Rabu, 15 Oktober 2014

KISAH ANAK SANG BROMOCORAH



     Rasanya saya ingin menancapkan atau menggorok dengan pisau yang telah saya asah berpuluh-puluh kali ini, tepat ke jantung  dan leher ayah saya sendiri. Lelaki bodoh yang saya benci disaat saya berumur puluhan tahun ini. BROMOCORAH biasa orang memanggilnya, saya tak tahu mengapa semua orang memanggil sebutan itu kepada orang yang paling saya benci hingga saat ini dan anehnya mereka menyebut kata-kata itu disaat saya sedang melintas di hadapan mereka.

  Suatu ketika saya melintas di hadapan mereka dan mereka berbicara “Nah, ini dia nih anak si BROMOCORAH itu. Tampangnya saja yang sok alim padahal hatinya busuk sama seperti bapaknya, cuiiiihhhh persetan dengan tingkah lakumu yang berlagak seperti sang pencerah,” ujar para tetangga. Saya merasa ada kejanggalan yang membuat mengapa ayah saya di benci di lingkungan sekitar. 

 Sebut saja nama saya soerja, anak laki-laki pertama dan terakhir dari lelaki bodoh dan wanita yang saya cintai. Seorang pekerja karyawan swasta, untuk salah satu perusahaan di Jakarta. Namun ini bukan cerita tentang pekerjaan saya, melainkan cerita akan bagaimana perlakuan khalayak ramai terhadap saya. Saya yang merupakan keturunan dari seorang BROMOCORAH.

Banyak yang bilang ketika saya masih berumur belia ayah adalah orang yang paling disegani di kampung yang indah nan permai ini. Namun, mayoritas masyarakatnya adalah penganggur, sebab di kampung yang indah nan permai ini semua ada, jadi pikir mereka untuk apa mereka berkerja ? semua ada disini, dari bermain kartu yang menghasilkan uang hingga jutaan rupiah, mengadu hewan ternak dan jika menang mendapat untung besar, penjualan barang illegal dan haram, yang efeknya merusak generasi bangsa, hingga teman ayah saya yang setiap malamnya mempunyai motor baru namun tidak ada ber-STNK, dan juga istri-istri mereka yang setiap hari juga mendapat tas baru beserta isinya.
 
Saya sangat takjub melihat teman-teman ayah bisa seperti itu, bahkan dahulu ayah  selain disegani, dia juga adalah orang yang paling kaya di kampung ini. Bahkan setiap kali ia melintas, ia selalu dipanggil dengan sebutan BOS!, Penafsiran saya mereka menybutnya seperti itu karena mereka selalu menyetor hasil kerja keras mereka kepada ayah saya “aahh sudah seperti mandor saja ayah saya ini,” pikir saya.



                                                          ****



Dahulu ketika saya berumur 7 tahun ayah sering sekali mengajak saya pergi liburan, tapi di setiap ayah melihat para pengabdi negara yang memakai seragam coklat, ayah saya pasti langsung mengumpat di balik pohon, di balik mobil, hingga ke toilet. Saya tak tahu mengapa ayah saya bertingkah aneh seperti itu. Dan suatu ketika, disaaat saya dan ayah saya pergi ke tempat wisata yang berada di Jakarta Utara, ayah saya terkejut melihat para pengabdi negara tersebut. 


Ayah lari secepat mungkin hingga menabrak semua yang menghalangi jalannya, dan aku hanya bisa tertawa melihat lelaki yang sudah cukup umur masih saja bermain petak umpat.Ketika para pengabdi negara sudah tak nampak di kerumunan tempat wisata yang saya kunjungi, ayah datang dengan gagahnya dan langsung membereskan rambutnya yang keriting itu.
“Haha, akhirnya para cecunguk kambing coklat itu kabur juga.”
“ayah hebat, ayah menang permainan petak umpat.”
“iya dooonngg, siapa dulu ? ayaaaahhhh, hehe.”
“tapi, kenapa ayah memanggilnya dengan sebutan kambing coklat ?”
“ya, karena dia memakai baju coklat dan tampangnya seperti kambing yang sedang menunggu giliran untuk dipotong. Sudahlah banyak tanya sekali, kamu ini masih kecil, jadi tidak usah banyak bertanya.”
“oh gitu ya yah, yasudahlah kalau begitu."


            Senja tiba tanpa terasa, akhirnya saya dan ayah bergegas meninggalkan tempat wisata di daerah Jakarta Utara tersebut. Sesampainya dirumah ayah langsung pergi lagi, tak tahu akan kemana lagi perginya lelaki yang saat itu masih saya cintai dan saya banggakan. Saya berniat mengikuti dia dan mencari tahu mau kemana dia di malam yang dingin dan gelap ini ?, tapi saya urungkan niat saya itu karena seluruh badan rasanya pegal semua dan juga saya takut kegelapan. Lagipula esok pagi saya harus melanjutkan aktivitas sekolah saya. Jadi untuk apa membututi ayah yang keluar malam. Mungkin ia hanya membeli rokok atau makanan. Karena dari tadi kulihat ia belum sama sekali menghisap satu batang rokok.


            Waktu terasa cepat berlalu dan akhirnya umur saya mencapai angka sepuluh.Dan disaat itu pula masa dimana saya baru mengenal hal-hal baru. Suatu ketika, pukul 3 dini hari ayah pulang dan saya terkejut melihat darah yang berlumuran di sekujur tubuhnya. “ayah kenapa ?, ujar saya sambil meneteskan air mata.
“Tidak nak, ayah tidak apa-apa dan ini hanya luka kecil, besok juga sembuh. Dan lebih baik kamu tidur lagi saja.”
“Tapi ayah berlumuran darah, sini biar kubersihkan.”
“Tidak usah, lebih baik kamu panggil ibumu dan suruh dia bawakan ayah seember air hangat.”


            Ibu keluar dari kamarnya dan membawakan seember air hangat, saya diharuskan masuk oleh ibu dan melanjutkan tidur karena nanti pagi saya harus melanjutkan pelajaran yang diberi pengajar minggu lalu. Tapi, tak tahu mengapa ayah seperti marah kepada ibu dan ibu menangis, dan hal itu pula yang membuat susah tidurku. Tapi sudahlah, saya harus sekolah nanti pagi.

            Ketika saya terbangun, saya langsung mandi dan siap berangkat ke sekolah. Namun seketika ibu menangis, saya tak tahu apa penyebabnya
“Ibu mengapa menangis ?”
“Tidak mengapa nak, sudah kamu berangkat sekolah sana.”
“Oh yasudah jika begitu, saya berangkat dulu ya bu. Assalamualaikum bu,” ucap saya sambil mencium tangan wanita yang melahirkan saya itu.
“Walaikumsalam, hati-hati ya nak.”


            Sesampainya di sekolah, tidak tahu mengapa orang tua dari teman-teman satu kelas saya itu terlihat sinis saat melihat saya. Aneh pikirku, mengapa semua orang tua teman saya melihat saya seperti itu? dosa apa yang saya perbuat? apa karena saya anak tidak mampu, jadi mereka semua memusuhi saya? perasaan saya kemarin baik-baik saja, apa yang telah terjadi?. Bel istirahat berbunyi dan semua teman menjauhi dan mencoba memusuhi saya.
“Hai, sudah lama kita tak main sepak bola bersama, boleh ikutan gak ?.”
“ehmmm, maaf ambil saja bolanya dan kami mau masuk ke kelas dulu, karena ada tugas yang menunggu.”


            Mengapa? ada apa dengan semua orang hari ini ?. Sesampainya dirumah ibu langsung memelukku dan menangis sambil berkata “Nak, berhentilah! tak usah kau sekolah lagi, karena ayahmu kini sudah tak kerja.” ujar ibu.
“Tapi mengapa bu? mengapa saya harus berhenti karena ayah sudah tak bekerja lagi ? saya kan bisa bersekolah sambil bekerja.”
“Sudah!,” Ibu membentak saya.
“Baiklah, kalau itu mau ibu dan ayah, saya akan mengikutinya.”


            Ternyata benar ayah sudah tak bekerja lagi. Tapi, kenapa dia berhenti bekerja ? bahkan, sampai saat ini saya tak tahu dia bekerja dimana dan sebagai apa. Apa jangan-jangan ayah seorang actor bintang film ? karena ketika bertemu kambing coklat dan warga sekitar ayah selalu kabur. Sudah 3 bulan Ayah belum pulang-pulang, kemana dia ? apa dia pergi untuk mencari pekerjaan baru ? senang rasanya jika dia mendapat pekerjaan baru. Jadi , saya bisa bersekolah lagi nantinya.


            Satu tahun berlalu begitu cepat dan ayah belum juga pulang akhirnya saya beranikan diri setelah satu tahun lamanya tak bertanya kepada ibu, “ Bu, ayah sebenarnya pergi kemana ? kenapa dia tidak pulang-pulang ? saya rindu bu dengan ayah.” Ucap saya sambil memegang erat tangan ibu.
“Dia sudah mati nak, jangan kamu sebut-sebut lagi lelaki brengsek seperti dia!.”
“apa!? Kapan bu ? kenapa ibu tak memberi tahu saya ?.”
“Sudah! Kamu ini masih kecil tak usah banyak bertanya!.”
“tapi bu? Saya rindu dengan ayah.”
“cukup! lebih baik kau ke pasar sana cari uang untuk biaya sekolahmu nanti.”
“tapi bu? ah, baiklah jika ibu tidak mau bercerita.” 


            Seiring waktu berlalu, akhirnya saya bisa melanjutkan sekolah dan lulus dari SMA. Saya berniat untuk melanjutkan pendidikan ke bangku universitas/institute/akademik, tapi apa daya keuangan saya dan ibu hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Dan sekarang saya sudah nyaman berkerja sebagai karyawan swasta, walaupun gajinya tak seperti yang saya harapkan dan jabatan yang tidak terlalu kubanggakan. Tetapi, saya senang dan nyaman sekali dengan pekerjaan yang saya lakoni saat ini. Dan sekarang umur saya mencapai puluhan lebih, tepatnya diatas 20 tahun, dan ayah belum terlihat sampai saat ini.


            Suatu ketika saya mencoba melantunkan adzan di tempat ibadah dekat rumah saya. Tetapi disaat adzan usai, para warga seperti tidak senang dengan adzan yang saya lantunkan. Saya berpikir apakah ada yang salah dengan lantunan adzan saya ?. Akhirnya seorang sang pencerah datang dan shalat-pun dimulai. Hanya ada saya dan seorang pencerah yang  menjalani shalat di siang hari itu. Selesai sholat saya pulang dan seketika para tetangga langsung menghardik saya dengan lantangnya “wooiiii, jangan sok alim lo! lo itu cuma sampah disini, bapak lo tuh BROMOCORAH, dan lo tuh gapantes untuk berada disini !.”


            Ya allah, ada apa ini ? kenapa semua orang menghardik saya ? apa yang salah dengan ayah saya ? bahkan sudah 10 tahun lebih saya tak berjumpa dengan ayah saya. Hari-hari saya lewati dan para tetangga selalu mencemooh saya tanpa ragu, tapi untuk apa saya menaggapi perkataan yang jelas-jelas saya tak ada buktinya. Toh, itu sama saja menghabiskan tenaga saja.


            Ketika shalat di malam hari usai seorang pencerah datang menghampiri saya dan berkata “Kamu tahu ayahmu sekarang ada dimana ?” ujar sang pencerah.
“Tidak tahu pak ustadz, memang pak ustadz tahu dimana dia?”.
“ehhhmm, memangnya ibu kamu tidak bercerita kepada kamu tentang kabar dimana ayahmu dan bagaimana keadaannya sekarang?.”
“ibu hanya berkata bahwa ayah saya sudah meninggal dunia pak ustadz, apa itu benar?.” Ucap saya sambil memelas berharap diberi tahu akan kebenaran yang ada.
Seketika sang pencerah hanya bisa berdiam diri dan menggelengkan kepala sambil berucap istigfar.
“pak, gimanaa? Apa bapak tahu? Saya mohooonn pak.”
“baiklah kalau kamu memaksa.”


            Akhirnya sang pencerah mengajak saya ke tempat dimana seseorang yang sudah meninggal akan di tempatkan disana. “pak, untuk apa kita kesini?.” Ucap saya dengan penuh kebingungan. Dan sang pencerah hanya berdiam diri dan terus melanjutkan perjalanan. Hingga tiba saatnya sang pencerah berhenti dan menunjuk batu nisan bertuliskan “HERU SOERJA HARAHAP.” Saya tercengang dan tak tahu harus berbuat apa, seketika sekujur badan merasa lemas tak berdaya. Ternyata benar yang ibu ucapkan, bahwa ayah sudah meninggal dunia.


                                                                   ****


            Tapi apa penyebabnya ? mengapa ayah bisa meninggal ? yang ku tahu terakhir aku melihatnya ketika berumur 10 tahun, seketika pagi tiba ayah berlumuran darah. Tapia pa penyebabnya?. Akhirnya sang pencerah bercerita tentang kejadian yang sebenarnya;

            Dulu, waktu berumur 10 tahun tepat pukul 3 dini hari, ayahmu di hakimi warga setempat karena gaya premanismenya yang tak bisa diubah dan malah makin menjadi-jadi, pada dini hari itu pula ayahmu lari kerumah dan bertemu kamu dan ketika kamu tertidur semua warga datang dan membawa ayahmu ke lapangan dekat pasar. Ibumu menangis dan memohon untuk melepaskan ayahmu agar tidak dihakimi warga setempat. Tapi, apa daya ayahmu tetap dibawa. Dan saat di lapangan ayahmu dan teman-temannya dihakimi warga setempat karena kelakuan ayahmu dan teman-temannya sudah tidak dimaafkan lagi. Dan kamu tahu apa yang mereka perbuat? mereka menusuk seorang pedagang di pasar sampai mati, karena tidak bisa membayar uang keamanan.
 Para warga tadinya tidak berani untuk balas dendam, dan ternyata seorang korban mempunyai saudara pengabdi negara yang berbaju hijau bercorak hitam. Sang pengabdi negara tersebut geram mendengar keluhan warga dan pada saat pukul 3 dini hari ayahmu dan teman-temannya sedang bermain kartu di tempat biasa mereka bermain. Para warga beserta pengabdi negara datang untuk menyergap ayahmu. Teman-teman ayahmu akhirnya tertangkap. Tetapi, tidak dengan ayahmu. Ayahmu berhasil kabur setelah di pukuli warga dan dihajar dengan bedil oleh sang pengabdi negara. Tapi disaat ia berada dirumah, para warga datang dan menangkap ayahmu itu. Niatnya ingin di bawa ke lapangan dekat pasar untuk dikumpulkan dengan teman-temanya. Dan setelah itu barulah dibawa ke pihak berwajib, tetapi di perjalanan menuju lapangan, ayahmu tidak henti-hentinya dipukuli oleh semua warga. Dan disaat itulah ayamu meninggal dunia.


            Dan dari cerita sang pencerah ini, barulah mata saya terbuka. Mengapa tak dari dulu saja dia kubunuh dengan pisau yang sudah kuasah tajam ini dan dengan tangan saya sendiri. Mengapa pula harus dengan tangan orang lain ? lelaki bodoh yang setiap harinya bertengkar dengan ibu dan setiap pulang mulutnya bau minuman beralkohol. Kenapa tidak dengan tangan saya sendiri ya tuhan….
           
Rasa sesal saya ungkapkan padamu tuhan karena saya terlahir sebagai anak SANG BROMOCORAH


                                                                                    NICKO PRATAMA SUHENDAR
                                                                                    Kartini, 11-Oktober-2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar