Rabu, 24 Juni 2015
Hilang...
Sinar senja sore hari, sampai terang rembulan malam ini. Kau masih bersama-ku. Di sini, menemani akan bayang masa depan yang kau janjikan. Setiap pagi, kau berdiri tegak di depan pagar rumahku. Tak tahu, untuk apa kau berbuat hal seperti itu. Romantis memang, untuk setiap orang. Untuk setiap insan yang haus akan cinta dan rindu yang menggebu. Tidak bagiku, yang tlah hilang akan perasaan cinta dan rindu.
Jon, nama pria muda itu. Dengan kumis dan janggut yang menempel di wajahnya. Yang selalu hadir di setiap pagi itu, Jon. Ku-ulang nama itu, terus, terus, dan terus. Karena Jon, Jon, dan Jon. Pria yang selalu membawa surat berisikan nama-ku. Put. Tidak ada isi, tidak ada bentuk, tidak terstruktur juga. Berisikan nama-ku. “Put.” Dan tertulis juga namanya “Jon.”
Ajaib, karena tak ada pria seperti Jon. Terlalu menggandrungi, dan terlalu menggilai. Berbuat indah. Itulah hal yang kupahami setelah beberapa lama kupelajari akan maksud Jon berdiri tegak dan membawa surat berisikan nama-ku.
Pagi. Sebelum Jon berdiri tegak di depan pagar rumahku. Aku mendahuluinya, dengan cara menyelinap di semak dedaunan taman rumahku. Melihat jam di tangan kiri-ku, pukul 6 pagi hari─yang ku-ingat saat itu. Jon datang. Tapi tidak seperti hari-hari sebelumnya. Yang hanya membawa surat berisikan nama-ku. Kali ini ia membawa sebuah kotak, berbungkus rapih, tertata seperti hadiah di perayaan hari lahir lainnya. Berwarna hijau, bergariskan merah. Bergumam saat itu “dalam hal pemilihan warna saja dia tidak becus, bagaimana dalam hal lainnya.”
“Hei kau!” Keras ucapanku saat itu.
“Siapa? Aku?”
“Iya, mau apa datang setiap pagi dan membawa surat?”
“Aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh.”
“Tidak seperti ini caranya, berlebih. Kau pikir aku tersanjung? Dengan caramu menjadikan aku sebagai seorang yang kau puja bagai Dewa-Dewa di zaman dahulu kala. Tidak sama sekali.”
Percakapan berlangsung, hingga pagi itu yang semula aku hanya ingin menyapa dan bertanya “untuk apa?” berlanjut hingga malam. Ternyata Jon tidak seburuk dan berlebih seperti yang ku kira. Melantunkan ucapan-ucapan yang menggelikan, membuat aku tertawa di bawah rembulan berlatarkan taman asoka di pinggir kota.
Diakronis percakapan yang kubuat. Sehingga pada masa kita bertemu, berkenalan, hingga saat ini kau masih menganggapku hanya sebatas teman ku gabungkan dan ku tata di buku catatan kecilku. “aku ingin lebih dari ini, lebih dari sekadar pertemanan.” Tulisan yang kubuat di dinding kamarku.
Tidak banyak percakapan yang kita lakukan, tetapi ucapan-ucapanmu akan sebuah negeri yang indah, aman, dan nyaman itulah yang membuat ku selalu tertawa. Tertawa, karena kau selalu menceritakan negeri indahmu itu dengan sentilan-sentilan leluconmu. Kau bilang “kenapa burung garuda yang di jadikan simbol negeri ini? Kenapa tidak burung beo saja? Jadi, sama persis dengan insan di negeri ini. Selalu mengikuti ucapan-ucapan dari yang punyanya.”
****
Sinar senja saat itu, tak bisa menggantikan hangat pelukanmu. “ah, hiperbolis sekali kata-kata yang ku ucapkan tadi.” Gumamku.
“Put.” Jon yang datang menghampiriku di tengah keramaian taman asoka.
“Iya Jon? Ada apa? Apa lagi guyonan yang ingin kau ucapkan?”
“Tidak Put, tak mengapa.”
“Kau aneh sekali Jon. Sangat aneh!”
Lampu taman, bangku taman, hingga kaca-kaca besar yang membuat pergantian waktu dari sore hingga malam ini indah rupanya. Kau juga mengabadikan foto kita ber-dua. Meminta bantuan dari seorang tukang kopi yang tak tahu─untuk memfoto, harus menyentuh tombol yang mana? Aku tertawa saat itu, karena sudah beberapa kali Jon memberi tahu, tombol yang mana yang harus di tekan untuk memfoto. Tetapi tetap saja tukang kopi itu tidak mengerti.
“Wah Mas, kok mati-mati mulu ya handphone-nya?” dengan dialek Jawa.
Jon dengan sabar mengajarkan. Satu kali benar dia menyentuhnya, tetapi hasilnya sangat lucu. Blur di semua bagian, wajah Aku dan Jon tidak terlihat. Buram.
30 menit waktu untuk menghasilkan foto yang sempurna. 15 foto yang dihasilkan, hanya 5 foto yang sempurna. Jon hanya tertawa dan tersenyum sambil berkata. “Yasudah, tidak apa-apa. Kan masih ada waktu lain. Lagipula, kita kan sering bertemu.”
Pagi, dan Jon tidak datang, ku coba untuk menghubunginya. Tidak di angkat, mengirim pesan melalui sosial media. Tetapi tidak ada jawaban. Siang, sebenarnya ada sebuah acara. Dan Jon berjanji untuk datang dalam acara itu. Wisudaku. Jon tidak juga hadir, sampai acara selesai. Tidak juga ada kabar darinya, pesan-pesanku juga belum dibuka olehnya. “kemana dia? Apa dia sakit? Karena terlalu lelah mengerjakan tugas akhirnya?” gumamku di dalam mobil, menuju pulang ke rumah.
Malam, meminjam mobil Ayahku untuk datang ke rumah Jon yang jaraknya terlalu jauh untuk berjalan kaki. Di sepanjang jalan, hanya ada lagu-lagu sendu bercampur rindu yang terlantun dari sebuah radio. Kumatikan, dan fokus pada perjalanan menuju rumah Jon. 2 jam perjalanan. Gelap, seperti tidak berpenghuni rumah itu. Seperti rumah penyihir di buku-buku fiksi terbitan luar.
Ada papan, dan ada garis kuning yang diberi oleh para polisi. Papan bertuliskan “Rumah ini disita oleh bank, karena korupsi” jika memang rumah itu disita? Lalu kemana Jon pergi? Mengapa dia tak memberi kabar? “Atau mungkin dia sedang menenangkan diri, karena masalah ini.” Ucapku seorang diri.
Beberapa bulan, setelah kepergian misterius Jon, dia datang dengan cara misterius, dan pergi secara misterius. Apa harus ku hubungi seorang detektif seperti di buku-buku fiksi terbitan luar itu? Agar aku tahu kemana Jon pergi?
Malam, satu tahun kepergian Jon. Setelah pulang dari kerjaku, di pinggir jalan terlihat keramaian dari sebuah rumah makan. Rumah makan yang sangat ramai, strategis akan tempat, dekat sebuah stasiun dan dekat dari sebuah terminal. Ada hiburan di rumah makan itu. Seorang wanita, bernyanyi diiringi seorang pria yang memainkan gitar. Merdu, dan permainan gitarnya sangat harmonis. Apalagi saat mereka berdua berpelukan setelah memainkan sebuah lagu. Damai sekali suasana saat ini. Andai Jon berada di sini, pasti akan lebih romantis.
Setelah makanku selesai, sebelum ku pergi dari rumah makan. Aku ingin mengajak penghibur di rumah makan itu untuk bermain di tempat kerjaku. Teringat tempat kerjaku akan mengadakan sebuah acara. Dan aku ingin penghibur di rumah makan itu, ikut meramaikan acara.
“Selamat malam, apa kita bisa berbicara sebentar? Aku Put.”
“Oh iya, Ada apa ya? Aku Jim. Kenalkan ini Eca, istriku.” Kata lelaki itu.
“Put?” wanita itu memanggilku.
“Kau mengenalku? Dari mana kau tahu namaku?”
“Kau mengenalnya?” Kata lelaki itu.
Wanita itu menyentuh tanganku, hangat genggamannya. Tidak normal untuk seorang wanita yang menyentuh hangat wanita lainnya. “Aku Jon, Put. Kau ingat aku? Kemana saja kau? Aku mencarimu selama ini?”
“Jon? Kau gila! Kau ini wanita, sedangkan Jon pria, dasar wanita gila!”
Wanita itu mengajak-ku berbicara berdua, dia bercerita sepenuhnya. Ternyata benar dia Jon. Dia bercerita, saat itu, saat rumahnya disita oleh bank, dia malu, tidak berani untuk menunjukkan dirinya. Setiap kali ia pergi, ia dikucilkan oleh orang yang dikenalnya. Dia pergi ke luar negeri, untuk bekerja di sana. Uang yang terkumpul ia gunakan untuk operasi kelaminnya. Pikirnya, jika ia berganti jenis kelamin. Pasti ia tidak dikenali oleh semua orang.
Ah Jon, kau ini sangat misterius. Datang di saat pagi dan seolah menyembah-ku bagai Dewa. Menemaniku selama beberapa waktu. Hilang selama satu tahun. Dan kini kau sudah beda, berganti nama menjadi Eca, dan mengenalkanku dengan seorang pria.. Jon, andai kau tahu. Hanya kau yang ku ingin. Beberapa pria yang ku kenal, tak sehebat dirimu. Jon.
Aku Put, senang berjumpa denganmu Eca.
Nicko
2015
Jumpa
Malam, berjumpa denganmu
Sekian lama tak bertemu.
Rasamu, masih saja seperti dahulu yang selalu
Ku rindu di setiap penghantar tidurku.
Lama, tak berjumpa dan Tuhan masih
Memberiku waktu untuk menjumpaimu, sebelum ku tahu
Kau akan berpunyakan seseorang.
Ah. Hanya harum aroma tawamu, yang
Masih melekat hangat di telingaku.
Tuhan tahu apa yang kau mau, dan apa yang ku mau.
Bukan sekadar sajak yang ku tulis ini, melainkan
Hal lebih yang kau cari.
Andai, sebuah kisah dapat berbuah manis
Seperti sebuah kisah fiktif belaka. Indah nampaknya.
Jadi, apa yang kau tunggu? Sajakku yang mendayu-dayu
Bagai lagu melayu?
2015
Langganan:
Postingan (Atom)