Rabu, 13 Januari 2016

Kepunyaan Ryan

                                                                                                                                             Nicko P





2 botol bir keluaran Inggris

2 chessecake

1 bungkus rokok, bukan kretek

1 pengaman

1 botol minyak urut

1 kamar dengan pendingin ruangan yang super dan tersedia air hangat



Pesanan itulah yang Ryan pesan setelah menonton pertandingan sepakbola. 15 jam perjalanan Ia tempuh dengan mobil sewaan. 8 orang penumpang berisi laki-laki berperut buncit, 2 mempunyai rambut, namun seperti seorang yang sehabis menjalani kemohterapi, 3 berambut rapih dan menggunakan minyak pelicin rambut, seperti adam levine vokalis dari band asal Amerika maroon 5, 2 orang berambut seperti noel vokalis band oasis, dan Ryan berambut ikal dengan bewok dan kumis yang lebat. Menggairahkan, begitu para wanita yang sering memberi testimoni tentang Ryan. Di dalam cerita ini, mereka hanya tokoh sampingan. Jadi sampai sini saja.

Pertandingan dimulai, bernyanyi untuk tim kebanggaan Ibukota. Meminum bir, menghisap rokok, sesekali mencium wanita yang berada di sampingnya. Ryan memang sangat populer di kalangan pendukung sepakbola tim Ibukota. Berkat penampilannya yang mengikuti gaya pendukung Inggris, dan wajahnhya yang sering muncul sebagai model, di pakaian-pakaian ternama. Awalnya Ryan tidak memiliki bewok dan kumis yang lebat. Wajahnya polos, seperti pantat bayi umur 3 minggu. Setelah mendengar ada minyak yang membuat wajah menjadi tumbuh banyak bulu. Ryan membeli minyak keluaran Malaysia itu. Harganya yang mencapai ratusan ribu tidak menjadi masalah untuknya. Ryan merasakan hasil dari minyak itu, 3 bulan pemakaian. Kumis dan bewok tumbuh di wajah. Bukan bermaksud untuk memberi promosi lebih terhadap minyak itu. Sekali lagi, cukup sampai sini saja.

Ryan menghampiri seorang wanita dengan tubuh yang aduhai. Ia menyapa dengan wajah cengengesan. Janggutnya yang seperti kambing, seperti menghipnotis wanita bertubuh aduhai itu. Wanita aduhai menggunakan baju berwarna hitam, tingginya seperti pramugari. Semampai kita sebut. Rambutnya berwarna, seperti sering kali terkena sinar matahari, kekuningan nampak terang di bagian bawah. Diajaknya berkenalan. “Aku Ryan, cantik sekali kamu. Setelah pertandingan, pulang dengan siapa? Kamu aseli dari kota ini bukan? Mau temani aku keliling kota? Aku bukan aseli dari kota ini, jika mau─aku membawa mobil” Pertandingan belum usai, Ryan sesekali menggandeng wanita yang baru 10 menit berkenalan. Mempunyai pacar atau belum, tidak menjadi masalah. “Yasudah, tapi jangan terlalu malam ya” Ucap wanita aduhai itu. Siapa yang tidak kenal dengan Ryan. Bahkan, pengikut akun media sosial miliknya sudah mencapai ratusan ribu. Siapa yang tidak iri dengannya. Setiap malam, menghabiskan uang dengan datang ke klab hiburan. Jutaan setiap malam Ia keluarkan. Lalu besoknya, uang datang dengan hasil menjual sepatu sneakers ternama buatan Jerman. Begitu setiap malam. Semisal waktu itu, Ia diantar pulang oleh temannya. Tetapi, baru 1 jam berada di rumah, Ia langsung memesan jasa ojek online untuk mengantar ke klab hiburan malam.

Ia tidak bisa mengendarai sepeda motor dan mobil. Jika ditanya kenapa tidak bisa, dan disindir harus belajar. Ryan mengelak dengan alasan “Ya sekiranya gue ngasih rezeki, buat tukang ojek”

“Alasan lo! Adek gue yang SMP aja udah bisa bawa motor, masa iya lo kalah!” Ucap temannya bernama Vino .

“Beli vespa dong, nanti kita vespaan bareng.” Kata Rahmat, teman Ryan sewaktu di SMA.

“Vespa mah ada di rumah, tinggal bawa aja. Nah ini masalahnye, gue kagak bisa bawa.”

Pernyataan Ryan selalu membuat tertawa. Terutama Vino, yang sering meledeknya dengan cara yang membuat Ryan menjadi marah. Tetapi tidak benar-benar marah, melainkan hanya membalas ledekan Vino dengan ucapan “Aiiiisss, anjing!”

“Muka lo ganteng, tante-tante banyak yang suka. Tapi lo gak bisa bawa motor, mending lo balik lagi aja ke PAUD. Ha ha ha”

Ryan selalu cengengesan jika diledek tidak bisa mengendarai motor. Apalagi saat Ryan, Vino, Rahmat, Arif pergi ke klab hiburan malam bersama. Ryan tidak tahan untuk buang air kecil sedari di dalam mobil. Langsung mencari toilet di klab. Vino ikut, untuk sekadar cuci muka. Tidak sengaja, dari pantulan cermin. Vino melihat kepunyaan Ryan yang begitu kecil. Sehingga membuat Vino tertawa sembari menunjuk ke arah kepunyaan Ryan. Malam itu, Vino mengancam Ryan untuk membelikan minuman sepuasnya. Jika tidak dibelikan, Vino mengancam untuk membongkar aibnya ke semua orang melalui media sosial. “Sial lo anjing!” Ryan kesal, namun tidak bisa berbuat banyak. Karena kenyataannya memang kepunyaan Ryan begitu kecil. “Punya lo kecil, diusap-usap dulu kali ya biar bisa bangun. Ha ha ha” Vino terus meledek Ryan. Janji Vino untuk tidak membongkar aib Ryan tidak dihiraukannya. Sesampainya di meja, Vino langsung memberi kabar menggelikan itu kepada Arif, dan Rahmat. Mereka semua tertawa. Ryan yang baru saja selesai dari kakus, dan duduk di kursi yang empuk─tertunduk malu, ketika mereka tertawa sambil menunjuk kepunyaan Ryan.

“Udah tenang aja, gak usah malu gitu. Ha ha ha” Kata Arif.

“Ikut gue Yan.” Rahmat menarik Ryan ke dalam toilet.

“Mau apa?” kata Ryan.

“Gue mau lihat, kepunyaan lo sekecil apa sih?”

“Lo Homo? Ngapain lo liat punya gue?”

“Bangsat! Gue normal, gue hanya mau tahu aja sekecil apa? Gue tahu ramuan yang cocok buat lo.”

Ryan membuka celananya di hadapan Rahmat. Untuk ukuran laki-laki normal, itu sangat menjijikan. Ketika dua orang laki-laki, saling berhadapan dan melihat kepunyaan laki-laki satunya.

“Anjing! Kecil banget! Udah, lo ikutin saran gue. Waktu itu juga, punya gue kecil. Nah pas gue dikasih tahu sama pecun (pelacur) yang waktu itu gue sewa. Katanya, kasih teh basi aja setiap pagi. Nah, gue coba. Dan ini lo lihat hasilnya sekarang! Besar kan!” Rahmat juga ikut membuka celana di hadapan Ryan. Dan ketika mereka saling membuka celana. Seorang laki-laki berbadan kekar seperti popye the sailorman, masuk ke toilet. Melirik kepunyaan Rahmat, dan mengajak pergi ke apartemen miliknya.

Ryan tertawa, karena laki-laki berbadan kekar itu memberi kartu namanya kepada Rahmat. Harapan laki-laki itu, agar Rahmat bersedia main ke apartemennya. Rahmat menganggukan kepala, dan mata laki-laki berbadan kekar itu berkedip 3 kali ke arah Rahmat.

Setelah konsultasi di toilet selesai. Mereka ber-4 menari-nari di lantai dansa. Ryan yang tingkahnya memang seperti don juan mendekati wanita-wanita betubuh aduhai dengan baju yang melihatkan ketiaknya.

“Ke sini sama siapa?” Teriak Ryan, karenas suara musik dari discjokie begitu kencang.

“Sendiri, kenapa?” kata wanita bertubuh aduhai.

“Ikut kita yuk, jalan-jalan nyari angin”

“Boleh, naik mobil apa ke sini?”

“Ikut aja, nanti juga tahu.”

Ryan mengajak Arif, Rahmat, dan Vino untuk keluar dari klab hiburan. Wanita bertubuh aduhai itu juga ikut membawa ke-3 temannya. Salah satunya memakai baju bermotif kulit macan. “Aiiiihh ngeri sekali. Jadi mau dicakar nih, sama kakak yang itu.” Ucap Vino sambil menunjuk wanita yang Ia mau.

Mereka keliling Ibukota. Pukul 3 dini hari, mereka akhirnya menginap di apartemen milik Vino. Sebenarnya, itu milik temannya yang seorang model. Tetapi, temannya sedang ada pekerjaan di luar kota. Jadi, untuk sementara Vino yang memegang kunci kamarnya.

Sampai di apartemen. Rahmat, dan Arif mengajak 2 wanita ke dalam kamar. Membuka pakaian, dan melakukan. Vino-pun demikian. Tidak di dalam kamar, melainkan di bangku dengan televisi di depannya. Sedangkan Ryan, lebih memilih untuk melakukan di dalam kamar mandi. Ryan mempunyai obsesi untuk melakukan menggunakan sabun mandi agar menjadi licin.

Setelah pagi. Ke-4 wanita itu membilas tubuh di kamar mandi. Ke-4 wanita itu mandi bersama-sama. Rahmat yang sudah terbangun, seperti jurnalis yang haus akan berita. Diambilnya smartphone Ryan dengan kualitas kamera super HQ(Hightquality). Ke-4 wanita itu, mandi dengan busa yang berada di seluruh tubuh. Bermain-main dengan busa, menggosok-gosok badan satu sama lain. Rahmat tetap asik memfoto dan merekam kegiatan aduhai itu. Mereka pulang dengan memanggil sebuah taksi. Ryan dan ke-2 temannya masih tertidur. Sementara Rahmat sudah menghabiskan beberapa batang rokok, dan satu gelas kopi hitam pekat. Siang, mereka terbangun karena lapar.

Ryan masuk ke dalam sebuah kamar hotel bernomor 12a. Menghisap beberapa batang rokok, obrolan yang bertujuan menambah kehangatan dibuatnya.Wanita bertubuh aduhai di bangku penonton yang diajak kenalan itu, membuka pakaiannya di hadapan Ryan. Ryan disuguhi dengan tarian pinggul. Ryan masih menahan diri, sesekali memegang payudara wanita itu. 10 menit tarian pinggul seperti wanita gurun pasir, Ryan m embuka seluruh pakaian. Mereka melakukan. Sesekali wanita aduhai itu menjerit seperti kucing betina yang sedang melakukan dengan kucing jantan, semakin menggairahkan Ryan. Sebuah bir dan chessecake yang dipesan, menjadi hidangan istimewa setelah mereka melakukan. Wanita itu berkata “Aku puas!” Ryan senang karena ramuan hasil konsultasi dari Rahmat berhasil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar