Rabu, 24 Desember 2014

Benar-Benar Munafik

Siang itu, dimana semua umat manusia berpesta pora. Berpesta menyambut penguasa baru. Penguasa yan awalnya juga menguasai suatu daerah ke daerah lain. Awalnya si penguasa itu hanya menjadi budak penguasa. Dan ditugaskan untuk menguasai pedesaan dan akhirnya di pindahkan ke desa lainnya,  karena hasil kerja yang memuaskan dan tidak pernah membebani rakyat desa tersebut. Tapi, seketika masa kekuasaan ia berakhir. Penguasa itu bertekad untuk menguasai daerah lain. Muncul satu pikiran, jika ia menguasai suatu pedesaan lagi. Maka, kehidupan ia hanya begitu-gitu saja. Hanya mengharapkan upeti kecil dari penguasa.

Akhirnya, budak penguasa itu di calonkan untuk menguasai ke kota. Kota tempat semua umat manusia berburu mendapatkan harta, tahta, bahkan sampai cinta. Saingan budak penguasa tersebut ialah orang yang dulunya pernah menguasai kota tersebut.

Para rakyat sudah tahu, tentang etos kerja budak penguasa itu saat ia di tugaskan menguasai suatu pedesaan. Para rakyat tanpa pikir panjang dan tak mau memikirkan jadi apa kota ini jika di pimpinnya nanti, memilih budak penguasa yang ingin menguasai kota tersebut.
Sempat banyak pertentangan, saat tahu jika ia mempunyai teman kerja yang notabene-nya adalah penganut aliran lain dari budak penguasa itu. Para rakyat seakan di hipnotis, seakan di paksa mengangguk saja saat budak penguasa itu menerangkan. Mengapa ia memilih teman kerjanya  yang beraliran lain. Dia berpendapat, jika kota ini harus berlandaskan dengan kitab sutasoma, yang berisi Berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Anehnya, budak penguasa itu seakan belum puas jika ia hanya menguasai kota saja. Ia berniat menguasai negara tersebut. Dalam salah satu surat kabar, di sebutkan jika budak penguasa itu di calonkan lagi untuk menjadi penguasa negara. Bagaimana bisa? Ia bahkan belum menyelesaikan tugasnya di kota ini. Baru 2 tahun ia menguasai kota, mengapa? mengapa cepat sekali ia berpikiran untuk menguasai negara tersebut.

Pemilihan lagi, dan para rakyat serasa di hipnotis lagi dengan aura budak penguasa  yang tidak lama lagi akan menjadi penguasa di negaranya. Akhirnya, benar adanya. Budak  penguasa itu terpilih lagi. Dan sekarang ia resmi menjadi penguasa negara.

Tapi, ada yang janggal di masa kekuasaannya. Ia menggembor-gemborkan, jika ia aka mensejahterakan rakyatnya seperti ia mensejaterahkan pedesaan yang dulu sempat ia kuasai. Semua orang terkaget, tercengang dan ternganga. Ketika mendengar putusannya yang menaikkan bahan bakar menggunakan minyak. Minyak, yang mayoritasnya rakyat memakai bahan yang menggunakan minyak itu. Menaikkan harga, dengan alibi subsidi bahan bakar tersebut di gunakan untuk daerah-daerah pelosok yang masih kekurangan sekolah, rumah sakit, dan bahan pangan.
Salah satu daerah dekat dengan teluk mempunyai cerita kehidupan yang di pimpin seorang penguasa munafik. Dan seorang nelayan di yang sedang menunggu hasil tangkapannya ikut merasakan imbasnya kenaikan bahan bakar itu.

“ketika harga BBM naik pasti selalu mengancam kehidupan kami para nelayan,      bukan hanya ombak besar dan badai laut yang mengancam kehidupan kita tapi naik nya harga BBM juga ikut andil dalam hancurnya perekonomiam kami para nelayan.” Ujar nelayan, sambil terdiam dan menghela napas lalu berkata lagi “Em…. Sekarang lengkaplah sudah penderitaan kami… terimakasih penguasa kau telah berikan kesengsaraan pada kami…
Penguasa seakan tak perduli dengan penderitaan nelayan tersebut. Dengan lenggangnya ia muncul di televisi, surat kabar dan radio. Muncul dengan pemberitaan yang membuat ia semakin terlihat gahar dengan kebohongan-kebohongannya.

Dan penguasa itu mengikuti cara penguasa sebelumnya dengan cara mengikuti kebijakan dan peraturan yang dahulu pernah di ciptakan.

Sementara di luar sana banyak nelayan yang berpendapat jika peraturan di ciptakan hanya untuk mengekalkan kekuasaan.





Matahari, sumber kehidupan untuk semua umat manusia. Dan di siang hari itu pula matahari tepat berada di titik tengah.Saat jam dinding tepat menunjuk ke arah utara, semua umat manusia di negeri itu merasakan dehidrasi yang tak seperti biasanya. Dehidrasi yang bisa mematikan semua umat manusia.
Para umat manusia sebenarnya bisa saja menenggak sebotol air yang menyejukkan tenggorok dan membasahi bibir kering ini. Tapi, apa boleh buat, para umat manusia di negeri itu sedang kepusingan memikirkan bahan bakar yang menggunakan minyak itu naik. Dan imbasnya ke seluruh bahan pangan. Apalagi, upah para pekerja tak cukup menghidupi suatu keluarga.
 Anak-anak juga terkena imbasnya. Secara logis, mereka masih menuntut ilmu. Dan mereka tak mungkin jalan kaki dari rumah hingga tempat mereka menuntut ilmu tersebut. Angkutan transportasi mengikuti jalannya kebijakkan kenaikan bahan bakar minyak itu.

Sungguh sangat di sayangkan, mengapa penguasa yang dahulu di agung-agungkan dan di sembah-sembah sekarang menjadi seperti ini? Di percayai untuk memimpin negeri ini dengan carut marutnya. Bukannya mensejahterakan rakyat seperti yang dulu ia lakukan pada desa yang ia dulu pernah kuasai, tapi ini malah menambah beban semua rakyat. Terutama yang hanya kerja pas-pasan. Dengan upah tak seharga satu buah celana jeans di pusat perbelanjaan.

Mengapa? apa karena ia sekarang sedang mengenakan topeng kemunafikan. Untuk mengelabui para rakyat yang sedang kesusahan seperti sekarang ini.
Ibu-ibu rumah tangga seakan tak bisa berkutik sama sekali. Yang dulunya ibu-ibu rumah tangga bisa memasak bahkan belanja, sekarang hanya bisa memasak dengan seadanya. Dengan bahan baku yang hampir setiap hari itu-itu saja.

Para ibu-ibu juga sering mengeluh, bahkan tak sesekali mereka berkumpul untuk membicarakan mengapa penguasa yang dahulunya kita anggap seperti seorang dewa dan tuhan sekarang berubah. Seorang dewa yang kita anggap bisa membantu semua umat manusia untuk sejahtera, sekarang menambah beban.

Di hari minggu, para ibu-ibu berkumpul untuk bertemu dengan para nelayan. Seorang ibu yang di sebut sebagai tokoh masyarakat di sana selalu memberi solusi. Tapi, tetap saja ia pun ikut merasakan imbasnya.

“gara gara harga BBM naik sampai sundul  langit,  maka harga bahan pokok pun ikut        ikutan melambung tinggi kian sulit terjangkau rakyat kecil. Kata ibu tokoh masyarakat itu.
Para istri-istri nelayan seraya seperti bersemangat mengikuti perkataan tokoh masyarakat itu.
Memang ada banyak bantuan-bantuan yang di beri oleh sang penguasa. Contohnya kantung bertuliskan swasembada. Tak tahu apa isi di dalamnya, tokoh masyarakat itu membawa kantunng itu. Di lihat dari bentuknya terlihat ringan. Tetapi, entah mengapa kantung itu terasa berat saat di panggul para wanita. Terlihat, betapa lelahnya mereka. Sampai-sampai ada yang jatuh karena tak kuat menahan beban kantung itu.

Para wanita itu merasa, beban-beban yang sebenarnya ada di hidup mereka sekarang sama beratnya dengan kantung yang mereka panggul.



Fajar tiba tanpa terasa, membangunkan sebuah pelosok tanjung berdekatan dengan pasar. Semua rakyat berkumpul di tengah keramaian pasar. Para wanita bunting mengayunkan tangan ke wajah yang tampak basah akan kucuran keringat penuh dahaga. Tawar menawar antar pedagang terjadi dengan kolotnya.

Para pedagang keras kepala, tak mau menurunkan harga sedikitpun,. Para ibu-ibu juga tak mau kalah, selalu beradu mulut setiap harinya dengan para pedagang. Bingung, harus berbuat apa para penanggung beban keluarga. Ingin berkerja ke arah kiri, namun takut akan jangka panjangnya nanti. Sedangkan, jika ia berkerja ke arah kanan, tak dapat apa-apa. Hanya secercah harapan, namun masih sedikit buram. Tertutup awan tebal menggeluti langit.

Tak ubahnya seperti masyarakat kota lainnya, ibu-ibu rumah tangga di pelosok tanjung itu juga banyak yang berjualan, menjajakan banyak makanan hasil tangkapan laut yang di bawa oleh lelakinya.
Ibu RT dengan bodohnya, ternganga melihat kedatangan penguasa datang menghampiri nelayan dan para rakyat lainnya. Para nelayan cepat tanggap mendapat kabar tersebut. Setelah mendapat kabar, langsung di putarnya arah haluan ke arah tanjung lagi.

Penguasa itu, seperti biasanya mengobral janji belaka. Hanya seperti beo yang sedang di ajari bicara. Para rakyat pelosok tanjung itu, mengangguk ke atas dan ke bawah. Ketika penguasa itu mengobral janji-janjinya.
Tokoh masyarakat berkelamin wanita di sana, serasa tak mau di bodohi lagi. Datang menghampiri penguasa itu, bersama wanita-wanita tua, yang sudah di ajari. Untuk tidak bisa di doktrin/stigma atau apapun namanya, yang berhubungan dengan hasut-menghasut.
“Mengapa kau seperti itu? Ada apa kau kesini?  Saya kesini dan seperti ini karna BBM!” Ujar tokoh masyarakat dan nelayan secara bersamaan.

“Ha ha ha… Tren lama berkorupsi kini sudah kuno dan tidak berlaku bagi ku, dikarnakan banyak kawan kawan ku yang telah tertangkap  si cicak dan si buaya. Ha ha ha…” Kata si penguasa dengan gelegat tawa yang membuat lalat hinggap di kerongkongannya.

Para rakyat tak mengerti, apa maksut kata dari si penguasa itu. Dia berkata “Banyak kawan-kawannya yang telah tertangkap” Apa maksutnya? Tak tahu siapa yang di maksudkan dengan teman-temannya yang tertangkap.

Para nelayan juga merasa bodoh, ketika si penguasa berkata demikian. “Berarti, jika teman-temannya tertangkap. Apa ia juga termasuk orang yang akan tertangkap nanti?” Kata nelayan.
Tokoh masyarakat di sana mencoba melakukan komunikasi, dengan penguasa itu. Tapi, para budak-budak penguasa selalu menghalang-halangi.
“Jadi, selama ini. Kau telah membodohi kami semua?” Kata tokoh masyarakat itu dengan menarik urat lehernya.

Sang penguasa berjalan ke kiri empat langkah dan kanan empat langkah. Lalu serasa orang bodoh yang menemukan ide, ia menjulangkan tangannya ke udara.
“Haha, tapi… sekarang saya telah mendapatkan trik baru untuk mengembalikan modal pemilu tahun lalu. Apakah kalian pengen tahu dengan cara apa saya mengembalikan modal saya? ya saya tau anda semua orang yang kurang pintar, jangan kuatir pasti saya beritahu caranya. Caranya yaitu dengan menaikan harga bahan bakar minyak setingi setinginya… ya dengan cara ini pasti saya bisa balik modal bahkan bisa untung beratus ratus lipat keuntunganya yang aku dapatkan… Ha ha ha…” Kata penguasa.

“Dasar kau orang yang munafik, kau menaikkan harga Bbm untuk membalikkan modal pemilu-mu kemarin?”. Kata nelayan dengan lantangnya.
“Tentu saja, kalian saja yang selama ini bodoh. Tertipu dengan akal muslihatku.” Kata Penguasa
Dia terus tertawa hingga suasana tenggelam dalam tawanya, tapi ditengah tengah tawanya dia tersendak karna kebanyakan tawa dan ia akhirya tawapun berubah menjadi eraman seperti orang yang tercekik… dan terdengar suara  ” Yang benar tetaplah selamat dan yang salah pasti mati dengan perbuatanya”  sampai hening dan semuapun berakhir dalam kegelapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar