, satu bungkus rokok selalu menjadi penghangat di malam hari.
Sudah jam 10 malam, berjalan seorang diri menuju lantai 4 parkiran. Ternyata masih ada kemacetan di jalan arah menuju rumah. Memutar balik arah ─ sedikit lebih jauh, namun tidak ada kemacetan. Di tengah perjalanan, aku melintasi sebuah tempat lokalisasi. Banyak sekali PSK(Pekerja Seks Komersial) yang berdiri di pinggir jalan, di depan pagar belakang taman. Aku penasaran, banyak sekali wanita. Dari muda, setengah tua(berkisar umur 35 tahun) bahkan ada yang sudah berumur 45 tahun. Dan yang lebih mengagetkanku, ada wanita yang sedang hamil, namun tetap melayani para tamu. Aku-pun semakin penasaran dengan wanita yang menjajakan tubuhnya dengan harga yang belum ku ketahui ini.
Di tempat lokalisasi, banyak pedagang yang berjualan di sekitaran berdirinya wanita. Dari tukang kopi, rokok, pelindung kepala, lampu motor untuk bergaya, gorengan, dan tukang kacang yang sudah langka ditemukan.
Motor aku pinggirkan dan membakar sebatang rokok, berniat ingin tahu harga yang mereka tawarkan. Belum ada yang menghampiriku selama aku menghisap sebatang rokok. Rokok sudah habis, tidak ada yang menghampiriku. Ketika berniat untuk pulang, seorang wanita datang dan menyapa. Tanpa banyak bicara aku langsung bertanya berapa harganya untuk satu malam.
“350 ribu sudah sama hotel Sayang.” Kata wanita itu.
“Apa tidak bisa kurang? 200 ribu saja bagaimana? Bisa?
“Bisa kok, tapi belum termasuk hotel, ya paling hotel hanya 50 ribu. Kalau mau, kita langsung berangkat. Hotelnya dekat kok, tidak jauh dari sini.”
Seperti barang yang diperjual belikan, bebas tawar menawar itu terjadi. Sebelum kita berangkat menuju hotel yang ia janjikan, aku membakar sebatang rokok. Aku tawari dia, dan meminjamkan pemantik api.
Di perjalanan menuju hotel aku merasa ada yang berbeda dari wanita yang aku ajak untuk bercumbu satu malam ini. Sesampainya di hotel, wanita itu langsung mengambil kunci kamar dari petugas hotel. Senyuman lirih petugas hotel seperti mengejekku. Tidak banyak para pemuda sepertiku yang ada di sana. Bahkan, kalau dilihat dari wajahnya ─ ada yang berumur sekitar 40 tahun. Aku masuk ke dalam kamar hotel. Menaruh tas di atas kasur dan membuka jaket. Sebelumnya ia meminta kartu identitas-ku untuk menyewa hotel yang akan menjadi tempat bercumbu. Ada uang tambahan, untuk membeli pengaman, dengan harga sepuluh ribu rupiah. Seusai itu, pintu dikunci rapat, agar tidak ada seorang-pun yang melihat dan masuk tanpa mengetuk. Wanita itu menyiapkan segalanya. Dari mulai menyalahkan televisi, pendingin ruangan, dan pengaman saat bercumbu nanti.
“Aku ingin cuci muka terlebih dahulu.” Kataku.
“Jangan terlalu lama, nanti aku menjadi bosan.”
“Kau sudah aku bayar, jadi apapun yang aku lakukan kau harus terima.”
Di dalam kamar mandi aku melihat sebuah cermin, menatap ke dalam mataku. Apa ada kotoran yang terselip. Selesai mencuci muka, aku hampiri wanita itu. Tanpa busana, tanpa sehelai benang yang ada di tubuhnya. Lekuk tubuhnya indah. Ada tattoo di punggung, lengan, dan kaki.
“Umar, siapa namamu?”
“Citra, yaudah langsung saja. Sudah cuci muka kan? Jangan terlalu lama.”
“Sebentar, aku membuka sepatuku terlebih dahulu.”
Citra memang sudah ahli, tanpa banyak bicara dia langsung memelukku dan ingin mencium bibirku. Aku melepaskannya dan ingin menghabiskan waktu lebih lama dengannya. Lagi, dia berusaha mendekatkan payudaranya ke arah wajahku. Aku menghindar, bukan berarti aku tidak suka dengan wanita dan juga bukan berarti aku seorang ahli agama yang seketika ingin mentaubatkan dia secara tiba-tiba.
“Kita tidak perlu berbuat seperti ini. Kenakan lagi pakaianmu.”
“Lho? Jadi untuk apa kamu membayar aku kalau bukan untuk bercumbu denganku? Apa kau tidak normal? Aku bisa panggilkan teman waria (Wanita Pria)-ku untuk menggantikan aku. Tenang, tidak perlu menambah biaya.”
Aku mengambil sebuah buku, dan sekali lagi aku memerintahkannya untuk mengenakan pakaiannya lagi. Setelah dia memakainya, aku lihat ada yang berbeda dari Citra.
“Coba kamu berdiri di samping ranjang tidur itu.”
“Untuk apa?” Jangan main-main.”
“Aku sudah membayarmu, jadi apapun yang aku mau kau harus ikuti perintahku.”
Setelah dia berdiri di samping ranjang tidur, aku mengambil sebuah pensil. Aku mengabadikannya dengan menggambarnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Semua bagian tubuhnya yang memakai busana. 1 Jam aku menggambarnya, dia terlihat lelah. Aku memerintahkannya untuk duduk. Terlihat sangat lelah, aku memanggil petugas hotel. Untuk membeli minuman untuknya.
Citra seolah tidak mengerti, mengapa aku tidak mau bercumbu dengannya. Tetapi hanya menggambar dia dan juga kenapa tidak difoto saja dengan gawai yang aku punya.
“Sudah selesai, kamu cantik sekali Cit.”
“Mengapa kau menggambarku? Apa aku kurang menarik, sehingga kamu tidak mau bercumbu denganku? Dan juga, kan kamu membawa handphone. Kenapa tidak difoto saja? Kenapa juga harus susah payah menggambar?”
“Kau sangat cantik, bukan berarti aku tidak mau berhubungan intim denganmu. Melainkan kecantikanmu sangat mahal bagiku, sehingga sebuah foto bisa saja terhapus oleh virus di handphone-ku.”
“Lho tapi kan kalau nanti kamu kehujanan bukumu basah, ya pasti gambarmu juga rusak, bahkan hancur.”
“Aku seorang Mahasiswa Seni Rupa. Jadi, wajar saja jika aku menggambarmu. Kau hanya sebatas objek saja. Untuk penambah koleksi gambarku.
“Terserah kamu aja ya Mar, kalau kita sudah selesai aku akan keluar dari kamar ini. Terima kasih atas lelucon ini. Udah bayar tapi malah ngegambar.”
Citra memang sosok PSK Hyper Sex, dengan kata lain haus akan melakukan cumbu. Buktinya saja, ketika baru masuk kamar. Dia langsung membuka bajunya dan tidak ingin lama-lama di kamar. Sebab ini hari kamis, banyak tamu biasanya yang datang menghampirinya.
Namun, tetap saja aku tidak ingin bercumbu dengannya. Sebab dia bukan pasangan halalku. Dan aku membayarnya bukan untuk bercumbu secara cepat, selepas itu pergi dan tidak ingat apa yang terjadi. Aku membayarnya, sama saja seperti model-model objek lukisku. Butuh tenaga untuk bergaya yang aku inginkan. Jadi, sangat tidak mungkin, jika aku tidak membayarnya.
Aku keluar dari kamar hotel, bertanya kepada petugas hotel berapa harga yang harus aku bayar untuk 2 jam. Petugas hotel itu memberi bukti pembayaran kamar hotel yang sudah lunas. Dan juga uangku yang tadinya kuberikan kepada Citra ─ dikembalikan setengahnya. Dengan sebuah catatan. “Terima kasih, ternyata kau orang baik, jaga baik-baik gambarku.” Sudah pukul 1 dini hari, aku lanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Sebelum berangkat, aku membakar sebatang rokok terakhirku untuk perjalanan pulang. Dan sebatang rokok yang aku nyalahkan ini, menjadi penghantar imaji akan Citra yang aku bayangkan di atap rumah.
Lampu kota sudah menyalah, mengiringi para pengguna jalan untuk menerangkan dari kegelapan dan menenangkan dari rasa takut akan perampokan di tengah jalan. Bau minyak wangi sudah habis juga, akibat asap pekat dari metro mini malam hari.
Aku mahasiswa tingkat akhir, menjalani perkuliahan seperti Mahasiswa lainnya di Jurusan Seni Rupa, di salah satu Institusi di Jakarta. Seperti biasa aku pulang pada larut malam, bukan lembur karena rapat untuk kepentingan organisasi. Aku seorang pekerja lepas untuk jasa transportasi darat yang saat ini sedang hangat diperbincangkan. Bermodalkan motor yang aku cicil beberapa bulan ─ dibantu orang tua. Pikirku, sudah tingkat akhir dan tinggal menjalani beberapa syarat untuk menuntaskan perkuliahan dan mendapat gelar sarjana, yang diinginkan orang tuaku. Selepas mengantar penumpang yang kebetulan satu arah menuju kampusku, aku bertanya ke salah seorang teman melalui media sosial, untuk tahu ada siapa saja yang masih setia menunggu pendopo. “Ke sini aje, masih rame kok di pendopo.” Ia membalasnya. Sembari menunggu kemacetan berakhir, berdiskusi atau membicarakan hal yang tidak penting dengan teman kampusku sering dilakukan. Membicarakan tentang dosen A atau B, bahkan bercerita tentang gadis yang sedang kita sukai. Segelas kopi, satu bungkus rokok selalu menjadi penghangat di malam hari.
Sudah jam 10 malam, berjalan seorang diri menuju lantai 4 parkiran. Ternyata masih ada kemacetan di jalan arah menuju rumah. Memutar balik arah ─ sedikit lebih jauh, namun tidak ada kemacetan. Di tengah perjalanan, aku melintasi sebuah tempat lokalisasi. Banyak sekali PSK(Pekerja Seks Komersial) yang berdiri di pinggir jalan, di depan pagar belakang taman. Aku penasaran, banyak sekali wanita. Dari muda, setengah tua(berkisar umur 35 tahun) bahkan ada yang sudah berumur 45 tahun. Dan yang lebih mengagetkanku, ada wanita yang sedang hamil, namun tetap melayani para tamu. Aku-pun semakin penasaran dengan wanita yang menjajakan tubuhnya dengan harga yang belum ku ketahui ini.
Di tempat lokalisasi, banyak pedagang yang berjualan di sekitaran berdirinya wanita. Dari tukang kopi, rokok, pelindung kepala, lampu motor untuk bergaya, gorengan, dan tukang kacang yang sudah langka ditemukan.
Motor aku pinggirkan dan membakar sebatang rokok, berniat ingin tahu harga yang mereka tawarkan. Belum ada yang menghampiriku selama aku menghisap sebatang rokok. Rokok sudah habis, tidak ada yang menghampiriku. Ketika berniat untuk pulang, seorang wanita datang dan menyapa. Tanpa banyak bicara aku langsung bertanya berapa harganya untuk satu malam.
“350 ribu sudah sama hotel Sayang.” Kata wanita itu.
“Apa tidak bisa kurang? 200 ribu saja bagaimana? Bisa?
“Bisa kok, tapi belum termasuk hotel, ya paling hotel hanya 50 ribu. Kalau mau, kita langsung berangkat. Hotelnya dekat kok, tidak jauh dari sini.”
Seperti barang yang diperjual belikan, bebas tawar menawar itu terjadi. Sebelum kita berangkat menuju hotel yang ia janjikan, aku membakar sebatang rokok. Aku tawari dia, dan meminjamkan pemantik api.
Di perjalanan menuju hotel aku merasa ada yang berbeda dari wanita yang aku ajak untuk bercumbu satu malam ini. Sesampainya di hotel, wanita itu langsung mengambil kunci kamar dari petugas hotel. Senyuman lirih petugas hotel seperti mengejekku. Tidak banyak para pemuda sepertiku yang ada di sana. Bahkan, kalau dilihat dari wajahnya ─ ada yang berumur sekitar 40 tahun. Aku masuk ke dalam kamar hotel. Menaruh tas di atas kasur dan membuka jaket. Sebelumnya ia meminta kartu identitas-ku untuk menyewa hotel yang akan menjadi tempat bercumbu. Ada uang tambahan, untuk membeli pengaman, dengan harga sepuluh ribu rupiah. Seusai itu, pintu dikunci rapat, agar tidak ada seorang-pun yang melihat dan masuk tanpa mengetuk. Wanita itu menyiapkan segalanya. Dari mulai menyalahkan televisi, pendingin ruangan, dan pengaman saat bercumbu nanti.
“Aku ingin cuci muka terlebih dahulu.” Kataku.
“Jangan terlalu lama, nanti aku menjadi bosan.”
“Kau sudah aku bayar, jadi apapun yang aku lakukan kau harus terima.”
Di dalam kamar mandi aku melihat sebuah cermin, menatap ke dalam mataku. Apa ada kotoran yang terselip. Selesai mencuci muka, aku hampiri wanita itu. Tanpa busana, tanpa sehelai benang yang ada di tubuhnya. Lekuk tubuhnya indah. Ada tattoo di punggung, lengan, dan kaki.
“Umar, siapa namamu?”
“Citra, yaudah langsung saja. Sudah cuci muka kan? Jangan terlalu lama.”
“Sebentar, aku membuka sepatuku terlebih dahulu.”
Citra memang sudah ahli, tanpa banyak bicara dia langsung memelukku dan ingin mencium bibirku. Aku melepaskannya dan ingin menghabiskan waktu lebih lama dengannya. Lagi, dia berusaha mendekatkan payudaranya ke arah wajahku. Aku menghindar, bukan berarti aku tidak suka dengan wanita dan juga bukan berarti aku seorang ahli agama yang seketika ingin mentaubatkan dia secara tiba-tiba.
“Kita tidak perlu berbuat seperti ini. Kenakan lagi pakaianmu.”
“Lho? Jadi untuk apa kamu membayar aku kalau bukan untuk bercumbu denganku? Apa kau tidak normal? Aku bisa panggilkan teman waria (Wanita Pria)-ku untuk menggantikan aku. Tenang, tidak perlu menambah biaya.”
Aku mengambil sebuah buku, dan sekali lagi aku memerintahkannya untuk mengenakan pakaiannya lagi. Setelah dia memakainya, aku lihat ada yang berbeda dari Citra.
“Coba kamu berdiri di samping ranjang tidur itu.”
“Untuk apa?” Jangan main-main.”
“Aku sudah membayarmu, jadi apapun yang aku mau kau harus ikuti perintahku.”
Setelah dia berdiri di samping ranjang tidur, aku mengambil sebuah pensil. Aku mengabadikannya dengan menggambarnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Semua bagian tubuhnya yang memakai busana. 1 Jam aku menggambarnya, dia terlihat lelah. Aku memerintahkannya untuk duduk. Terlihat sangat lelah, aku memanggil petugas hotel. Untuk membeli minuman untuknya.
Citra seolah tidak mengerti, mengapa aku tidak mau bercumbu dengannya. Tetapi hanya menggambar dia dan juga kenapa tidak difoto saja dengan gawai yang aku punya.
“Sudah selesai, kamu cantik sekali Cit.”
“Mengapa kau menggambarku? Apa aku kurang menarik, sehingga kamu tidak mau bercumbu denganku? Dan juga, kan kamu membawa handphone. Kenapa tidak difoto saja? Kenapa juga harus susah payah menggambar?”
“Kau sangat cantik, bukan berarti aku tidak mau berhubungan intim denganmu. Melainkan kecantikanmu sangat mahal bagiku, sehingga sebuah foto bisa saja terhapus oleh virus di handphone-ku.”
“Lho tapi kan kalau nanti kamu kehujanan bukumu basah, ya pasti gambarmu juga rusak, bahkan hancur.”
“Aku seorang Mahasiswa Seni Rupa. Jadi, wajar saja jika aku menggambarmu. Kau hanya sebatas objek saja. Untuk penambah koleksi gambarku.
“Terserah kamu aja ya Mar, kalau kita sudah selesai aku akan keluar dari kamar ini. Terima kasih atas lelucon ini. Udah bayar tapi malah ngegambar.”
Citra memang sosok PSK Hyper Sex, dengan kata lain haus akan melakukan cumbu. Buktinya saja, ketika baru masuk kamar. Dia langsung membuka bajunya dan tidak ingin lama-lama di kamar. Sebab ini hari kamis, banyak tamu biasanya yang datang menghampirinya.
Namun, tetap saja aku tidak ingin bercumbu dengannya. Sebab dia bukan pasangan halalku. Dan aku membayarnya bukan untuk bercumbu secara cepat, selepas itu pergi dan tidak ingat apa yang terjadi. Aku membayarnya, sama saja seperti model-model objek lukisku. Butuh tenaga untuk bergaya yang aku inginkan. Jadi, sangat tidak mungkin, jika aku tidak membayarnya.
Aku keluar dari kamar hotel, bertanya kepada petugas hotel berapa harga yang harus aku bayar untuk 2 jam. Petugas hotel itu memberi bukti pembayaran kamar hotel yang sudah lunas. Dan juga uangku yang tadinya kuberikan kepada Citra ─ dikembalikan setengahnya. Dengan sebuah catatan. “Terima kasih, ternyata kau orang baik, jaga baik-baik gambarku.” Sudah pukul 1 dini hari, aku lanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Sebelum berangkat, aku membakar sebatang rokok terakhirku untuk perjalanan pulang. Dan sebatang rokok yang aku nyalahkan ini, menjadi penghantar imaji akan Citra yang aku bayangkan di atap rumah.
Rabu, 24 Juni 2015
Hilang...
Sinar senja sore hari, sampai terang rembulan malam ini. Kau masih bersama-ku. Di sini, menemani akan bayang masa depan yang kau janjikan. Setiap pagi, kau berdiri tegak di depan pagar rumahku. Tak tahu, untuk apa kau berbuat hal seperti itu. Romantis memang, untuk setiap orang. Untuk setiap insan yang haus akan cinta dan rindu yang menggebu. Tidak bagiku, yang tlah hilang akan perasaan cinta dan rindu.
Jon, nama pria muda itu. Dengan kumis dan janggut yang menempel di wajahnya. Yang selalu hadir di setiap pagi itu, Jon. Ku-ulang nama itu, terus, terus, dan terus. Karena Jon, Jon, dan Jon. Pria yang selalu membawa surat berisikan nama-ku. Put. Tidak ada isi, tidak ada bentuk, tidak terstruktur juga. Berisikan nama-ku. “Put.” Dan tertulis juga namanya “Jon.”
Ajaib, karena tak ada pria seperti Jon. Terlalu menggandrungi, dan terlalu menggilai. Berbuat indah. Itulah hal yang kupahami setelah beberapa lama kupelajari akan maksud Jon berdiri tegak dan membawa surat berisikan nama-ku.
Pagi. Sebelum Jon berdiri tegak di depan pagar rumahku. Aku mendahuluinya, dengan cara menyelinap di semak dedaunan taman rumahku. Melihat jam di tangan kiri-ku, pukul 6 pagi hari─yang ku-ingat saat itu. Jon datang. Tapi tidak seperti hari-hari sebelumnya. Yang hanya membawa surat berisikan nama-ku. Kali ini ia membawa sebuah kotak, berbungkus rapih, tertata seperti hadiah di perayaan hari lahir lainnya. Berwarna hijau, bergariskan merah. Bergumam saat itu “dalam hal pemilihan warna saja dia tidak becus, bagaimana dalam hal lainnya.”
“Hei kau!” Keras ucapanku saat itu.
“Siapa? Aku?”
“Iya, mau apa datang setiap pagi dan membawa surat?”
“Aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh.”
“Tidak seperti ini caranya, berlebih. Kau pikir aku tersanjung? Dengan caramu menjadikan aku sebagai seorang yang kau puja bagai Dewa-Dewa di zaman dahulu kala. Tidak sama sekali.”
Percakapan berlangsung, hingga pagi itu yang semula aku hanya ingin menyapa dan bertanya “untuk apa?” berlanjut hingga malam. Ternyata Jon tidak seburuk dan berlebih seperti yang ku kira. Melantunkan ucapan-ucapan yang menggelikan, membuat aku tertawa di bawah rembulan berlatarkan taman asoka di pinggir kota.
Diakronis percakapan yang kubuat. Sehingga pada masa kita bertemu, berkenalan, hingga saat ini kau masih menganggapku hanya sebatas teman ku gabungkan dan ku tata di buku catatan kecilku. “aku ingin lebih dari ini, lebih dari sekadar pertemanan.” Tulisan yang kubuat di dinding kamarku.
Tidak banyak percakapan yang kita lakukan, tetapi ucapan-ucapanmu akan sebuah negeri yang indah, aman, dan nyaman itulah yang membuat ku selalu tertawa. Tertawa, karena kau selalu menceritakan negeri indahmu itu dengan sentilan-sentilan leluconmu. Kau bilang “kenapa burung garuda yang di jadikan simbol negeri ini? Kenapa tidak burung beo saja? Jadi, sama persis dengan insan di negeri ini. Selalu mengikuti ucapan-ucapan dari yang punyanya.”
****
Sinar senja saat itu, tak bisa menggantikan hangat pelukanmu. “ah, hiperbolis sekali kata-kata yang ku ucapkan tadi.” Gumamku.
“Put.” Jon yang datang menghampiriku di tengah keramaian taman asoka.
“Iya Jon? Ada apa? Apa lagi guyonan yang ingin kau ucapkan?”
“Tidak Put, tak mengapa.”
“Kau aneh sekali Jon. Sangat aneh!”
Lampu taman, bangku taman, hingga kaca-kaca besar yang membuat pergantian waktu dari sore hingga malam ini indah rupanya. Kau juga mengabadikan foto kita ber-dua. Meminta bantuan dari seorang tukang kopi yang tak tahu─untuk memfoto, harus menyentuh tombol yang mana? Aku tertawa saat itu, karena sudah beberapa kali Jon memberi tahu, tombol yang mana yang harus di tekan untuk memfoto. Tetapi tetap saja tukang kopi itu tidak mengerti.
“Wah Mas, kok mati-mati mulu ya handphone-nya?” dengan dialek Jawa.
Jon dengan sabar mengajarkan. Satu kali benar dia menyentuhnya, tetapi hasilnya sangat lucu. Blur di semua bagian, wajah Aku dan Jon tidak terlihat. Buram.
30 menit waktu untuk menghasilkan foto yang sempurna. 15 foto yang dihasilkan, hanya 5 foto yang sempurna. Jon hanya tertawa dan tersenyum sambil berkata. “Yasudah, tidak apa-apa. Kan masih ada waktu lain. Lagipula, kita kan sering bertemu.”
Pagi, dan Jon tidak datang, ku coba untuk menghubunginya. Tidak di angkat, mengirim pesan melalui sosial media. Tetapi tidak ada jawaban. Siang, sebenarnya ada sebuah acara. Dan Jon berjanji untuk datang dalam acara itu. Wisudaku. Jon tidak juga hadir, sampai acara selesai. Tidak juga ada kabar darinya, pesan-pesanku juga belum dibuka olehnya. “kemana dia? Apa dia sakit? Karena terlalu lelah mengerjakan tugas akhirnya?” gumamku di dalam mobil, menuju pulang ke rumah.
Malam, meminjam mobil Ayahku untuk datang ke rumah Jon yang jaraknya terlalu jauh untuk berjalan kaki. Di sepanjang jalan, hanya ada lagu-lagu sendu bercampur rindu yang terlantun dari sebuah radio. Kumatikan, dan fokus pada perjalanan menuju rumah Jon. 2 jam perjalanan. Gelap, seperti tidak berpenghuni rumah itu. Seperti rumah penyihir di buku-buku fiksi terbitan luar.
Ada papan, dan ada garis kuning yang diberi oleh para polisi. Papan bertuliskan “Rumah ini disita oleh bank, karena korupsi” jika memang rumah itu disita? Lalu kemana Jon pergi? Mengapa dia tak memberi kabar? “Atau mungkin dia sedang menenangkan diri, karena masalah ini.” Ucapku seorang diri.
Beberapa bulan, setelah kepergian misterius Jon, dia datang dengan cara misterius, dan pergi secara misterius. Apa harus ku hubungi seorang detektif seperti di buku-buku fiksi terbitan luar itu? Agar aku tahu kemana Jon pergi?
Malam, satu tahun kepergian Jon. Setelah pulang dari kerjaku, di pinggir jalan terlihat keramaian dari sebuah rumah makan. Rumah makan yang sangat ramai, strategis akan tempat, dekat sebuah stasiun dan dekat dari sebuah terminal. Ada hiburan di rumah makan itu. Seorang wanita, bernyanyi diiringi seorang pria yang memainkan gitar. Merdu, dan permainan gitarnya sangat harmonis. Apalagi saat mereka berdua berpelukan setelah memainkan sebuah lagu. Damai sekali suasana saat ini. Andai Jon berada di sini, pasti akan lebih romantis.
Setelah makanku selesai, sebelum ku pergi dari rumah makan. Aku ingin mengajak penghibur di rumah makan itu untuk bermain di tempat kerjaku. Teringat tempat kerjaku akan mengadakan sebuah acara. Dan aku ingin penghibur di rumah makan itu, ikut meramaikan acara.
“Selamat malam, apa kita bisa berbicara sebentar? Aku Put.”
“Oh iya, Ada apa ya? Aku Jim. Kenalkan ini Eca, istriku.” Kata lelaki itu.
“Put?” wanita itu memanggilku.
“Kau mengenalku? Dari mana kau tahu namaku?”
“Kau mengenalnya?” Kata lelaki itu.
Wanita itu menyentuh tanganku, hangat genggamannya. Tidak normal untuk seorang wanita yang menyentuh hangat wanita lainnya. “Aku Jon, Put. Kau ingat aku? Kemana saja kau? Aku mencarimu selama ini?”
“Jon? Kau gila! Kau ini wanita, sedangkan Jon pria, dasar wanita gila!”
Wanita itu mengajak-ku berbicara berdua, dia bercerita sepenuhnya. Ternyata benar dia Jon. Dia bercerita, saat itu, saat rumahnya disita oleh bank, dia malu, tidak berani untuk menunjukkan dirinya. Setiap kali ia pergi, ia dikucilkan oleh orang yang dikenalnya. Dia pergi ke luar negeri, untuk bekerja di sana. Uang yang terkumpul ia gunakan untuk operasi kelaminnya. Pikirnya, jika ia berganti jenis kelamin. Pasti ia tidak dikenali oleh semua orang.
Ah Jon, kau ini sangat misterius. Datang di saat pagi dan seolah menyembah-ku bagai Dewa. Menemaniku selama beberapa waktu. Hilang selama satu tahun. Dan kini kau sudah beda, berganti nama menjadi Eca, dan mengenalkanku dengan seorang pria.. Jon, andai kau tahu. Hanya kau yang ku ingin. Beberapa pria yang ku kenal, tak sehebat dirimu. Jon.
Aku Put, senang berjumpa denganmu Eca.
Nicko
2015
Jumpa
Malam, berjumpa denganmu
Sekian lama tak bertemu.
Rasamu, masih saja seperti dahulu yang selalu
Ku rindu di setiap penghantar tidurku.
Lama, tak berjumpa dan Tuhan masih
Memberiku waktu untuk menjumpaimu, sebelum ku tahu
Kau akan berpunyakan seseorang.
Ah. Hanya harum aroma tawamu, yang
Masih melekat hangat di telingaku.
Tuhan tahu apa yang kau mau, dan apa yang ku mau.
Bukan sekadar sajak yang ku tulis ini, melainkan
Hal lebih yang kau cari.
Andai, sebuah kisah dapat berbuah manis
Seperti sebuah kisah fiktif belaka. Indah nampaknya.
Jadi, apa yang kau tunggu? Sajakku yang mendayu-dayu
Bagai lagu melayu?
2015
Minggu, 17 Mei 2015
Negeri
N.P.S
Pagi itu, sebuah media masa memberitakan tentang sebuah peringatan penting. Tentang sebuah solidaritas antar dua benua. Sekitar 29 Negara yang mewakili setengah penduduk di dunia betujuan untuk mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan dua benua serta melawan kolonialisme atau neokolonialisme dan juga imperialisme atas negara-negara bagian Barat. Sejak pertama kali pada tahun 1955 di adakan di Negeri ini. Dan pada 2005 diadakan peringatan yang ke-2 kalinya. Kini pada tahun 2015 Negeri ini memperingati peringatan yang sudah terjalin selama 60 tahun. Tertulis pada kabar berita: Semua masyarakat dihimbau memulai aktivitas lebih pagi. Berangkat kerja, dan aktivitas lainnya. Dan pulang lebih malam, dikarenakan acara peringatan itu akan membuat macet kota ini. Banyak jalan-jalan yang ditutup dan dialihkan.
“Hey pak tua sedang apa berdiri menatap gedung itu?” Ucap salah satu petugas keamanan dengan senjata beratnya.
“Tidak pak. Aku hanya ingin tahu saja bagaimana pelaksaan peringatan tahun ini.” Dengan gemetar dan gagap Pak tua itu menjawab.
“Mau tahu apa? Kau ini sudah tua, untuk apa tahu tentang hal ini! Lebih baik kau pulang saja, berdoa kepada Tuhan. Kelak kau akan dipanggil, sudah siap dengan semua pertanyaan-pertanyaan.”
“Megah sekali perayaannya. Sampai-sampai semua seniman di Negeri ini diikut sertakan dalam memeriahkan acara peringatan ini. Andai saja aku masih semuda dulu, pasti Aku akan ikut serta dalam perayaan ini.” Bergumam dalam hati Pak tua itu.
Sesekali menengok ke gedung tersebut, dan sesekali juga Pak tua itu ditegur oleh petugas keamanan. Sambil menyalakan sebatang rokok Pak tua itu tetap saja berdiri tegak melihat gedung itu. Disampingnya ada dua Mahasiswi cantik─putih, tak memakai dalaman nampaknya. Berpoto-poto ria, mewancarai petugas keamanan di sekitaran gedung. Bertanya-tanya pada petugas keamanan. Dan mereka menjawab semua pertanyaan dengan senang hati. Tak ada teguran seperti yang diberikan kepada Pak tua itu.
“Ada apa Pak tua?! Masih saja Kau berdiam diri seperti patung di sana. Pulang sana, cucumu mungkin sudah menunggu.
Dua mahasiswi itu merasa miris dengan perlakuan petugas keamanan terhadap Pak tua. Lusuh penampilannya, tak menarik pula. Sandal jepit butut alas kakinya, memakai topi kodok seperti seorang seniman, memakai celana bahan hitam agak lebar di bagian bawah. Dan memakai batik, indah. Cokelat bergaris hitam.
Langit mulai berdarah. Menurunkan hujan. Bau amis di depan rumah Pak tua itu juga tercium sampai beberapa rumah lainnya. Ah tidak, ternyata itu hanya bau terasi yang dimasak istrinya.
“Kau melamun Pak?”
“Tidak.”
“Kalau kau punya masalah, ceritakanlah padaku. Jangan seperti ini! Diam merenung tidak jelas,”
“Sudah Aku bilang, Aku tidak apa-apa!”
“Boleh aku ikut memikirkan apa yang sedang kau pikirkan?”
“Tidak, aku tidak apa-apa. Aku sudah sangat senang dengan hidupku sekarang ini. Anak-anakku sudah mempunyai pendamping hidupnya, serta mempunyai pekerjaan dan tempat tinggal yang nyaman. Cucu-cucuku juga sangat sayang kepadaku. Untuk apa aku memikirkan sesuatu lagi. Sudahlah! Kau ini banyak bertanya! Tidak usah memperdulikanku!”
“Tidak usah membentakku. Aku ini istrimu, kenapa kau mengucapkan kata-kata dengan nada yang tinggi?”
“Sudah! Tugasmu hanya didapur. Cepat buatkan aku segelas kopi dan pisang goreng.”
“Yasudah. Maafkan.”
Bus yang ditunggunya tiba, membeli tiket kepada tukang catut. Berdesakkan, karena hari peringatan itu semua orang menjadi kacau. Menjadi binatang. “Hei Pak tua, kenapa kau mendorongku? Mau mencopet kau?!”
“Tidak, aku tidak mendorongmu.” Dengan gemetar ia berucap.
“Alah! Banyak bicara kau!”
Ditinju Pak tua itu dengan tangan besarnya, semua orang menjadi kacau. Berlarian tidak jelas, ada juga yang memaanfaatkan dengan mencopet dan menodong. Ada juga yang ikut serta menghakimi Pak tua itu. Doa, dan mengucap nama Tuhannya-lah yang bisa di ucapkan Pak tua saat itu. Seorang tentara datang untuk melihat ada kejadian apa di terminal yang di awasinya. Para tentara itu datang dengan senjata berat di pundak kirinya. Beriringan, kakinya-pun seperti sudah terlatih.
“Ada apa ini? Kalian tidak tahu, para utusan dari Negara lain sebentar lagi akan datang!”
Semua orang seperti menghiraukan ucapan para tentara itu. Terus saja menghantamkan bogem mentah kepada Pak tua. Meski Pak tua sudah meringis kesakitan dan meminta ampun dan bersumpah tidak ada niat untuk mencopet─tetap saja mereka tidak mempedulikannya.
Sebuah tembakan peringatan di tembakan seorang tentara ke udara.”
“Berhenti!”
Semua orang langsung merunduk, melepaskan Pak tua itu. Dibawa Pak tua itu ke pos keamanan untuk menanyakan sebenarnya apa niat Pak tua itu. Dengan tangan yang sudah berdarah tetap saja para tentara itu memborgolnya. Seakan-akan Pak tua itu memang sudah dinyatakan bersalah.
“Sebenarnya apa niatmu Pak tua!”
“Aku hanya ingin pulang.”
“Bohong! Jawab yang sesungguhnya! Kalau tidak akan aku penjarakan kau.”
Pak tua itu berdiam diri. Menatap lurus ke hadapan gedung yang akan dijadikan tempat peringatan 60 tahun itu berlangsung. Dan seketika Pak tua itu berucap dengan tertawa lirih di hadapan para tentara yang menanyakannya.
“Aku hanya bingung. Aku. Aku yang hidup lebih dahulu dibandingkan kalian yang hanya tinggal menikmati indahnya Negeri ini. Kalian yang tidak tahu arti dari hari peringatan yang kalian jaga saat ini. Kalian seperti wayang yang hanya dimainkan oleh dalang. Nurut saja, apa yang dikatakan para petinggi kalian. Kalian yang mengawasi bangsa kalian sendiri dengan senjata berat kalian dan mobil-mobil tempur dengan lapisan baja. Mempunyai rasa takut. Rasa takut akan bangsa sendiri yang mengancam keselamatan para utusan yang datang ke Negeri ini. Sedangkan kalian rela mati-matian. Mengorbankan nyawa kalian demi bangsa lain, yang hanya menetap tiga hari di Negeri ini. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran kalian. Hanya imbalan dan pangkat sajakah?”
“Kau ini bicara apa? Penjarakan dia! Sudah gila! Pasti dia teroris! Dia mengancam! Penjarakan dia!”
Wangi Mahasiswi cantik yang melintas di depan Pak tua itu menyadarkannya dari lamunan. Dan beberapa jam lagi acara peringatan itu dimulai. Pak tua itu melangkah pulang dan membaca surat kabar jika seorang lelaki tua dihakimi masa karena dituduh mencopet dan dipenjarakan karena dituduh mengancam bangsanya.
“Berhenti!”
Semua orang langsung merunduk, melepaskan Pak tua itu. Dibawa Pak tua itu ke pos keamanan untuk menanyakan sebenarnya apa niat Pak tua itu. Dengan tangan yang sudah berdarah tetap saja para tentara itu memborgolnya. Seakan-akan Pak tua itu memang sudah dinyatakan bersalah.
“Sebenarnya apa niatmu Pak tua!”
“Aku hanya ingin pulang.”
“Bohong! Jawab yang sesungguhnya! Kalau tidak akan aku penjarakan kau.”
Pak tua itu berdiam diri. Menatap lurus ke hadapan gedung yang akan dijadikan tempat peringatan 60 tahun itu berlangsung. Dan seketika Pak tua itu berucap dengan tertawa lirih di hadapan para tentara yang menanyakannya.
“Aku hanya bingung. Aku. Aku yang hidup lebih dahulu dibandingkan kalian yang hanya tinggal menikmati indahnya Negeri ini. Kalian yang tidak tahu arti dari hari peringatan yang kalian jaga saat ini. Kalian seperti wayang yang hanya dimainkan oleh dalang. Nurut saja, apa yang dikatakan para petinggi kalian. Kalian yang mengawasi bangsa kalian sendiri dengan senjata berat kalian dan mobil-mobil tempur dengan lapisan baja. Mempunyai rasa takut. Rasa takut akan bangsa sendiri yang mengancam keselamatan para utusan yang datang ke Negeri ini. Sedangkan kalian rela mati-matian. Mengorbankan nyawa kalian demi bangsa lain, yang hanya menetap tiga hari di Negeri ini. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran kalian. Hanya imbalan dan pangkat sajakah?”
“Kau ini bicara apa? Penjarakan dia! Sudah gila! Pasti dia teroris! Dia mengancam! Penjarakan dia!”
Wangi Mahasiswi cantik yang melintas di depan Pak tua itu menyadarkannya dari lamunan. Dan beberapa jam lagi acara peringatan itu dimulai. Pak tua itu melangkah pulang dan membaca surat kabar jika seorang lelaki tua dihakimi masa karena dituduh mencopet dan dipenjarakan karena dituduh mengancam bangsanya.
Langganan:
Postingan (Atom)