Nicko
“Jika sebuah kebenaran tidak tersampaikan hari ini, aku akan tetap menyampaikannya besok, lusa, dan seterusnya.” Seorang wanita muda memulai ceritanya kepada si Tukang
Itulah yang dikatakan salah seorang Pemuda yang paling dibenci oleh para warga kampung ini. Setiap hari, hanya ejekan yang dapat dilontarkan para warga sekitar kepada si Pemuda itu. Kebiasaannya yang menjengkelkan, membuat geram para warga sekitar. Tua, muda. Bisa dikatakan 99,9% para warga sekitar kampung ini membenci pemuda itu. Ya. Tentu saja, masih ada 0,1% lagi yang tidak membencinya. Para pakar agama? Tentu bukan. Teman-teman sepergaulannya? Bukan juga. Selaku orang tua si Pemuda itu-pun sebenarnya sudah geram, dengan perbuatannya. Memang aduhai sekali tingkah laku si Pemuda itu.
Dialah seorang yang bernama Umar. Seorang yang sering sekali mengkritisi para Tokoh masyarakat di kampung ini. Umar adalah salah satunya, sebelum Umar, ada salah seorang teman. Dialah Jalal. Dia juga dibenci oleh masyarakat sekitar. Perbuatannya yang menjengkelkan seperti halnya Umar-lah yang membuatnya dikucilkan setiap harinya. Jalal hijrah dari kampung ini. Pergi ke suatu tempat yang disebut-sebut sebagai Lembaga Permasyarakatan. Salah seorang Tokoh masyarakat itulah, yang membawa Jalal ke tempat tersebut.
Umar kini hanya seorang diri. Tetapi, 0,1% dari 99,9%. Masih ada yang setia menemani Umar kemanapun Ia pergi. Ketika Umar sedang berada kesulitan. Ia selalu menjadi penenang bagi Umar. Sore ini, ketika Umar sedang merencanakan tentang penulisan terhadap sesuatu yang benar. Ia duduk di sebuah pertigaan dan membawa selembar kertas, dan satu buah pensil. Ia terkejut, ketika para penjaga keamanan datang menghampiri Umar. Ia berkejaran dengan para penjaga keamanan di kampung ini. Umar lari sekencang mungkin, memanjat dinding, berlari di atas atap rumah warga. Yang menimbulkan atap rumah warga menjadi hancur. Dan perbuatan itu, semakin menambah emosi warga terhadap Umar.
Setibanya Umar pada sebuah jalan buntu. Seketika datang teman yang tetap setia bersama Umar. Dia-lah seekor anjing yang bernama Rob. Ialah Rob, yang ditemukan Umar saat banjir datang melanda kampung ini. Rob yang terbaring lemah, dekat sebuah pohon yang runtuh akibat banjir. Umar datang, ketika mendengar suara Rob yang seolah meneriakkan minta tolong.
Rob menghadang para penjaga keamanan itu. Menggonggong seperti serigala hutan. Awalnya para penjaga keamanan itu mencoba mengusir Rob. Dengan melemparkan batu ke arah Rob dan menggeretak Rob agar pergi. Tetapi, Rob yang sangat setia terhadap Umar mencoba menggonggong lagi. Dan kali ini, Rob juga menggigit kaki dan tangan para penjaga keamanan itu. Akhhirnya, Umar bebas dari kejaran para penjaga keamanan.
Selekas itu, Rob dibawanya ke rumah Umar. Dan berkatalah Umar seolah Rob bisa membalas ucapannya “Terima kasih Rob, kau memang yang terbaik.” Rob hanya menggonggong, seolah membalas ucapan dari Umar. Umar memberinya makan. Rob tidak mau, karena Ia tahu jika Umar belum makan sejak tadi pagi.
“Makanlah, aku bisa mencari lagi.” Umar terus memberi makanan itu kepada Rob, namun Rob tetap tidak mau. Akhirnya makanan itu dibagi menjadi dua. Setengah untuk Umar dan setengah lagi untuk Rob.
Ketika sedang menyantap makanan yang aduhai itu. Terdengar sebuah jeritan lagi dari rumah yang jaraknya lima rumah ke arah kiri dari rumah Umar. Tentang jeritan itu, memang sering terjadi di kampung ini. Jeritan yang setiap malan terjadi. Banyak yang bilang, saat ada warga yang menjerit─ Berarti warga itu sedang mendapatkan sebuah hadiah. Tetapi, jeritan itu diiringi sebuah tangisan di dalamnya. Kebiasaan itu, yang membuat Umar dari dahulu ingin mengetahui penyebab dari keberuntungan itu.
Paginya, ketika warga yang malamnya menjerit. Seperti mengikuti setiap perkataan dari para Tokoh masyarakat di kampung ini. Memang betul, para warga yang menjerit malam hari, paginya mendapat sebuah imbalan seperti uang, dan hadiah. Tokoh masyarakat ini-lah yang menjadi panutan para warga sekitar kampung ini. Para Tokoh masyarakat itu, awalnya seorang yang biasa saja. Namun, ketika datang salah seorang yang mengatasnamakan sebuah kelembagaan. Para Tokoh masyarakat itu seolah berubah, menjadi seorang yang fasisme.
Umar sering dikecam sebagai seorang yang berbahaya. Dia sering disebut-sebut sebagai seseorang yang subversif. Umar juga sering dituduh mencemarkan nama baik para Tokoh masyarakat ini melalui tulisan-tulisannya. Memang, Umar adalah orang yang pandai menulis. Sewaktu sekolah dulu, Ia selalu dikatakan seorang yang berbahaya. Karena pemikirannya yang meninggalkan jauh teman-teman sekolahnya dulu.
Di kampung ini, struktur kepemerintahan yang ada tidak berlaku. Yang tedapat hanyalah aturan-aturan yang dibuat oleh para Tokoh masyarakat. Aturan itu yang akhirnya, menimbulkan rasa geram bagi Umar sendiri. Aturan yang membolehkan para warga untuk tidak mengetahui dana yang setiap bulannya dibuat untuk apa. Aturan untuk tidak ikut camput urusan, diam dan tidak bersuara, tetap tenang, ketika para Tokoh masyarakat sedang melakukan pembicaraan.pada malam hari. Hanya umar-lah yang berani untuk tetap bersuara.
Ketika itu, saat Umar sedang duduk dan menghadap ke rumah para Tokoh masyarakat yang sedang berkumpul. Umar mendapati salah seorang anak dari Tokoh masyarakat itu sedang membawa kantung plastik berwarna hitam. Awalnya, Umar berpikiran jika itu makanan untuk para Tokoh masyarakat yang sedang berbicara. Tetapi, tiba-tiba Rob dengan aduhainya menggigit kantung plastik berwarna hitam itu dan ingin merobeknya. Anak itu menendang kepala Rob. Dan berteriak minta pertolongan.
Saat itu, para warga datang untuk memukuli Rob bersama. Umar berusaha mengangkat Rob. Umar terkena satu, dua pukulan dari para warga. Rob masih bisa terselamatkan. Umar segera membawanya pulang ke rumah. Umar membasuh seluruh tubuh Rob yang berlumuran darah, dengan kain basah. Umar memberi obat merah di kepala dan kaki Rob.
Dua hari Rob hanya bisa terbaring di tumpukkan kardus segitiga, yang menyerupai rumah yang dibuat Umar setelah menemukan Rob. Selama dua hari, Umar membawakan makanan dan susu untuk Rob. Yang akhirnya, saat malam tiba Rob terbangun. “Rob! Kau bangun.” Umar terkejut, karena awalnya Umar sudah menggali tanah untuk peristirahatan Rob.
Rob hanya bisa menggonggong. Susu yang dibawakan Umar, habis diminum oleh Rob. Seketika itu, datang salah seorang Tokoh masyarakat yang bernama Haji Komar. Dialah seorang yang paling diagungkan, di kampung ini. Bulak-balik ke tanah suci, sudah hampir 7 kali. Rumahnya juga yang paling besar di kampung ini.
“Hey Umar, masih kau bertahan dengan pemikiranmu itu?”
“Maaf Pak, sampai kapan-pun saya akan terus berkata benar.”
“Kalau begitu, saya perintahkan kepada seluruh warga untuk tidak memberi apapun kepada Umar. Baik itu makanan, uang, pakaian, bahkan barang-barang bekas-pun saya larang!”
Beberapa minggu kemudian, setelah perintah terakhir Haji Komar membuat Umar semakin terlantar. Ia menghabiskan waktunya di dalam sebuah rumah tua dan kecil. Bau apak yang tercium dari depan rumah Umar semakin menyengat setiap harinya. Para warga sekitar tidak tahu, bagaimana cara Umar bertahan hidup setelah beberapa minggu Ia tidak keluar dari rumahnya.
Umar tetap bertahan hidup, karena salah satu warga yang rumahnya lebih tinggi dari rumah Umar, melihat Umar sedang melukis dan menulis pada sebuah kanvas bekas, kardus bekas, kertas yang sudah kotor, dan tembok rumahnya.
Haji Komar tidak percaya dengan cerita warga yang melihat Rob masih hidup. Haji Komar mencoba membuktikan perkataan warga itu. Haji Komar mengajak beberapa Tokoh masyarakat lainnya, untuk ikut datang ke rumah Umar. Belum sampai masuk ke dalam rumah, Haji Komar sudah mencium bau apak yang membuat asam lambung naik. Mual. Para Tokoh masyarakat lainnya mengeluarkan isi makanan yang baru saja dimakannya. Haji Komar memakai masker. Bau apak itu berubah menjadi bau amis. Dan lalat dengan leluasanya keluar-masuk rumah Umar. Seperti sedang merayakan pesta. Umar tidak terdengar. Ketika Haji Komar menyerukan nama Umar, namun tidak ada jawaban dari Umar dan gonggongan dari Rob.
Ketika salah satu Tokoh Masyarakar mengamati sebuah gambar, dan ada sebuah kertas yang isinya tulisan dengan tinta darah. Gambar tersebut dibuat Rob dengan darah. Mengidentikan dengan sebuah kebenaran yang memang harus diperjuangkan.
Isi tulisan dari Rob “Demi kebenaran, aku rela memakan tubuh Rob dan menyayat diriku agar roh-ku berterbangan dan tetap menyerukan kebenaran! Sampai kapan-pun kebenaran tetap harus diperjuangkan!. – Salam dari saya seorang hamba yang bernama Umar, dan kini jasad saya berada di balik pintu yang menuju yang menghubungkan keluar masuknya pesta lalat itu. Dan dari temanku Rob, yang jasadnya berada di dalam perutku.
“Kejam sekali mereka” Kata si Tukang”
“Tetapi, mereka-lah yang menjadi panutan warga sekitar tempat Umar disemayamkan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar