Rabu, 13 Januari 2016

Dilarang Bicara Saat Malam Hari



                                                                                                                                                      Nicko



“Semuanya pergi, jangan ada yang beraktivitas di malam hari. Jika sampai jam sepuluh malam nanti kalian tidak pergi, terpaksa kita akan bawa ke kantor polisi” Itulah, kalimat yang kudengar dari beberapa petugas keamanan di lingkungan ini. Dan kalimat itu, perintah langsung dari ketua Rukun Tetangga(RT).

****

Bau air selokan, kepulan asap rokok, botol berserakan, sampah-sampah sisa para pemuda yang memang sering berada di pertigaan, dan juga para pedagang. Hingga ada sebuah tulisan di tembok, dekat pertigaan. Lokasi yang strategis untuk berjualan. Bertuliskan “Dilarang Bicara Saat Malam Hari.” Tetapi, para pedagang, tentu saja lebih suka berjualan saat malam hari. Karena aktivitas para pemuda di lingkungan ini, terjadi saat malam tiba.



****

Aku adalah seorang Mahasiswa. Jarang sekali untuk pulang ke rumah. Tugas yang menumpuk, aktivitas di lingkungan kampus malam hari, dan perkuliahan pagi hari. Jarak dari rumah, menuju kampus juga cukup jauh. Seandainya jalan menuju kampus tidak tersendat, cukup satu jam sudah sampai. Tetapi jika tersendat, dua jam waktu menuju kampus.

Banyak yang bilang, aku pintar di jalan. Karena lebih lama di jalan, dibandingkan dengan di tempat perkuliahan. Dan hal itu juga yang membuat badan tidak kuat, untuk pergi-pulang. Menginap di rumah teman, atau menginap di gedung kegiatan Mahasiswa yang selama ini aku lakukan. Malam ini, jumat dan sudah jam dua belas malam.

Aku pulang, karena besok hari sabtu, tidak ada kegiatan perkuliahan pada hari libur. Jam satu dini hari. Dari kejauhan, sebuah tulisan besar di satu tembok baru saja kulihat. “Kapan tulisan ini dibuat? Maksud dari tulisan ini apa?” Bertanya dengan teman sebaya di lingkunganku. “2 hari yang lalu lah, lo sih pergi mulu, jadi gak tahu kejadian apa aja di sini.”

Setelah selesai merapihkan motor, aku ingin tahu. Apa yang sebenarnya terjadi, dengan lingkungan ini. “Kopi hitam satu Om, rokoknya setengah bungkus ya. Hutang dulu aja, nanti senin saya bayar.”

“Lo harus tahu, banyak pedagang yang diusir sama Pak RT karena udah buat ramai di lingkungan ini.” kata Ucup, teman dekatku.

“Lho, gimana sih? Harusnya kan bagus, ada pedangang di pertigaan ini. Jadi, lingkungan kita tidak pernah sepi. Maling juga tidak berani untuk mencuri motor di sini.”

“Ya elo ngomong enak. Ini yang punya rumah samping warung si Om. Katanya keberisikan setiap malem, kalo denger suara kita lagi nongkrong. Nah kata Pak RT, banyak yang transaksi narkoba di sini. Jadi buat jaga-jaga, Pak RT ngusir kita lewat Pak Hansip.”

Pertigaan yang menghubungkan jalan menuju perkampungan dan perumahan besar ini, memang tempat yang strategis. Banyak para pemuda, dan juga warga perumahan yang pulang malam hari itu pun, sering sekali membeli makanan di pertigaan ini.

Lampu yang terang, membuat rasa nyaman bagi para pedangang. Aku-pun sering pulang ke rumah melewati jalan perumahan. Setidaknya, jika kuajak salah satu temanku ke rumah, aku lebih sedikit percaya diri. Karena melewati jalan perumahan.

Terdapat sebuah rumah, tepat berada di tengah-tengah pertigaan jalan lingkungan ini. Dulunya, rumah ini sangat kecil. Bahkan sudah tidak layak huni. Tetapi, saat anak wanita dari pemilik rumah tersebut pulang dari kerjanya di luar negeri. Rumah ini langsung dibangun, seperti istana. Dan saat rumah ini dibangun, pagar pembatas lintas jalan perumahan menuju perkampungan juga dibuat.

Yang kudengar, pemilik rumah besar ini tidak mau ada warga perumahan yang singgah ke perkampungan. Karena, warga perumahan itu bisa membahayakan. Karena gaya hidup mereka yang terlalu modern, bisa jadi mereka yang sering melakukan transaksi narkoba di perkampungan. Dan pagar pembatas itu, pemilik rumah besar yang membiayai.

Meminum kopi, dan menghisap rokok. Ucup gelisah, Ia takut Pak RT datang dan mengusir kita. Tetapi, aku ingin tahu apa alasan Pak RT mengusir kita. Jika, karena terlalu bisingnya suara dari obrolan kita. Tentu sangat tidak wajar. Dan jika karena dituduh bertransaksi narkoba. Tentu aku tidak akan takut. Jelas tidak ada barang bukti. Dan tidak mengkonsumsi narkoba.

****

Aku ingat betul, saat itu. Saat para pedagang berkumpul di saat dini hari seperti ini. Ditambah saat kejuaraan sepakbola dunia dimulai, para pedagang laris diserbu penonton yang kelaparan. Soto, bakso, gorengan, dan nasi goreng. Bercampur menjadi satu. Bahkan, si Ucup pernah menjadi pengantar makanan untuk pedagang nasi goreng. Saat itu, sebelum rumah besar itu terbangun kokoh seperti sekarang ini.

Saat di mana para pemuda meretas kata sandi wi-fi para warga perumahan. Setiap malam, pasti semua berkumpul. Untuk membuka media sosial, mendownload film porno, menonton film-film terbaru, mendownload permainan baru. Bahkan, ada yang mengerjakan tugas di pertigaan jalan ini.

Jika malam aktivitas para pemuda terhenti, sering terjadi aksi-aksi para pencuri yang mondar-mandir. Dua hari yang lalu, motor milik Pak Husep hilang di depan rumahnya. Ibu-ibu berteriak histeris, ada juga yang berteriak “Bakar maling motor” pak haji juga ikut larut dalam kerumunan di depan rumah Pak Husep. Motornya sudah hilang, tetapi para warga masih terus berdatangan.



****

Pak RT datang, beserta para keamanan. Menghampiriku dan tidak mengusir. Melainkan hanya menyapa dengan sopan, lalu bertanya tentang kabar. Setelah itu, mereka berjalan ke rumah seseorang yang seperti istana itu. Dibuka pintu gerbang rumahnya, pembantunya yang keluar dan menghampiri. Terdengar dari suara si pembantu itu. Memberi tahu, jika si Ibu atau yang biasa kita sebut Apak ada di dalam. Dan menunggu kedatangan Pak Rt.

“Tuh kan Cup, kalau kita tidak salah untuk apa takut? Tapi Pak RT ada urusan apa ya, kenapa bertamu sudah dini hari seperti ini. Kenapa tidak bertamu pada siang atau sore aja”

“Emang udah sering, Pak RT keluar-masuk rumah si Apak kalau udah jam segini.”

Keingin tahuanku dengan maksud kedatangan Pak RT, semakin besar. Untuk apa Pak RT datang setiap jam dua dini hari. Dan para petugas keamanan, berjaga di sekitar area rumah. Tidak masuk, dan itu juga menimbulkan rasa keingin tahuanku.

Saat para petugas keamanan pergi untuk membeli rokok. Aku meminjam gitar, langsung kumainkan dengan alunan cepat. Awalnya hanya suara gitar, Ucup semakin panik. Lalu, kutambah dengan sebuah nyanyian. Ucup takut dan lari ke rumah. Pak RT melihat dari jendela, dan si Apak ke luar dan menegurku. “Bisa baca kan lo?”

Pak RT yang melihat-ku dari balkon lantai dua rumah Apak, hanya bisa tertawa. Dan para petugas keamanan datang. Membawaku ke kantor RW(Rukun Warga). Sesampainya di kantor RW, aku langsung bertanya “Mengapa tidak boleh? Kenapa harus ada tulisan itu? Berapa si Apak bayar kalian? Kok mau-maunya setia sama si Apak?”

“Ini lingkungan, terkenal dengan rawan narkoba. Kita di sini, hanya untuk mencegah peredaran narkoba di lingkungan ini.” Ucap Pak RW

Apak adalah seorang penjahit, yang dulunya sering kali menjahit celana sekolahku. Menjadi kecil di bagian mata kaki dan dipotong sampai atas mata kaki. Apak juga memberi tarif murah. Tidak lebih dari lima ribu. Apak juga menjual susu kedelai di sekitaran pasar. Setelah anak pertamanya kembali ke Indonesia, rasa malu Apak tumbuh dan tidak berjualan susu kedelai, juga tidak menjahit lagi.

Ucapan Pak RW membuat semua temanku, termasuk Ucup tertawa. “Lingkungan ini, memang sudah sejak lama. Bahkan sebelum saya lahir-pun, lingkungan ini sudah dijuluki Las Vegas Jakarta karena pesta narkoba, dan judi sering diadakan di lingkungan ini. Seandainya harus ditangkap dan dibubarkan. Semestinya dari beberapa tahun yang lalu saja.”

Aku pulang, setelah diizinkan oleh Pak RW. Dengan syarat, jangan berbicara di sekitaran rumah Apak pada malam sampai pagi hari. Di rumah, seperti anak lainnya. Bermain gawai dan membuka media sosial. Banyak sekali, berita-berita tentang teror bom bunuh diri. Yang terjadi beberapa hari yang lalu di stadion sepakbola eropa.

Terdengar suara langkah kaki yang berlari, dan letupan peluru hampa. Ucup melakukan adegan kejar-kejaran dengan polisi. Karena Ucup dituduh membuat kerusuhan di sekitar lingkungan. “Jangan lari! Gue tembak mati lo.” Ucup melompat ke atap warga, jatuh ke rumah Apak. Apak berteriak. Ucup ditangkap, atas tuduhan membuat kerusuhan, merusak rumah warga, berniat untuk mencuri, dan mengkonsumsi narkoba. Karena terdapat beberapa linting ganja, dan juga pil penenang di samping kaki Ucup.

Apak berada di persidangan, sebagai saksi. Kejanggalan kutemukan, saat Apak berjabat tangan dengan para hakim dan jaksa. Juga dengan para polisi yang menangkap Ucup. Mereka terlihat seperti sudah saling mengenal. Keakraban mereka juga terlihat, saat Apak memberikan sebuah kertas.

Apak memang mempunyai masalah pribadi dengan Ucup, ketika Ucup dengan sengaja membawa mobil Apak untuk berjalan-jalan dengan pacar barunya. Dan itu juga, penyebab Ucup diberhentikan oleh Apak sebagai supir.

Polisi yang menangkap Apak tertawa, tidak ada beban. “Tenang aja, semua aman terkendali.” Kata polisi yang menangkap Ucup.

Tuduhan-tuduhan atas kesalahan Ucup dibacakan oleh hakim, saat pengadilan Ucup berlangsung. Kerusuhan terjadi di luar persidangan, saat Ucup dibawa ke mobil tahanan. Sekelompok orang, membawa senjata tajam, batu, dan kayu. Melempari polisi, meludahi, dan menghina. Mereka tidak terima, karena Ucup ditahan atas bukti yang tidak pasti. Kerusuhan semakin besar.

Pihak kepolisian menembakan gas air mata ke arah pihak Ucup. Pihak Ucup menyerang balik, karena di bawah kelopak mata mereka sudah diolesi dengan pasta gigi. Mereka memukul mundur para polisi. Para polisi mundur, karena kewalahan. Setelah bantuan datang, para polisi menyerang kembali pihak Ucup. Tidak butuh waktu lama, untuk menyerang. Pihak Ucup berlari, setelah menembakan watercanon. Dua jam kejadian itu berlangsung. Ucup tetap menjadi tahanan.

Apak memang warga yang dilindungi oleh keamanan lingkungan. Apak sering dikawal. Baik pergi untuk berbelanja, maupun hanya untuk pergi ke luar untuk cari makanan. Anak wanita Apak jarang sekali pulang ke rumah. Karena sudah berumah tangga, hanya Apak yang ada di rumah besar itu.

Anak wanita Apak sering memperingatkan. Jika Apak harus mencabut tuduhan Ucup. Karena Uucp tidak bersalah. Kejar-kejaran yang dilakukan Ucup dengan polisi hanya pengalihan, agar Ucup tidak membuka semua informasi tentang Apak.

Memang Ucup adalah pemuda yang dekat dengan Apak. Ia bekerja di rumah Apak selama lima bulan. Sebagai supir, Ucup pasti tahu, kegiatan apa yang dilakukan Apak, ketika malam hari. Pak RT-pun sering memberi Ucup uang. Sebagai imbalan, karena tidak berbicara terlalu banyak ketika malam hari.

“Ucup harus bebas, Ia tidak bersalah. Tanpa bukti yang jelas. Tes-urine pun, hasilnya negatif. Ucup tidak menggunakan narkoba.”

“Bebaskan Ucup.”

“Ucup yang tabah di dalam sana.”

“Jangan tangkap Ucup. Kasihan, orangtuanya sudah tidak bekerja. Dia yang selama ini membantu perekonomian keluarganya.”

Kali ini, uang berperan penting dalam aksi penyelamatan Ucup. Uang-pun membuat Ucup kini berada di balik jeruji besi. Keputusan sidang terakhir, Ucup ditahan selama tiga tahun lima bulan. Sudah termasuk remisi. Tulisan “Dilarang Bicara Saat Malam Hari” masih bertahan selama tiga bulan ini. Dengan penjagaan ketat, tidak ada yang berani untuk menghapus tulisan itu.

Pak RT masuk lagi ke rumah Apak. Kali ini, beserta Pak RW dan juga wakilnya. Dua jam mereka berada di rumah Apak. Saat adzan subuh terdengar.Mereka keluar, terlihat Apak yang berjabat tangan kepada Pak RT dan RW.

“Terima kasih Pak, semoga tidak ada berani berbicara lagi saat malam hari.”

“Tenang saja, mereka juga sudah mengurus segalanya di dalam sana.” Mereka pulang, dengan bingkisan dan juga ucapan terima kasih Apak yang mengiringi mereka kembali ke Pos RW.

Pada hari ke-98 setelah Ucup ditahan. Sebuah berita tersiar baik di media cetak maupun elektronik. Ditemukan sosok mayat terkapar di balik jeruji besi, tanpa busana. Dengan mulut tertutup rapat karena jahitan, dan tangan terikat dengan seutas tali yang terikat kencang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar