Nicko Pratama
Lampu kota sudah menyalah, mengiringi para pengguna jalan untuk menerangkan dari kegelapan dan menenangkan dari rasa takut akan perampokan di tengah jalan. Bau minyak wangi sudah habis juga, akibat asap pekat dari metro mini malam hari.
Aku mahasiswa tingkat akhir, menjalani perkuliahan seperti Mahasiswa lainnya di Jurusan Seni Rupa, di salah satu Institusi di Jakarta. Seperti biasa aku pulang pada larut malam, bukan lembur karena rapat untuk kepentingan organisasi. Aku seorang pekerja lepas untuk jasa transportasi darat yang saat ini sedang hangat diperbincangkan. Bermodalkan motor yang aku cicil beberapa bulan ─ dibantu orang tua. Pikirku, sudah tingkat akhir dan tinggal menjalani beberapa syarat untuk menuntaskan perkuliahan dan mendapat gelar sarjana, yang diinginkan orang tuaku. Selepas mengantar penumpang yang kebetulan satu arah menuju kampusku, aku bertanya ke salah seorang teman melalui media sosial, untuk tahu ada siapa saja yang masih setia menunggu pendopo. “Ke sini aje, masih rame kok di pendopo.” Ia membalasnya. Sembari menunggu kemacetan berakhir, berdiskusi atau membicarakan hal yang tidak penting dengan teman kampusku sering dilakukan. Membicarakan tentang dosen A atau B, bahkan bercerita tentang gadis yang sedang kita sukai. Segelas kopi, satu bungkus rokok selalu menjadi penghangat di malam hari.
Sudah jam 10 malam, berjalan seorang diri menuju lantai 4 parkiran. Ternyata masih ada kemacetan di jalan arah menuju rumah. Memutar balik arah ─ sedikit lebih jauh, namun tidak ada kemacetan. Di tengah perjalanan, aku melintasi sebuah tempat lokalisasi. Banyak sekali PSK(Pekerja Seks Komersial) yang berdiri di pinggir jalan, di depan pagar belakang taman. Aku penasaran, banyak sekali wanita. Dari muda, setengah tua(berkisar umur 35 tahun) bahkan ada yang sudah berumur 45 tahun. Dan yang lebih mengagetkanku, ada wanita yang sedang hamil, namun tetap melayani para tamu. Aku-pun semakin penasaran dengan wanita yang menjajakan tubuhnya dengan harga yang belum ku ketahui ini.
Di tempat lokalisasi, banyak pedagang yang berjualan di sekitaran berdirinya wanita. Dari tukang kopi, rokok, pelindung kepala, lampu motor untuk bergaya, gorengan, dan tukang kacang yang sudah langka ditemukan.
Motor aku pinggirkan dan membakar sebatang rokok, berniat ingin tahu harga yang mereka tawarkan. Belum ada yang menghampiriku selama aku menghisap sebatang rokok. Rokok sudah habis, tidak ada yang menghampiriku. Ketika berniat untuk pulang, seorang wanita datang dan menyapa. Tanpa banyak bicara aku langsung bertanya berapa harganya untuk satu malam.
“350 ribu sudah sama hotel Sayang.” Kata wanita itu.
“Apa tidak bisa kurang? 200 ribu saja bagaimana? Bisa?
“Bisa kok, tapi belum termasuk hotel, ya paling hotel hanya 50 ribu. Kalau mau, kita langsung berangkat. Hotelnya dekat kok, tidak jauh dari sini.”
Seperti barang yang diperjual belikan, bebas tawar menawar itu terjadi. Sebelum kita berangkat menuju hotel yang ia janjikan, aku membakar sebatang rokok. Aku tawari dia, dan meminjamkan pemantik api.
Di perjalanan menuju hotel aku merasa ada yang berbeda dari wanita yang aku ajak untuk bercumbu satu malam ini. Sesampainya di hotel, wanita itu langsung mengambil kunci kamar dari petugas hotel. Senyuman lirih petugas hotel seperti mengejekku. Tidak banyak para pemuda sepertiku yang ada di sana. Bahkan, kalau dilihat dari wajahnya ─ ada yang berumur sekitar 40 tahun. Aku masuk ke dalam kamar hotel. Menaruh tas di atas kasur dan membuka jaket. Sebelumnya ia meminta kartu identitas-ku untuk menyewa hotel yang akan menjadi tempat bercumbu. Ada uang tambahan, untuk membeli pengaman, dengan harga sepuluh ribu rupiah. Seusai itu, pintu dikunci rapat, agar tidak ada seorang-pun yang melihat dan masuk tanpa mengetuk. Wanita itu menyiapkan segalanya. Dari mulai menyalahkan televisi, pendingin ruangan, dan pengaman saat bercumbu nanti.
“Aku ingin cuci muka terlebih dahulu.” Kataku.
“Jangan terlalu lama, nanti aku menjadi bosan.”
“Kau sudah aku bayar, jadi apapun yang aku lakukan kau harus terima.”
Di dalam kamar mandi aku melihat sebuah cermin, menatap ke dalam mataku. Apa ada kotoran yang terselip. Selesai mencuci muka, aku hampiri wanita itu. Tanpa busana, tanpa sehelai benang yang ada di tubuhnya. Lekuk tubuhnya indah. Ada tattoo di punggung, lengan, dan kaki.
“Umar, siapa namamu?”
“Citra, yaudah langsung saja. Sudah cuci muka kan? Jangan terlalu lama.”
“Sebentar, aku membuka sepatuku terlebih dahulu.”
Citra memang sudah ahli, tanpa banyak bicara dia langsung memelukku dan ingin mencium bibirku. Aku melepaskannya dan ingin menghabiskan waktu lebih lama dengannya. Lagi, dia berusaha mendekatkan payudaranya ke arah wajahku. Aku menghindar, bukan berarti aku tidak suka dengan wanita dan juga bukan berarti aku seorang ahli agama yang seketika ingin mentaubatkan dia secara tiba-tiba.
“Kita tidak perlu berbuat seperti ini. Kenakan lagi pakaianmu.”
“Lho? Jadi untuk apa kamu membayar aku kalau bukan untuk bercumbu denganku? Apa kau tidak normal? Aku bisa panggilkan teman waria (Wanita Pria)-ku untuk menggantikan aku. Tenang, tidak perlu menambah biaya.”
Aku mengambil sebuah buku, dan sekali lagi aku memerintahkannya untuk mengenakan pakaiannya lagi. Setelah dia memakainya, aku lihat ada yang berbeda dari Citra.
“Coba kamu berdiri di samping ranjang tidur itu.”
“Untuk apa?” Jangan main-main.”
“Aku sudah membayarmu, jadi apapun yang aku mau kau harus ikuti perintahku.”
Setelah dia berdiri di samping ranjang tidur, aku mengambil sebuah pensil. Aku mengabadikannya dengan menggambarnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Semua bagian tubuhnya yang memakai busana. 1 Jam aku menggambarnya, dia terlihat lelah. Aku memerintahkannya untuk duduk. Terlihat sangat lelah, aku memanggil petugas hotel. Untuk membeli minuman untuknya.
Citra seolah tidak mengerti, mengapa aku tidak mau bercumbu dengannya. Tetapi hanya menggambar dia dan juga kenapa tidak difoto saja dengan gawai yang aku punya.
“Sudah selesai, kamu cantik sekali Cit.”
“Mengapa kau menggambarku? Apa aku kurang menarik, sehingga kamu tidak mau bercumbu denganku? Dan juga, kan kamu membawa handphone. Kenapa tidak difoto saja? Kenapa juga harus susah payah menggambar?”
“Kau sangat cantik, bukan berarti aku tidak mau berhubungan intim denganmu. Melainkan kecantikanmu sangat mahal bagiku, sehingga sebuah foto bisa saja terhapus oleh virus di handphone-ku.”
“Lho tapi kan kalau nanti kamu kehujanan bukumu basah, ya pasti gambarmu juga rusak, bahkan hancur.”
“Aku seorang Mahasiswa Seni Rupa. Jadi, wajar saja jika aku menggambarmu. Kau hanya sebatas objek saja. Untuk penambah koleksi gambarku.
“Terserah kamu aja ya Mar, kalau kita sudah selesai aku akan keluar dari kamar ini. Terima kasih atas lelucon ini. Udah bayar tapi malah ngegambar.”
Citra memang sosok PSK Hyper Sex, dengan kata lain haus akan melakukan cumbu. Buktinya saja, ketika baru masuk kamar. Dia langsung membuka bajunya dan tidak ingin lama-lama di kamar. Sebab ini hari kamis, banyak tamu biasanya yang datang menghampirinya.
Namun, tetap saja aku tidak ingin bercumbu dengannya. Sebab dia bukan pasangan halalku. Dan aku membayarnya bukan untuk bercumbu secara cepat, selepas itu pergi dan tidak ingat apa yang terjadi. Aku membayarnya, sama saja seperti model-model objek lukisku. Butuh tenaga untuk bergaya yang aku inginkan. Jadi, sangat tidak mungkin, jika aku tidak membayarnya.
Aku keluar dari kamar hotel, bertanya kepada petugas hotel berapa harga yang harus aku bayar untuk 2 jam. Petugas hotel itu memberi bukti pembayaran kamar hotel yang sudah lunas. Dan juga uangku yang tadinya kuberikan kepada Citra ─ dikembalikan setengahnya. Dengan sebuah catatan. “Terima kasih, ternyata kau orang baik, jaga baik-baik gambarku.” Sudah pukul 1 dini hari, aku lanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Sebelum berangkat, aku membakar sebatang rokok terakhirku untuk perjalanan pulang. Dan sebatang rokok yang aku nyalahkan ini, menjadi penghantar imaji akan Citra yang aku bayangkan di atap rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar