Minggu, 17 Mei 2015
Biru Bukan Merah
N
Ada lagi yang mati, tak bisa terhitung berapa jumlahnya
Ada lagi yang mati, bukan Dia. Tetapi dia, dia, dia, dan dia
Siang itu di depan istana garuda, terpanggang matahari nampaknya
Tapi tidak kekuningan seperti sebuah partai negeri ini
Tidak. Tidak kehijauan seperti pepohonan yang ditebang hingga tinggal
Kecokelatan. Di antara barisan serdadu, Dia tampak gagah berwarnakan biru.
Di antara barisan serdadu, dia merasa gagah dengan ikat
Putih di kepalanya. Dan di antara para jenderal yang
Duduk mengangkang dengan senapan bulat berisikan
Rupiah, rupiah, dan rupiah. Dia tampak gagah berorasi
Di depan istana garuda.
Siang itu, ada lagi yang mati, tak terhitung berapa jumlahnya
Hanya isak tangis yang terdengar dari suara ambulance
Yang berjalan beriringan, mengantar dia, dia, dia, dan dia.
Bukan merah yang kuingat saat itu. Biru, yang berbaris
Seperti para serdadu untuk menjaga dia, dia,dia dan dia
Ke tempat peristirahatan.
Jakarta,
2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar