Rasanya saya ingin menancapkan atau menggorok dengan pisau
yang telah saya asah berpuluh-puluh kali ini, tepat ke jantung dan leher ayah saya sendiri. Lelaki bodoh yang
saya benci disaat saya berumur puluhan tahun ini. BROMOCORAH biasa orang
memanggilnya, saya tak tahu mengapa semua orang memanggil sebutan itu kepada
orang yang paling saya benci hingga saat ini dan anehnya mereka menyebut
kata-kata itu disaat saya sedang melintas di hadapan mereka.
Suatu ketika saya melintas
di hadapan mereka dan mereka berbicara “Nah, ini dia nih anak si BROMOCORAH
itu. Tampangnya saja yang sok alim padahal hatinya busuk sama seperti bapaknya,
cuiiiihhhh persetan dengan tingkah lakumu yang berlagak seperti sang pencerah,”
ujar para tetangga. Saya merasa ada kejanggalan yang membuat mengapa ayah saya di
benci di lingkungan sekitar.
Sebut saja nama saya soerja, anak laki-laki pertama dan
terakhir dari lelaki bodoh dan wanita yang saya cintai. Seorang pekerja
karyawan swasta, untuk salah satu perusahaan di Jakarta. Namun ini bukan cerita
tentang pekerjaan saya, melainkan cerita akan bagaimana perlakuan khalayak
ramai terhadap saya. Saya yang merupakan keturunan dari seorang BROMOCORAH.
Banyak yang bilang ketika saya masih berumur belia ayah adalah orang yang
paling disegani di kampung yang indah nan permai ini. Namun, mayoritas
masyarakatnya adalah penganggur, sebab di kampung yang indah nan permai
ini semua ada, jadi pikir mereka untuk apa mereka berkerja ? semua ada disini,
dari bermain kartu yang menghasilkan uang hingga jutaan rupiah, mengadu hewan
ternak dan jika menang mendapat untung besar, penjualan barang illegal dan
haram, yang efeknya merusak generasi bangsa, hingga teman ayah saya yang setiap
malamnya mempunyai motor baru namun tidak ada ber-STNK, dan juga istri-istri
mereka yang setiap hari juga mendapat tas baru beserta isinya.
Saya sangat takjub melihat teman-teman ayah bisa seperti itu,
bahkan dahulu ayah selain disegani, dia
juga adalah orang yang paling kaya di kampung ini. Bahkan setiap kali ia
melintas, ia selalu dipanggil dengan sebutan BOS!, Penafsiran saya mereka
menybutnya seperti itu karena mereka selalu menyetor hasil kerja keras mereka
kepada ayah saya “aahh sudah seperti mandor saja ayah saya ini,” pikir saya.
****
Dahulu ketika saya berumur 7 tahun ayah sering sekali
mengajak saya pergi liburan, tapi di setiap ayah melihat para pengabdi negara
yang memakai seragam coklat, ayah saya pasti langsung mengumpat di balik pohon,
di balik mobil, hingga ke toilet. Saya tak tahu mengapa ayah saya bertingkah
aneh seperti itu. Dan suatu ketika, disaaat saya dan ayah saya pergi ke tempat
wisata yang berada di Jakarta Utara, ayah saya terkejut melihat para pengabdi
negara tersebut.
Ayah lari secepat mungkin hingga menabrak semua yang
menghalangi jalannya, dan aku hanya bisa tertawa melihat lelaki yang sudah
cukup umur masih saja bermain petak umpat.Ketika para pengabdi negara sudah tak
nampak di kerumunan tempat wisata yang saya kunjungi, ayah datang dengan gagahnya
dan langsung membereskan rambutnya yang keriting itu.
“Haha,
akhirnya para cecunguk kambing coklat itu kabur juga.”
“ayah hebat,
ayah menang permainan petak umpat.”
“iya
dooonngg, siapa dulu ? ayaaaahhhh, hehe.”
“tapi,
kenapa ayah memanggilnya dengan sebutan kambing coklat ?”
“ya, karena
dia memakai baju coklat dan tampangnya seperti kambing yang sedang menunggu
giliran untuk dipotong. Sudahlah banyak tanya sekali, kamu ini masih kecil,
jadi tidak usah banyak bertanya.”
“oh gitu ya
yah, yasudahlah kalau begitu."
Senja tiba tanpa terasa, akhirnya
saya dan ayah bergegas meninggalkan tempat wisata di daerah Jakarta Utara
tersebut. Sesampainya dirumah ayah langsung pergi lagi, tak tahu akan kemana lagi
perginya lelaki yang saat itu masih saya cintai dan saya banggakan. Saya
berniat mengikuti dia dan mencari tahu mau kemana dia di malam yang dingin dan
gelap ini ?, tapi saya urungkan niat saya itu karena seluruh badan rasanya
pegal semua dan juga saya takut kegelapan. Lagipula esok pagi saya harus
melanjutkan aktivitas sekolah saya. Jadi untuk apa membututi ayah yang keluar
malam. Mungkin ia hanya membeli rokok atau makanan. Karena dari tadi kulihat ia
belum sama sekali menghisap satu batang rokok.
Waktu terasa cepat berlalu dan
akhirnya umur saya mencapai angka sepuluh.Dan disaat itu pula masa dimana saya
baru mengenal hal-hal baru. Suatu ketika, pukul 3 dini hari ayah pulang dan
saya terkejut melihat darah yang berlumuran di sekujur tubuhnya. “ayah kenapa
?, ujar saya sambil meneteskan air mata.
“Tidak nak,
ayah tidak apa-apa dan ini hanya luka kecil, besok juga sembuh. Dan lebih baik
kamu tidur lagi saja.”
“Tapi ayah
berlumuran darah, sini biar kubersihkan.”
“Tidak usah,
lebih baik kamu panggil ibumu dan suruh dia bawakan ayah seember air hangat.”
Ibu keluar dari kamarnya dan
membawakan seember air hangat, saya diharuskan masuk oleh ibu dan melanjutkan
tidur karena nanti pagi saya harus melanjutkan pelajaran yang diberi pengajar
minggu lalu. Tapi, tak tahu mengapa ayah seperti marah kepada ibu dan ibu
menangis, dan hal itu pula yang membuat susah tidurku. Tapi sudahlah, saya
harus sekolah nanti pagi.
Ketika saya terbangun, saya langsung
mandi dan siap berangkat ke sekolah. Namun seketika ibu menangis, saya tak tahu
apa penyebabnya
“Ibu mengapa
menangis ?”
“Tidak
mengapa nak, sudah kamu berangkat sekolah sana.”
“Oh yasudah
jika begitu, saya berangkat dulu ya bu. Assalamualaikum bu,” ucap saya sambil
mencium tangan wanita yang melahirkan saya itu.
“Walaikumsalam,
hati-hati ya nak.”
Sesampainya di sekolah, tidak tahu
mengapa orang tua dari teman-teman satu kelas saya itu terlihat sinis saat
melihat saya. Aneh pikirku, mengapa semua orang tua teman saya melihat saya
seperti itu? dosa apa yang saya perbuat? apa karena saya anak tidak mampu, jadi
mereka semua memusuhi saya? perasaan saya kemarin baik-baik saja, apa yang
telah terjadi?. Bel istirahat berbunyi dan semua teman menjauhi dan mencoba
memusuhi saya.
“Hai, sudah
lama kita tak main sepak bola bersama, boleh ikutan gak ?.”
“ehmmm, maaf
ambil saja bolanya dan kami mau masuk ke kelas dulu, karena ada tugas yang
menunggu.”
Mengapa? ada apa dengan semua orang
hari ini ?. Sesampainya dirumah ibu langsung memelukku dan menangis sambil
berkata “Nak, berhentilah! tak usah kau sekolah lagi, karena ayahmu kini sudah
tak kerja.” ujar ibu.
“Tapi
mengapa bu? mengapa saya harus berhenti karena ayah sudah tak bekerja lagi ?
saya kan bisa bersekolah sambil bekerja.”
“Sudah!,”
Ibu membentak saya.
“Baiklah,
kalau itu mau ibu dan ayah, saya akan mengikutinya.”
Ternyata benar ayah sudah tak
bekerja lagi. Tapi, kenapa dia berhenti bekerja ? bahkan, sampai saat ini saya
tak tahu dia bekerja dimana dan sebagai apa. Apa jangan-jangan ayah seorang
actor bintang film ? karena ketika bertemu kambing coklat dan warga sekitar
ayah selalu kabur. Sudah 3 bulan Ayah belum pulang-pulang, kemana dia ? apa dia
pergi untuk mencari pekerjaan baru ? senang rasanya jika dia mendapat pekerjaan
baru. Jadi , saya bisa bersekolah lagi nantinya.
Satu tahun berlalu begitu cepat dan
ayah belum juga pulang akhirnya saya beranikan diri setelah satu tahun lamanya
tak bertanya kepada ibu, “ Bu, ayah sebenarnya pergi kemana ? kenapa dia tidak
pulang-pulang ? saya rindu bu dengan ayah.” Ucap saya sambil memegang erat
tangan ibu.
“Dia sudah
mati nak, jangan kamu sebut-sebut lagi lelaki brengsek seperti dia!.”
“apa!? Kapan
bu ? kenapa ibu tak memberi tahu saya ?.”
“Sudah! Kamu
ini masih kecil tak usah banyak bertanya!.”
“tapi bu?
Saya rindu dengan ayah.”
“cukup!
lebih baik kau ke pasar sana cari uang untuk biaya sekolahmu nanti.”
“tapi bu? ah,
baiklah jika ibu tidak mau bercerita.”
Seiring waktu berlalu, akhirnya saya
bisa melanjutkan sekolah dan lulus dari SMA. Saya berniat untuk melanjutkan
pendidikan ke bangku universitas/institute/akademik, tapi apa daya keuangan
saya dan ibu hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Dan sekarang saya sudah
nyaman berkerja sebagai karyawan swasta, walaupun gajinya tak seperti yang saya
harapkan dan jabatan yang tidak terlalu kubanggakan. Tetapi, saya senang dan nyaman
sekali dengan pekerjaan yang saya lakoni saat ini. Dan sekarang umur saya
mencapai puluhan lebih, tepatnya diatas 20 tahun, dan ayah belum terlihat
sampai saat ini.
Suatu ketika saya mencoba
melantunkan adzan di tempat ibadah dekat rumah saya. Tetapi disaat adzan usai,
para warga seperti tidak senang dengan adzan yang saya lantunkan. Saya berpikir
apakah ada yang salah dengan lantunan adzan saya ?. Akhirnya seorang sang
pencerah datang dan shalat-pun dimulai. Hanya ada saya dan seorang pencerah
yang menjalani shalat di siang hari itu.
Selesai sholat saya pulang dan seketika para tetangga langsung menghardik saya
dengan lantangnya “wooiiii, jangan sok alim lo! lo itu cuma sampah disini,
bapak lo tuh BROMOCORAH, dan lo tuh gapantes untuk berada disini !.”
Ya allah, ada apa ini ? kenapa semua
orang menghardik saya ? apa yang salah dengan ayah saya ? bahkan sudah 10 tahun
lebih saya tak berjumpa dengan ayah saya. Hari-hari saya lewati dan para
tetangga selalu mencemooh saya tanpa ragu, tapi untuk apa saya menaggapi
perkataan yang jelas-jelas saya tak ada buktinya. Toh, itu sama saja
menghabiskan tenaga saja.
Ketika shalat di malam hari usai
seorang pencerah datang menghampiri saya dan berkata “Kamu tahu ayahmu sekarang
ada dimana ?” ujar sang pencerah.
“Tidak tahu
pak ustadz, memang pak ustadz tahu dimana dia?”.
“ehhhmm,
memangnya ibu kamu tidak bercerita kepada kamu tentang kabar dimana ayahmu dan
bagaimana keadaannya sekarang?.”
“ibu hanya
berkata bahwa ayah saya sudah meninggal dunia pak ustadz, apa itu benar?.” Ucap
saya sambil memelas berharap diberi tahu akan kebenaran yang ada.
Seketika
sang pencerah hanya bisa berdiam diri dan menggelengkan kepala sambil berucap
istigfar.
“pak,
gimanaa? Apa bapak tahu? Saya mohooonn pak.”
“baiklah
kalau kamu memaksa.”
Akhirnya sang pencerah mengajak saya
ke tempat dimana seseorang yang sudah meninggal akan di tempatkan disana. “pak,
untuk apa kita kesini?.” Ucap saya dengan penuh kebingungan. Dan sang pencerah
hanya berdiam diri dan terus melanjutkan perjalanan. Hingga tiba saatnya sang
pencerah berhenti dan menunjuk batu nisan bertuliskan “HERU SOERJA HARAHAP.”
Saya tercengang dan tak tahu harus berbuat apa, seketika sekujur badan merasa
lemas tak berdaya. Ternyata benar yang ibu ucapkan, bahwa ayah sudah meninggal
dunia.
****
Tapi apa penyebabnya ? mengapa ayah
bisa meninggal ? yang ku tahu terakhir aku melihatnya ketika berumur 10 tahun, seketika
pagi tiba ayah berlumuran darah. Tapia pa penyebabnya?. Akhirnya sang pencerah
bercerita tentang kejadian yang sebenarnya;
Dulu, waktu berumur 10 tahun tepat
pukul 3 dini hari, ayahmu di hakimi warga setempat karena gaya premanismenya
yang tak bisa diubah dan malah makin menjadi-jadi, pada dini hari itu pula
ayahmu lari kerumah dan bertemu kamu dan ketika kamu tertidur semua warga
datang dan membawa ayahmu ke lapangan dekat pasar. Ibumu menangis dan memohon
untuk melepaskan ayahmu agar tidak dihakimi warga setempat. Tapi, apa daya
ayahmu tetap dibawa. Dan saat di lapangan ayahmu dan teman-temannya dihakimi
warga setempat karena kelakuan ayahmu dan teman-temannya sudah tidak dimaafkan
lagi. Dan kamu tahu apa yang mereka perbuat? mereka menusuk seorang pedagang di
pasar sampai mati, karena tidak bisa membayar uang keamanan.
Para warga tadinya tidak berani untuk balas
dendam, dan ternyata seorang korban mempunyai saudara pengabdi negara yang
berbaju hijau bercorak hitam. Sang pengabdi negara tersebut geram mendengar
keluhan warga dan pada saat pukul 3 dini hari ayahmu dan teman-temannya sedang
bermain kartu di tempat biasa mereka bermain. Para warga beserta pengabdi
negara datang untuk menyergap ayahmu. Teman-teman ayahmu akhirnya tertangkap.
Tetapi, tidak dengan ayahmu. Ayahmu berhasil kabur setelah di pukuli warga dan
dihajar dengan bedil oleh sang pengabdi negara. Tapi disaat ia berada dirumah,
para warga datang dan menangkap ayahmu itu. Niatnya ingin di bawa ke lapangan
dekat pasar untuk dikumpulkan dengan teman-temanya. Dan setelah itu barulah
dibawa ke pihak berwajib, tetapi di perjalanan menuju lapangan, ayahmu tidak
henti-hentinya dipukuli oleh semua warga. Dan disaat itulah ayamu meninggal
dunia.
Dan dari cerita sang pencerah ini,
barulah mata saya terbuka. Mengapa tak dari dulu saja dia kubunuh dengan pisau
yang sudah kuasah tajam ini dan dengan tangan saya sendiri. Mengapa pula harus
dengan tangan orang lain ? lelaki bodoh yang setiap harinya bertengkar dengan
ibu dan setiap pulang mulutnya bau minuman beralkohol. Kenapa tidak dengan
tangan saya sendiri ya tuhan….
Rasa sesal saya ungkapkan padamu tuhan karena saya terlahir
sebagai anak SANG BROMOCORAH
NICKO PRATAMA SUHENDAR
Kartini,
11-Oktober-2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar