Fragmen: Satu
Senja, saat yang di nanti-nanti oleh setiap insan di dunia. Senja yang memberi kehangatan sebelum datangnya dingin di gelap malam hari. Desa Kenok tepatnya, salah satu desa yang diberi keindahan dengan senja indah di sore hari. Masut, Pemuda paruh baya dengan satu istri yang di punyanya membuat ia tampak cerah menunggu senja di pedesaan tersebut.
Masut, dengan lugunya menunggu datangnya senja. Duduk bersila di balai bambu samping gubuk rumah tuanya. Masut kini sedang mempelajari ilmu, ilmu yang mungkin sangat mustahil di jaman globalisasi seperti sekarang ini. Masut juga mempunyai guru. Guru tua dengan kerutan di pipi dan keningnya, menggambarkan betapa tuanya ia sekarang ini.
Seketika Masut sedang tenangnya menikmati senja sore hari. Guru tua itu datang dengan tongkat bambu berwarna coklat ke-emas-emasan.
“Guru, , terimakasih banyak atas ilmu yang berikan kepadaku, apalah artinya diriku andai
tidak ada guru.” Ujar Masut dengan polosnya.
“Masut, masut! Kamu harus tahu, barang siapa seseorang mempunyai ilmu walaupun
sedikit harus diberikan kepada orang lain.”Balas si guru tua dengan napas yang sudah ter-engah-engah.
Obrolan-pun berjalan ramah, di temani hangatnya senja sore hari. Seketika wanita yang berambut lurus, dengan asiknya berjalan menghampiri Masut dan si guru tua. Wanita bertubuh molek, berbadan tinggi, dan paras yang menawan. Wanita yang menemani Masut 5 tahun lamanya, datang membawa teh hangat dengan nampan berbentuk persegi panjang.
“ Akan lebih baik kalau mengobrol sambil meminum teh hangat.” Kata wanita itu dengan suara menyerupai nada indah karya Beethoven.
“Bisa saja istri kamu!” Ujar guru tua dengan senyum tanpa gigi”
Masut, beruntung sekali mendapat istri seperti wanita itu. Dan ia juga beruntung mempunyai Guru tua yang sangat sabar mengajari murid bodoh seperti masut. Pembicaraan antar 3 insan manusia itu, berjalan alot dengan bahasan yang tidak ada habisnya. Di tengah-tengah pembicaraan yang di lantunkan oleh Guru tua kepada Masut. Datang beberapa pengawal kerajaan membawa kabar dengan paniknya.
“Maaf, guru! Ada perintah dari paduka raja yang harus saya beritahukan kepada guru.” Kata pengawal satu dengan glagepan.
“Katakanlah”
“Paduka raja perintahkan guru agar memberantas pemberontak di wilayah tetangga,
karena banyak warga yang menderita dan mati.”
Belum selesai pembicaraan si pengawal, yang memberi kabar dari paduka raja untuk si Guru tua. Masut dengah lantangnya berucap “Guru, perkenankan hamba yang pergi ke medan perang, karena sudah saatnya saya mengabdikan diri hamba untuk negara dan bangsa ini.” Lalu si Guru tua dengan terpaksa berucap “Baiklah!.”
Sementara si Guru tua dan beberapa pengawal menunggu di depan halaman rumah, Masut bermaksud pamitan dengan wanita yang ia cintai. Dengan menenangkan hati istrinya, duduk di atas balai bambu menatap langit indah sore itu.
“Kamu akan meninggalkan aku sendiri, kamu rela meninggalkan aku.” Ujar wanita itu dengan air mata membasahi kelopak matanya.
“Tidak usah menangis dan bersedih! Aku akan kembali.”
“Bagimana aku tahu kalau kamu selamat atau tidak.” Menatap Masut jauh lebih dalam, seribu tanya tergambar jelas di wajahnya.
“Kau akan tahu aku selamat atau tidak.”
Dengan polosnya ia bertanya “Bagaimana caranya?”
“Kalau aku selamat, maka balai balai bambu ini akan selalu bersih. Tapi, kalau balai-balai
Bambu ini ada bercak-bercak darah, berarti aku tidak selamat”
“Tapi kamu harus janji akan selamat dan cepat pulang.” Sambil mencengkram tangan Masut agar ia berjanji.
“Aku janji, kalau begitu aku pergi dulu.”
“Hati-hati.” Ujar istri masut sambil meratapi kepergian lelaki yang sangat ia cintai.
Setelah berjalan 3 jam lamanya, Guru tua, para pengawal, dan Masut akhirnya tiba di medan peperangan. Tak di duga ternyata para pemberontak sudah siap untuk menghadang Masut. Masut langsung beradu pedang dengan para pemberontak. Di saat masut dan para pengawal beradu pedang, para pemberontak lainnya ikut berdatangan mengepung Masut. Dan tanpa di duga pula tombak berterbangan mengejar Masut dan para pengawal.
“Lebih baik kalian menyerah dan membantu kita.” Dengan tertawa ngeri, pimpinan pemberontak itu berucap.
“Aku tidak sudi berjabat tangan dengan pemberontak.” Kata Masut dengan suara lantangnya.
Mencoba membantu pimpinannya, anak buah para pemberontak ikut bicara menentang perkataan Masut.
“Jaga mulutmu atau kusobek.” Kata si anak buah.
“Fitnah apa lagi yang raja ucapkan, kalian hanya dijadikan alat kekuasaan raja.” Kata si pimpinan pemberontak.
Masut tak mengerti, apa yang di ucapkan oleh pimpinan pemberontak itu. Hanya bisa ternganga dan diam dengan seribu tanya. “Apa maskudmu?”
Dengan menghela napas panjang, akhirnya pimpinan pemberontak menceritakan, apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa ia berucap sedemikian rupa.
“Dulu, raja kalian memfitnah kalau kami banyak membakar ladang-ladang warga yang mengakibatkan banyak warga yang mati kelaparan, tapi itu bohong, kami tidak pernah membakar ladang-ladang, kami membela warga yang hasil ladangnya di ambil oleh raja untuk di berikan kepada kerajaan tetangga. Kami disini kelaparan, kami disini kekuarangan makanan.” Ujar pimpinan pemberontak tersebut.
Diam dengan bodohnya, Masut berucap “Jadi maksud mu, raja memanfaatkan kita untuk memperluas jaringan dengan kerajaan kerajaan tentangga tapi dengan berakibat rakyat menderita.”
Dan dalam diam Masut hanya bisa termenung, ternyata selama ini ia hanya di peralat oleh paduka raja, seribu sesal ia lantunkan kepada tuhan. Tapi, apadaya jika sudah terlaksanakan. Dan Masut menyadari jika ia hanya menjadi boneka mainan yang dijajakan di jalanan.
Fragmen: Dua
Seberkas sinar telah mengusik tidur,
membangunkan wanita yang terlelap akan mimpi tadi malam. Tapi, ada yang aneh
saat matahari sedang memancarkan sinarnya ke seluruh jagat raya, awan tebal
menutupi seluruh desa yang sedang terjadi pemberontakkan.
Pagi yang mendung, seorang wanita
yang masih berpakaian lusut ini keluar dari sarangnya. Dan ia bermaksud menyapu
halaman depan rumah. Seketika, wanita itu ingat akan perkataan Masut. Tentang
janji yang diucapkan dari seorang lelaki bodoh. Lelaki yang rela berkorban
untuk Raja yang telah membodohinya, dan pergi meninggalkan seorang wanita yang
mencintai dengan setulus hati.
Sesaat di balai bambu, wanita itu
tercengang dan terkejut. Ketika ia melihat banyak sekali bercak darah
berceceran di atas balai. Ia bertanya-tanya. “Ya tuhan, kenapa bercak bercak
ini muncul! Apakah dia tertangkap atau mati? ya tuhan kini aku hidup sendiri,
tiada teman hatiku. Apa yang harus kuperbuat. Coba aku melarang masut pergi,
pasti tidak akan terjadi seperti ini.” Ujar wanita itu dengan linangan air mata
yang membasahi kelopak mataa dan pipinya.
Disaat wanita itu sedang meratapi
keselamatan Masut. Masut dan Pimpinan Pemberontak, duduk berhadapan bagai para petinggi politik yang sedang
berdebat. Di samping jendela, dengan membuka kaca. Angin sesekali berkejaran,
untuk masuk ke ruangan tempat Masut dan Pimpinan Pemberontak yang sedang
berhadapan satu sama lain.
“Aku baru
mengetahui kalau semua ini salah! Jadi apa maksud dari raja?” Dengan polosnya
Masut bertanya kepada Pimpinan Pemberontak.
“Sekitar
empat tahun yang lalu, saat itu aku dan raja berteman, tapi ketika dia
mencalonkan menjadi raja, dia menyuruh aku agar aku berpura pura menjadi pemberontak
dan dia ingin menjadi pahlawan dan raja mengangkat dia menjadi mentri dan saat
itu dia menyuruh aku lagi untuk memberontak dengan alasan kalau raja pada saat
itu tidak dapat mensejahterakan rakyat, tanpa diduga dia menjadi raja.
Saat dia
menjadi raja banyak rakyat yang dirugikan. Para petani dipaksa agar hasil
panennya diberikan kepada kerajaan dan dari kerajaan diberikan ke kerajaan
tetangga. Banyak mentri mentri yang memperkaya diri. Rakyat banyak yang mati
kelaparan, anak anak kecil banyak yang mati karena busung lapar. Coba kamu
lihat keluar” Sambil menunjuk ke luar jendela.
“Ada apa?”
Kata Masut dengan tampang bodoh, yang tak mengerti apa-apa.
“Sudah
lihatlah keluar.”
Lelaki bodoh itu penasaran.
Sebenarnya, apa yang terjadi di luar sana? Mengapa pimpinan pemberontak itu
memaksaku untuk melihat ke luar jendela? Tanpa alasan yang jelas. Yang
jelas-jelas aku sudah tahu apa yang terdapat di luar jendela. Paling-paling
hanya terdapat persawahan dan balai-balai bambu, serta orang-orangan sawah yang
di tancapkan di atas tanah. Untuk mencegah hama menyerang sawah.
“Apa yang
kamu lihat?” Kata Pimpinan Pemberontak.
Ucapan si Pemberontak tadi seketika
membuat Masut terdiam seketika. Terdiam untuk merenungi yang terjadi di luar
jendela kaca samping kita melangsungkan obrolan. Dan ternyata bukan sawah atau
apapun yang tadi terlintas dalam bayang imajiku yang terlihat. Melainkan
Kesedihan para ibu dan banyaj anak kecil yang menangis. Dan dengan bodohnya,
Masut bertanya “Lantas apa yang akan kita lakukan?”
“Aku akan
memperjuangkan hak hak anak bangsa ini, kita semua sama, bukan Raja saja yang
boleh buang air.” Dengan lantang Pimpinan Pemberontak itu berucap.
Ketidak tahuan akan dunia di luar
jendela, membuat Masut tampak bodoh selama ini. Tampak bodoh dengan diperbudak
Raja untuk memberantas Pemberontak, yang
ternyata selama ini mereka melindungi kaum rakyat jelata. Dan disaat kebodohan
Masut sedang berlangsung. Anak buah si Pimpinan Pemberontak datang dengan
glagepan ia berkata “Maaf tuan!.” Pimpinan Pemberontak itu merasa ada hal yang
penting untuk disampaikan anak buahnya.
“Ada apa?”
Ucap Pimpinan Pemberontak.
“Tuan,
prajurit kerajaan kabur dari penjara.”
“Kejar dan
bunuh dia.”
Tampak tersirat gambaran wajah si
pemimpin itu, tergambar kekesalan yang sangat mendalam.
“Baik,
tuan”.
Anak buah-pun keluar dari ruangan
itu, dan mereka segera mengejar tahanan kerajaan agar ia tak memberi informasi
kepada Sang Raja. Masut dan Pimpinan Pemberontak juga keluar, dan ikut mencaari
tahanan kerajaan yang kabur.
Fragmen:
Tiga
Sudah setahun Masut pergi ke medan
perang, namun sampai sekarang tak kunjung juga datang. Tak ada kabar sedikitpun
yang ia sampaikan. Sampai suatu saat rintik air berhamburan di seluruh penjuru
desa, dengan santainya wanita berambut lurus itu duduk di balai bambu, samping
rumahnya. Bersandar pada seorang pria muda yang berniat menghancurkan rumah
tangganya. Dengan tujuan menikahi wanita itu, di saat wanita itu masih
berstatus menikah dengan Masut.
Kawi
namanya, lelaki muda yang gagah dan tampak kokoh itu duduk di samping wanita
itu. “Bukannya saya tidak menghargai suami kamu, tapi kamu sendiri tahu
bagimana kalau perempuan cantik seperti kamu hidup sendiri, maukah kamu
menerima lamaranku?” Ujar pria muda itu. “Bukannya aku menolak tapi aku merasa
kalau suamiku masih hidup dan apa kata orang kalau kita menikah, kamu perjaka
sedangkan aku janda.” Kata wanita itu.
“Peduli apa
dengan mereka, aku yang akan menjalani hidup ini, bukan mereka, sungguh aku
sangat cinta sama kamu.setahun sudah kamu menunggu masut, tapi nyatanya kamu
harus merelakan semuanya.” Tambah pria muda itu, mencoba meyakinkan wanita yang
ingin dilamarnya.
Wanita itu melihat balai bambu yang
sedang di dudukinya, ia teringat dengan pesan Masut tahun lalu.”selama aku
pergi, kamu harus menjaga balai balai bambu
itu, kalau aku selamat maka balai balai bambu itu akan bersih dan tidak
ada bercak bercak darah tapi apabila engkau mendapati bercak bercak darah di
balai balai bambu itu berarti aku tidak selamat. Aku pergi!”
Dan di
lihatnya juga bercak darah yang berceceran di balai bambu tersebut. Dan dengan
gobloknya, istri Masut yang pendusta itu menyatakan jika ia bersedia menikah
dengan pria tersebut. Lalu pria tersebut mengajak wanita itu untuk pergi ke
rumahnya, berniat di kenalkan dengan keluarga pria itu.
Di saat asmara membakar pria dan
wanita pendusta itu. Di medan perang, tepatnya di kampung pemberontak yang
sedang di diami oleh Masut sekarang ini, sedang
gempar lagi karena ada kabar tentang kedatangan Raja.
“Kenapa kau
tidak kabur?” Ujar Pimpinan Pemberontak.
“Tidak ada
gunanya!” Kata Masut.
Benar saja,
tidak lama waktu berselang, Raja dan semua pengawal kerajaan datang
bergerombolan ke kampung pemberontak itu. Dan benar saja, ternyata Raja itu
sudah kenal akrab dengan Pimpinan Pemberontak itu.
“Kawan lama,
bagaimana dengan kabarmu!kamu harus tahu kalau kamu tidak akan pernah unggul
dariku!” Ujar Raja dengan mulut ternganga sambil tertawa. “Penindas!” Kata
Pimpinan Pemberontak tersebut, sambil mengarahkan pedang ke arah Raja.
“Siapa yang
tertindas, bukakah aku sudah menawarimu tempat yang layak di sampingku. Tapi,
kamu dengan sombong menolak.” Ucap Raja
“Aku tidak
sudi duduk bersama dengan orang orang munafik seperti kalian!” Ngotot Pimpinan
Pemberontak.
“Kau yang
munafik! Aku tahu kamu sangat membutuhkan hasil panen tapi tetap bersikares
tidak ingin menyatakan diri.” Tambah Raja.
Seketika Pimpinan Pemberontak
berteriak dan berkata yang sejujurnya di hadapan orang banyak.
“Coba kalau
aku tidak membantumu saat itu, mungkin rakyat tidak akan menderita seperti ini.
Ini janji yang dulu kau ucapkan, apakah kelaparan yang telah kau berikan kepada
rakyat? Apakah penyakit penyakit yang tiada obatnya yang kau beri untuk anak
anak di negri ini. Kau dan para entrimu hanya mementingkan diri sendiri, coba
kalian fikir, sudajh berapa banyak rakyat yang mati sia sia, ini ulah kalian,
kalian dengan enak membawa paksa hasil panen, guru guru hanya boleh mengajarkan
anak anak para mentri, tabib tabib hanya boleh mengobati keluarga raja dan
mentri, apa itu semua yang telah kau berikan kepada rakyat?”
“Diam! Aku
muak mendengan ocehanmu.”
Raja kesal
dengan ocehan Pimpinan Pemberontak, dan tanpa pikir panjang Raja mengeluarkan
senapap yang ada di pinggangnya. Di tambah mengisi peluru yang ada di kantung belakangnya,
setelah terisi Raja tak banyak bicara. Langsung menembak Pimpinan Pemberontak
itu.
Roboh, kata
yang tepat untuk Pimpinan Pemberontak itu, setelah sebelumnya terlihat gagah di
khalayak ramai. Dan setelah Pimpinan Pemberontak itu jatuh dan terbaring di
atas tanah, Raja meninggalkan Pimpinan Pembrontak itu dan berjalan beriringan
bersama Masut dan pengawal kerajaan.
Masut merasa rindu dengan wanita
yang telah lama di tinggalnya itu. Setelah beberapa jam perjalanan, samapailah
Masut di depan rumahnya. Kaget, bingung, heran. Ketika Masut melihat kerumunan
orang di depan rumahnya, ia bertanya-tanya “ada apa ini?” Kata Masut.
Ketika Masut
masuk ke dalam rumahnya. Ternyata akad nikah antara Kawi dan wanita itu akan
segera dimulai.
“Oh, begini
istri yang tidak tahu diri, suami sedang perang ini malah menikah lagi! Baik,
aku akan bikin perhitungan.” Kata Masut, sambil menghampiri dalang.
Masut
bermaksud meminjam wayang orang yang ingin di mainkan oleh dalang. Tetapi
dalang tak mengizinkannya, karena pertunjukkan pewayangan akan di mulai.
“Jangan mas, bisa kacau mas!” Kata dalang.
Dan dengan
bodohnya, Masut mengeluarkan belati dan menodongkan ke arah dalang. Dengan
penuh rasa takut bercampur kengerian, akhirnya dalang meminjamkan wayangnya ke
Masut. Dan Masut, di hadapan wanita itu, hanya terhalang oleh meja wayang.
Dengan rasa percaya dirinya, memainkan lakon “RAMA DAN SINTA”
Rama : Ayu
aku akan pergi ke medan perang, maukah kau menunggu aku pulang?
Sinta : kang
mas, aku akan menunggumu sampai kau pulang, tapi bagimana caranya aku tahu kau
selamat atau tidak
Rama :
selama aku pergi, kamu harus menjaga balai balai bambu itu, kalau aku selamat maka balai balai bambu
itu akan bersih dan tidak ada bercak bercak darah tapi apabila engkau mendapati
bercak bercak darah di balai balai bambu itu berarti aku tidak selamat. Aku
pergi!
Rama :
selama di medan perang aku menemukan kebenaran, aku baru tahu kalau sebenarnya
yang salah adalah raja, dan mereka menjamuku seperti tamu dari jauh, tapi
alangkah pedih hati ini ketika aku pulang dan menemukan engkau bersiap berakad!
Wanita itu terdiam, dan mengingat
semua perkataan Masut persis sekali seperti di lakon pewayangan itu. Dan saat
akad nikah berlangsung, wanita itu berlari ke arah balai bambu. Dan anehnya,
tidak ada bercak darah setetes-pun di atas balai bambu itu,.
Dengan serta
merta, wanita itu menghampiri dalang, dan di saat bersamaan itu pula Masut
berdiri. Wanita itu menyesali segala perbuatannya. Di selingi sebuah pelukan
kerinduan dan berkata dalam diam bahwa ia mencintai Masut dengan setulus
hatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar